Kamis, Juni 04, 2009

MAJALAH YATIM EDISI JULI 2007

Profil
Reny Anggraini Ariyani
Memimpikan Punya Dua Toko

Sosok gadis yang satu ini, terlihat cukup anggun dengan memakai busana muslim dan berkerudung (berjilbab). Sesekali ia tersenyum saat kebetulan bertatap mata dengan orang-orang disekitarnya, menunjukkan kalau ia adalah gadis yang ramah dan sopan. Reny Anggraini Ariyani, begitu nama lengkap dara kelahiran Rembang, Jawa Tengah, pada 6 April 1987 ini. Meskipun terlihat masih ABG, tetapi didalam benaknya Reny A Ariyani adalah sosok yang kuat dan teguh pendiriannya. Mungkin itu akibat perjalanan hidupnya yang tidak mengenakkannya, yakni kedua orang tuanya telah ‘berpisah’ semenjak Reny A Ariyani masih berumur tiga tahun.

“Saya sedih sekali bila mengingat waktu orang tua saya memutuskan untuk bercerai. Walaupun saat itu saya masih belum mengerti arti perceraian itu, toh lambat laun akhirnya saya tahu juga. Apalagi jika waktu hari Raya Idul Fitri, dimana semua berkumpul bersama keluarga lengkap, artinya ada ayah dan ibu, sedangkan saya hanya ada ibu aja, sedih rasanya,” kenang gadis berkulit putih bersih ini kepada MAYA (30/5).

Setelah kejadian itu, sang ibu langsung membawanya ke Lamongan, Jawa Timur. Reny pun akhirnya meneruskan sekolahnya di Lamongan. Baru saat menginjak bangku Sekolah Menengah Atas, Reny bertemu saudaranya yang tinggal di Surabaya. Dari pertemuan itu, Reny Anggraini Ariyani ditawari untuk melanjutkan sekolahnya di Surabaya. “Saya langsung tertarik dengan tawaran saudara saya itu. Cukup lama saya memikirkan masak-masak untuk meneruskan sekolah di Surabaya. Karena, bisa dibilang saya termasuk golongan anak rumahan, karena jarang bergaul dengan lingkungan diluar rumah,” ujarnya. Tetapi akhirnya Reny A Ariyani tersadar, kalau ia tidak mungkin hidup bergantung kepada sang ibu atau saudaranya.

Dalam benak Reny A Ariyani, ia harus bisa hidup mandiri, menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk bekal dimasa depan. “Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Surabaya mencari ilmu dan mengembangkan diri saya, karena kalau dirumah terus, saya tidak akan bisa berkembang,” tekad Reny Anggraini Ariyani. Ketika sampai di Surabaya, ia lantas dititipkan saudaranya ke Panti Asuhan Darul Hikmah, guna belajar dan memperdalam agama Islam. Sejak saat itu, Reny ditempa dengan berbagai pelajaran dan pemahaman agama Islam di Panti Asuhan darul Hikmah tersebut.

Meskipun hanya beberapa tahun tinggal di panti tersebut, tetapi semua ajaran agama diserapnya dengan baik. Singkat cerita, saat ia mulai menamatkan sekolah menengah tingkat atas, dalam hatinya pun terbersit keinginan untuk melanjutkan kebangku kuliah. Tetapi sayang, keinginan tersebut terbentur oleh biaya, mengingat Panti Asuhan Darul Hikmah tidak mempunyai biaya untuk mengkuliahkan Reny. Ditambah lagi, sang ibu yang masih tinggal di Lamongan juga tidak mampu menyekolahkannya lagi, Reny pun harus merelakan untuk mengubur keinginannya tersebut.

Tahu tekad besar Reny Anggraini Ariyani untuk menuntut ilmu, pihak Panti Asuhan Darul Hikmah pun memberikan saran padanya untuk meminta bantuan ke YP3IS. “Karena, menurut pengasuh panti darul Hikmah, YP3IS punya program bantuan untuk anak asuh. Dan tak lama kemudian, saya mendapat kabar kalau YP3IS mau membantu saya untuk mengembangkan bakat anak seperti meneruskan kuliah dan memberikan keterampilan kepada anak asuhnya,” kata Reny A Ariyani. Ketika telah masuk pusdiklat YP3IS, Reny A Ariyani mengira kalau semua biaya sekolah dan biaya hidup, adalah tanggungan YP3IS. Serta menganggap pusdiklat, adalah semacam seminar.

Tetapi perkiraannya tersebut meleset, pasalnya, pusdiklat bukan semacam seminar. Di pusdiklat banyak diajarkan berbagai macam keterampilan. Sedangkan untuk biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari yang ditanggung YP3IS adalah anak asuh yang tinggal diasrama pusdiklat. Sedangkan anak asuh yang tinggal diluar asrama pusdiklat, hanya ditanggung biaya sekolahnya saja, untuk biaya transport dan hidup sehari-hari tidak ditanggung YP3IS. Dan hebatnya lagi, semua hal itu lantas tidak membuatnya turun semangat, Reny malah menganggapnya sebagai awal menuju kemandirian.

“Banyak yang didapat dari pusdiklat, kita bisa mandiri, terus bisa mengembangkan bakat kita, yakni bakat bekerja dan bakat ilmu. Soalnya disini, setiap satu bulan diadakan pertemuan pelatihan. Nah dipertemuan pelatihan itu kita bisa nambah ilmu, bisa nambah wawasan, pengalaman dan juga menambah tali persaudaraan dengan teman-teman di pusdiklat,” jelas Reny yang masuk pusdiklat sejak tahun 2006 ini.

Dari seringnya ia berinteraksi dengan teman-teman di pusdiklat itulah, muncul peluang bisnis di dalam pikiran gadis ini. “Saya sendiri awalnya tidak menyangka kalau teman-teman di pusdiklat suka dengan kerudung dan busana muslim yang saya pakai saat di pusdiklat. Karena respon teman-teman yang bagus, akhirnya saya berniat untuk berjualan kerudung dan busana muslim,” kata Reny Anggraini Ariyani.

“Saya tertarik usaha menjual kerudung dan busana muslim karena, begini lho, sebagai umat Islam khan harus membudayakan memakai kerudung bagi yang perempuan. Nah dengan berkerudung yang mempunyai motif yang beraneka ragam dan terlihat lebih menarik, orang akan senang dan tidak merasa terpaksa untuk memakainya. Dan juga supaya tidak tertarik dengan budaya-budaya ‘barat’ yang negatif,” lanjutnya.

Lambat laun, usaha ‘sampingan’ tersebut cukup berhasil, meskipun mayoritas pembelinya adalah teman-teman pusdiklat dan beberapa temannya yang lain. Berangkat dari situlah, dari pekerjaan ‘sampingan’ meningkat untuk berusaha menekuni berjualan kerudung dan busana muslim tersebut. Reny A Ariyani pun mencoba mengajukan bantuan modal usaha menjual kerudung dan busana muslim ke YP3IS.

“Doakan saya, semoga bantuan modal usaha dari YP3IS bisa disetujui,” harapnya. Sebagai seorang gadis yang mulai tumbuh dewasa ini, Reny A Ariyani, ternyata sejak kecil mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Pasalnya, sosok guru dimata Reny adalah sebuah pengabdian yang mulia. “Selain itu, seorang guru itu setiap hari dituntut untuk terus belajar dan harus mempunyai pengetahuan yang luas untuk perkembangan setiap anak didiknya,” kata Reny.

Toh kalau pun tidak menjadi guru, Reny A Ariyani mempunyai impian yang lainnya, yakni ingin mempunyai dua toko sekaligus. “Toko yang satu, khusus menjual kerudung dan busana muslim. Sedangkan toko yang satu lagi untuk berjualan alat-alat tulis, sabun dan lain-lainnya. Jadi saya mohon, doakan saya ya,” pintanya. (bam)


Kisah

Ruslan Efendi

Bercita-cita Jadi Juru Dakwah

Penampilannya yang kalem dengan tutur kata yang sopan, itulah yang tersirat pada dirinya saat ditemui MAYA di Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Manshur As-Salafiy, di Kediri, Jawa Timur, Selasa (5/6) lalu. Meskipun terkesan sedikit malu, tapi toh, ia bersedia menceritakan semua masa lalunya hingga saat ini kepada MAYA. Ruslan Efendi, itulah nama anak ini yang lahir di Lombok pada 9 Desember 1993. Ketika Ruslan masih balita, bapaknya yang bernama Asnasim meninggal dunia karena sakit, sedangkan sang ibu yang bernama Harniah sampai saat ini masih tinggal di Lombok.

“Aku waktu bapak meninggal dunia masih belum mengerti, karena saat itu aku masih kecil,” ujar Ruslan Efendi kepada MAYA. Tetapi, lambat laun ketika Ruslan menginjak bangku sekolah, akhirnya ia mengerti juga kalau sang bapak tercintanya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Saat pertama kali tahu kalau sang bapak telah meninggal dunia dari cerita ibunya, hati Ruslan Efendi sangat terpukul, walau ia masih menginjak bangku sekolah dasar.

“Dada ini terasa sesak, ketika ibu menceritakan bapak telah tiada. Saat itu juga aku langsung mengurung diri di kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya,” kenang anak kedua dari dua bersaudara ini.

Bahkan, karena merasa kehilangan sang bapak, Ruslan sampai betah tidak keluar kamar sampai berhari-hari. Kalau mau makan, sang ibu yang membawa makanan untuknya ke kamar. Sekolahpun, juga ia tinggalkan selama beberapa hari. Tetapi lama-kelamaan, setelah rasa sedih itu berangsur-angsur hilang, Ruslan pun mulai bisa menerima cobaan dari Allah yang menurutnya sangat berat itu. “Setelah mengurung diri beberapa hari dikamar, aku mulai bisa mengerti dan rela kalau bapak telah meninggalkanku selama-lamanya. Dalam benakku, aku harus tetap melanjutkan hidupku. Tidak mungkin aku terus-menerus bersedih, toh hal itu tidak akan ada gunanya,” kata Ruslan Efendi dengan kepala tertunduk.

Singkat cerita, saat Ruslan mulai menginjak kelas tiga Sekolah Dasar, ia bertemu dengan seorang ustadz yang kebetulan sedang berkunjung ke kampungnya di Lombok. Ruslan pun ditawari untuk diajak ustadz yang bernama Isro’ itu belajar dan memperdalam agama Islam di Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Manshur As-Salafiy di Kediri. Karena demi masa depan sang anak untuk bisa menuntut ilmu setinggi-tingginya, ibunya merelakan Ruslan Efendi untuk ikut Ustadz Isro’ ke pondok pesantren tersebut.

“Aku sempat menangis sedih saat untuk yang terakhir kalinya melihat ibu, sebelum berangkat ke Kediri. Selain aku, kakakku juga ikut Ustadz Isro’ untuk memperdalam agama Islam,” paparnya. Setelah menempuh perjalanan laut dan darat yang sangat melelahkan, karena baru pertama kali Ruslan bepergian jauh dari rumahnya, sampailah ia di Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Manshur As-Salafiy, di Kediri. Awalnya memang agak canggung ketika harus memaksakan melihat hal-hal yang masih baru bagi Ruslan Efendi, saat tiba di pondok pesantren tersebut.

Dengan teman-teman baru, lingkungan baru, peraturan baru dan lain-lainnya yang serba baru, wajar kalau ia sedikit kesulitan beradaptasi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena berkat tuntunan dari pengasuh Pondok Pesantren Islam Terpadu Al-Manshur As-Salafiy, serta tekad besarnya untuk belajar memperdalam agama Islam, memudahkannya dalam ‘bergaul’ dengan para penghuni pondok pesantren tersebut.

“Memang aku sempat kaget ketika pertama kali sampai di pondok ini, tetapi itu tidak berlangsung lama. Aku bertekat untuk menimba ilmu sebanyak-banyak, agar kelak bisa menjadi orang yang berhasil,” tekadnya. Ruslan Efendi pun mulai saat itu tekun belajar membaca Al-Quran dan pelajaran umum. Hingga tidak heran kalau saat ini, Ruslan Efendi telah menginjak kelas tiga sekolah menengah pertama, ia bisa menghafal Al-Quran sampai sembilan Juz. “Aku biasanya membaca Al-Quran sebelum dan setelah sholat wajib, ditambah lagi jika ada waktu luang atau saat istirahat, pasti aku gunakan untuk membaca Al-Quran,” tandas Ruslan Efendi dengan bangganya.

Ketika jam menunjukkan pukul 02.30, Ruslan sudah mulai bangun dan membaca Al-Quran sampai adzan sholat Subuh berkumandang. Setelah menunaikan sholat Subuh, ia lanjutkan lagi membaca Al-Quran sampai jam 05.00, dan langsung menyiapkan segala sesuatunya untuk sekolah. Aktifitas ini ia lakukan sejak duduk disekolah dasar hingga kelas tiga sekolah menengah pertama. Karena ketekunannya belajar dan memperdalam ajaran agama Islam di Pondok Pesantren Al-Manshur As-Salafiy, membuat Ruslan Efendi bercita-cita menjadi seorang juru dakwah. “Karena menjadi juru dakwah itu banyak pahalanya,” ujarnya singkat. (bam)


Kebersamaan

Beramal Itu Jangan Setengah-setengah

Berbuat amal demi kebaikkan itu hendaklah tidak setengah-setengah, karena dengan beramal dapat dipastikan kita akan mendapat pahala dari Allah. Seperti yang dilakukan karyawan CV Sinar Baja Electric II, Jalan Rame Pilang Km 8, Sidoarjo, mereka mempunyai komitmen tinggi untuk membantu anak yatim. Menurut Putri Rahayu, yang dipercaya rekan kerjanya di CV Sinar Baja Electric II sebagai koordinator donatur diperusahaan tersebut, awal mula masuknya YP3IS langsung direspon positif oleh rekan sekantornya.

“Bermula dari tawaran rekan kerja saya, yakni Anna yang sudah menjadi donatur terlebih dahulu, menawari untuk ikut menjadi donatur di YP3IS. Setelah dijelaskan tentang YP3IS, ia lantas memberikan Majalah Yatim untuk saya baca,” kenang gadis kelahiran Surabaya pada 25 April 1979 ini kepada MAYA, Sabtu (9/6). Setelah membaca dan mengerti tentang YP3IS dan ditambah lagi dengan penjelasan karyawan YP3IS yang kebetulan saat itu menyerahkan proposal untuk menjadi donatur di perusahaan tersebut, Putri Rahayu semakin mantap untuk ikut bergabung menjadi donatur.

“Setelah bergabung, saya langsung menawari rekan kerja satu ruangan untuk ikut juga bergabung menjadi donatur di YP3IS. Dan Alhamdulillah, langsung ada lima teman saya yang mau ikut,” ujar karyawan CV Sinar Baja Electric II, dibagian Engineering Specs Asst SPV ini. Dari situlah akhirnya Putri Rahayu mulai ‘bergerak’ mengajak rekan-rekan sekantor yang lainnya untuk ikutan menyumbang anak yatim melalui YP3IS. Dan memang, untuk urusan beramal, karyawan CV Sinar Baja Electric II ini tidak setengah-setengah.

“Mungkin, rekan-rekan disini itu mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan sangat peduli terhadap nasib anak-anak yatim. Saya jadi bangga dengan mereka,” kata Putri Rahayu sambil meminta MAYA untuk didoakan agar bisa menikah tahun ini juga. Pasalnya, hanya diajak lewat omongan saja mereka pun akhirnya langsung bersedia untuk menjadi donatur di YP3IS. “Menariknya, biasanya khan saya selalu meletakkan Majalah Yatim diatas meja kerja saya, lalu datang beberapa teman di bagian produksi menemui saya untuk urusan pekerjaan. Setelah urusan itu selesai, mereka lantas tertarik untuk membaca Majalah Yatim,” tandasnya. “Dan syukur Alhamdulillah, mereka secara spontan ingin ikut bergabung menjadi donatur di YP3IS,” lanjutnya.

Jadi tidak heran, jika lambat laun jumlah donatur di CV Sinar Baja Electric II, semakin bertambah. Dari awalnya yang berjumlah lima orang pada tahun 2006, dan hingga saat ini sudah tercatat sekitar tiga puluh lima orang yang menjadi donatur tetap di YP3IS. (bam)

Berkah

Dimudahkan Mendapat Rumah

Sebagai seorang muslim dituntut untuk ikut peduli dan menyantuni anak-anak yatim. Seperti yang dilakukan oleh Nurul Hidayat, yang bekerja di PT Jasuindo Tiga Perkasa, terletak di Jalan Raya Betro no 21, Sedati, Sidoarjo. Awalnya ia belum tahu banyak tentang YP3IS, padahal sudah sejak lama ia mencari sebuah lembaga atau yayasan yang hanya fokus menangani anak yatim. “Tetapi suatu ketika, saat duduk-duduk diruangan kerja saya sebagai Kepala Keamanan di PT Jasuindo Tiga Perkasa, tepatnya di pos satpam, ada orang YP3IS datang menawarkan proposal untuk ikut menjadi donatur,” kenang Nurul Hidayat ketika ditemui MAYA diruangan kerjanya.

“Ketika orang tersebut berkata dari sebuah yayasan yang fokus menangani anak yatim, saya langsung mengajaknya masuk ruangan saya untuk menjelaskan tentang YP3IS,” lanjut pria kelahiran 10 Oktober 1967. Begitu tahu banyak tentang YP3IS, ia pun semakin mantap kalau yayasan tersebut adalah yang dicari-carinya selama ini. Nurul Hidayat pun lantas mencoba menawarkan ke anggotanya (satpam) ikut peduli tentang nasib anak yatim dengan jalan menjadi donatur di YP3IS.

“Dan syukur Alhamdulillah, ajakan saya itu direspon positif oleh beberapa anggota saya. Sehingga beberapa anggota saya langsung ikut bergabung menjadi donatur di YP3IS,” papar bapak tiga anak ini. Tak hanya sampai disitu, Nurul Hidayat juga menawarkan kepada rekan-rekannya yang lain di PT Jasuindo Tiga Perkasa, yakni dibagian staff, para sopir sampai bagian produksi. Lagi-lagi, ajakkan untuk menyantuni anak yatim itu juga direspon baik oleh rekannya. Sehingga saat itu, sudah tercatat 22 orang karyawan PT Jasuindo Tiga Perkasa yang ikut bergabung dengan YP3IS.

“Caranya saya menawarkan ya saat jam-jam istirahat mereka saya ajak ngobrol tentang pentingnya menyantuni dan ikut peduli dengan nasib anak yatim. Dan Alhamdulillah, sekarang sudah sekitar 48 orang karyawan sini yang tercatat menjadi donatur di YP3IS,” ujarnya. Menurut Nurul Hidayat, menyantuni anak yatim itu tidak perlu memikirkan besar kecilnya santunan yang diberikan. Yang penting dan perlu diingat, adalah keikhlasan dalam menyantuni anak yatim. “Saya berpikirnya begini saja, kita harus menyantuni anak yatim tetapi kondisi kita khan bukan orang kaya. Yang penting saya harus berbuat bagaimana saya bisa menyantuni anak yatim, tidak harus saya menunggu kaya terlebih dahulu baru ikut menyumbang,” kata Nurul Hidayat.

Tak hanya menjadi donatur, Nurul Hidayat juga tercatat sebagai OTA (Orang Tua Asuh) disebuah yayasan anak yatim. “Saya tertarik untuk ikut OTA ya begini, saya membayangkan anak saya, ketika ia mau sekolah dan minta uang SPP khan pasti minta ke orang tuanya. Nah sedangkan anak yatim yang ingin sekolah, minta biaya kepada siapa? Sehingga saya tertarik untuk menjadi OTA. Dari sekian banyak anak yatim yang ada, ya mungkin untuk saat ini saya dikasih rejeki oleh Allah untuk OTA baru satu anak ya. Berbuat saja pada anak yatim tanpa ada pamrih, kalau perlu tanpa diketahui yang saya sumbang atau yang saya bantu,” jelas Nurul Hidayat.

Ketika pertama kali menjadi OTA anak yatim, ia mempunyai rencana untuk menyekolahkan disebuah pondok pesantren bersama anak kandungnya, setelah anak tersebut lulus sekolah dasar. Tetapi Allah berkehendak lain, anak tersebut diambil dari yayasan oleh salah satu keluarganya. “Waktu itu saya sangat terpukul dan sedih sekali. Saya merasa kehilangan dengan anak itu. Lalu saya berdoa kepada Allah, kalau memang Allah menghendaki anak tersebut untuk diasuh keluarganya, ya saya akan mengikhlaskan. Dan tak lama kemudian, saya sudah mendapatkan anak asuh lagi yang lainnya,” paparnya.

Banyak berkah yang didapat dari menyantuni anak yatim. Seperti yang dialami oleh Nurul Hidayat, yang dahulu sebelum bergabung menjadi donatur di YP3IS, ia mengaku kesulitan untuk sekedar menabung. Tetapi sekarang, setelah ia aktif bergerak mengajak untuk ikut peduli terhadap anak yatim, Nurul Hidayat sudah bisa menabung lagi. “Tak hanya itu, ternyata Allah memberikan berkah yang lebih. Yakni, dengan mempermudahkan saya untuk mendapatkan sebuah rumah, syukur Alhamdulillah,” katanya.

Selain itu, dahulu Nurul Hidayat juga mengungkapkan kalau sering sakit kepala sampai berhari-hari lamanya untuk sembuh. Bahkan sakit perut bisa sampai berminggu-minggu baru sembuh. Tetapi setelah tercatat sebagai donatur, ia mulai jarang sakit yang sembuhnya memakan waktu lama. “Kalau sakit kepala, Alhamdulillah sekali minum obat, hilang sakitnya. Pokoknya hampir tidak pernah sakit sampai terlampau ‘keras’. Meskipun sakit ya wajar-wajar saja, langsung minum obat ya sembuh,” ujarnya. Untul itulah, Nurul Hidayat berpesan kepada sesama muslim untuk ikut peduli terhadap nasib anak yatim. (bam)

Kegiatan Cabang Kediri                                                                       
Mencetak Yatim Mandiri

Selasa (6/6), YP3IS Cabang Kediri melangsungkan tes masuk calon mahasiswa MEC (Mandiri Entrepreneur Center) Pusdiklat Yatim Mandiri tahun akademik 2007/2008, bertempat di kantor YP3IS Cabang Kediri. Tes tersebut diikuti 20 anak purna asuh dari enam panti asuhan dan non panti asuhan yang ada di kota Kediri. Dalam tes tersebut, tim pengujinya adalah Kepala YP3IS Cabang Kediri, Mudzakir SHI, dan Manager MEC, Syaifuddin.

“Sebenarnya yang ikut mendaftar jumlahnya ada 23 anak purna asuh. Tapi hingga tes dimulai, hanya 20 anak yang hadir untuk mengikuti tes tersebut,” ujar Mudzakir SHI. Materi tes masuk Mandiri Entrepreneur Center itu meliputi tes baca Al-Quran dan wawancara langsung.

Setelah melewati seleksi yang ketat dari tim MEC, akhirnya pada Jumat, 8 Juni 2007, diputuskan 14 anak lulus, 3 anak masuk cadangan dan 3 anak dinyatakan tidak lulus. Dan bagi peserta yang lolos seleksi, berhak mengikuti perkuliahan di Mandiri Entrepreneur Center Pusdiklat Yaman, mulai Juli 2007. (bam)

Kegiatan YP3IS Pusat

Maksimalkan Bantuan Guru Panti

Program bantuan guru panti yang diberikan YP3IS kepada panti asuhan, diharapkan untuk dimaksimalkan dengan baik bantuan tersebut oleh pihak panti asuhan. Itulah pesan yang disampaikan Direktur Penyaluran Dana YP3IS, Mohammad Hasyim, dalam kunjungan dan silahturahim ke Panti Asuhan Al-Ichlas, Surabaya pada Sabtu (12/5), bersama beberapa staff YP3IS dan Ketua Forum Donatur YP3IS, Tommy Ariefiyanto ST serta donatur lannya. Untuk itu, pihak panti asuhan harus menyerap baik-baik fungsi dan manfaat bantuan guru tersebut, guna mendidik dan mengasuh anak panti asuhan.

“Harapan kami, pihak panti asuhan memaksimalkan bantuan guru panti yang diberikan YP3IS untuk mendidik anak-anak panti asuhan. Dalam artian, guru panti itu tidak hanya mengajarkan lancar membaca Al-Quran saja kepada anak didiknya, tetapi juga mendidik akhlak serta mengajarkan memahami lingkungannya,” pesan Mohammad Hasyim.

Oleh karena itu, menurut Mohammad Hasyim, dengan memaksimalkan bantuan guru panti, diharapkan anak asuh itu bisa siap menghadapi masa depannya. “Karena, dengan memaksimalkan adanya guru panti tersebut, harapan kami anak asuh itu bisa siap menghadapi tantangan di masa depan, dan juga bisa hidup mandiri,” lanjutnya.

Dalam kunjungan tersebut, YP3IS juga menyalurkan bantuan berupa bahan-bahan pokok dari para donaturnya, yang langsung diserahkan Tommy Ariefiyanto kepada Wakil Ketua Panti Asuhan Al-Ichlas, Laila Tusarifah. (bam)

Pembinaan Guru Panti YP3IS Cabang Sidoarjo 
Menumbuh Kembangkan Kreatifitas Anak Asuh
Pada Sabtu (2/6), YP3IS Cabang Sidoarjo mengadakan pembinaan guru panti asuhan se-Sidoarjo, bertempat di Panti Asuhan Rahmatan Lil Alamin. Dalam pembinaan guru panti tersebut, menghadirkan pembicara Umar Jaeni yang juga menjabat Direktur Yayasan Nurul Falah Surabaya dan Direktur Cahaya Amanah. Menurut Umar Jaeni, para duta guru panti harus bisa menumbuhkan daya kreatifitas anak didiknya. Salah satu caranya, yakni dengan mengasah otaknya setiap hari dengan pelajaran-pelajaran umum, selain pelajaran mengaji. 
“Jadi, dengan memahami dan memaksimalkan daya pikiran anak asuhnya. Untuk itu, diharapkan dengan sendirinya akan tumbuh daya kreatifitasnya,” ujar pria kelahiran Jember, 29 September 1964 ini. 
Menariknya, tempat pembinaan guru panti yang biasanya diadakan di Kantor YP3IS Cabang Sidoarjo, kemarin diadakan di Panti Asuhan Rahmatan Lil Alamin. “Selain silahturahim dan untuk penyegaran suasana, juga menginformasikan kepada guru panti, bahwa banyak hal positif yang bisa ditiru dari panti ini. Salah satunya, anak asuhnya selain belajar agama juga dibekali dengan beberapa keterampilan, yakni komputer, menjahit dan lainnya,” jelas Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo, Zakariya Sag. (bam) 
 
Kunjungan YP3IS Cabang Sidoarjo                                        
Menjalin Mitra Dengan Kunjungan
Dalam rangka mempererat tali silahturahim antara YP3IS dengan panti asuhan, Sabtu (9/6), YP3IS Cabang Sidoarjo mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Aisyiyah, di Ketegan Barat no 19, Taman. Acara yang dihadiri oleh Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo, Zakariya SAg dan beberapa staffnya dengan pengurus Panti Asuhan Aisyiyah, Hindun Syakir dan seluruh anak asuhnya itu, berlangsung cukup hangat. Dalam sambutannya, selain memberikan penjelasan tentang YP3IS dan program-program bantuan untuk panti asuhan, Zakariya juga berharap hubungan antara YP3IS dengan Panti Asuhan Aisyiyah bisa terjalin dengan baik untuk selamanya. 
“Mitra YP3IS adalah panti asuhan, maka dari itu mari kita jaga hubungan ini sebaik-baiknya,” pesan Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo, Zakariya. Masih menurut Zakariya, YP3IS adalah sebuah ‘jembatan’ yang menghubungkan antara masyarakat sebagai donatur dengan pihak panti asuhan yang menjadi mitra YP3IS. “Apapun bantuan yang diberikan masyarakat, akan kami sampaikan langsung ke pihak panti asuhan, karena itu adalah amanah. Kalaupun masyarakat ingin langsung memberikan bantuan ke panti asuhan, juga tidak apa-apa, karena memang itu harapan kami,” ujarnya. 
Sedangkan salah satu pengurus Panti Asuhan Aisyiyah, Hindun Syakir, mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang diberikan YP3IS, kepada panti asuhannya. “Kami sungguh berterima kasih atas bantuan yang diberikan kepada Panti Asuhan Aisyiyah, semoga amal baik ini bisa dicatat oleh Allah,” kata Hindun Syakir. (bam) 
 
Kunjungan YP3IS Cabang Kediri  
Dari Kediri Untuk Kediri

Meskipun baru tiga bulan hadir dikota Kediri, tetapi YP3IS saat ini tengah berusaha keras menjalin mitra dengan panti asuhan yang ada di Kediri. Selain itu juga berusaha untuk mendekatkan ke masyarakat Kediri juga. Hal itulah yang tercermin dalam kunjungan YP3IS Cabang Kediri ke Panti Asuhan Yusda Rukun Santoso, pada Selasa (5/6), yang dihadiri Direktur Penyaluran Dana YP3IS, Mohammad Hasyim dan Kepala YP3IS Cabang Kediri, Mudzakir SHI beserta beberapa staffnya.

Dalam sambutannya, Mohammad Hasyim menerangkan pentingnya YP3IS menjalin mitra dengan panti asuhan-panti asuhan yang ada di kota Kediri ini. Karena dengan adanya hubungan erat tersebut, program bantuan YP3IS bisa berjalan dengan baik. “Program bantuan YP3IS tidak akan bisa berjalan dengan baik jika tidak ada mitranya, yakni pihak panti asuhan. Untuk bisa berjalan bersama, maka harus ada komunikasi yang baik antara YP3IS dengan panti asuhan,” terang Mohammad Hasyim. Selain itu, masih menurut Mohammad Hasyim, YP3IS hadir di kota Kediri ini juga untuk menginformasikan dan mendekatkan dengan masyarakat Kediri yang ikut peduli terhadap para anak yatim dengan menjadi donatur.

“Dana yang diperoleh YP3IS Cabang Kediri ini tidak akan kami bawa untuk membiayai anak yatim diluar Kediri. Dana dari masyarakat Kediri tetap akan disalurkan ke panti asuhan yang ada di Kediri, istilahnya dari Kediri untuk Kediri,” lanjut Mohammad Hasyim. Dalam kunjungan tersebut, juga diserahkan bantuan dari donatur YP3IS berupa bahan-bahan kebutuhan pokok, seperti mie instant, susu, beras, minyak goreng dan lainnya kepada Abdul Majid, sebagai Ketua Panti Asuhan Yusda Rukun Santoso. (bam)

Siroh Nabawiyah

Perdamaian Hudaibiyah

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqaidah, dipenghujung tahun keenam Hijriyah. Sebabnya karena Nabi SAW mengumumkan kepada kaum muslimin, tentang keinginannya untuk berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah umrah. Nabi SAW ber-ihram untuk umrah ini ditengah perjalanan dan membawa serta binatang-binatang korban supaya diketahui orang-orang lainnya, bahwa Nabi SAW keluar bukan untuk perang, tetapi semata-mata untuk ziarah ke Baitullah, untuk umrah. Sampai di Dzul Hulaifah, Rasulullah SAW mengutus Basyar bin Sofyan untuk mencari berita tentang penduduk Mekkah, sementara Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ghadir al-Asythath. Ditempat inilah Basyar bertemu kembali dengan Rasulullah SAW guna menyampaikan laporannya: “Bahwa orang-orang Quraisy telah mengumpulkan bala tentara, termasuk kaum al-Habisy (orang-orang yang dibawah pengaruh kaum Quraisy) untuk memerangi dan menghalau engkau dari Baitullah”.

Kemudian Abu Bakar menyampaikan pendapatnya: “Wahai Rasulullah, engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah, bukan untuk membunuh seseorang. Berangkatlah terus, jika ada yang menghalangi kita, maka kita akan memeranginya”. Lalu Nabi SAW bersabda: “Berangkatlah dengan nama Allah”. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan ke Mekkah, naik turun lereng-lereng terjal dan batu-batu tajam hingga onta Rasulullah SAW berhenti di Tsaniyatil Mirar (sebuah jalan kearah Hudaibiyah). Lalu Nabi SAW menghardik ontanya sehingga bangun dan berjalan kembali sampai turun diujung Hudaibiyah didekat parit yang tidak banyak airnya.

Para sahabat itu lalu turun dan meminum air parit itu hingga kering. Kemudian orang-orang itu mengadu kepada Rasulullah SAW. Setelah mendengar pengaduan tersebut Rasulullah SAW lalu mencabut anak panah dan meletakkannya di parit itu. Demi Allah, lalu air memancar memenuhi parit. Tiba-tiba datanglah Badil bin Warqa’ al-Khuza’I dan berkata: “Saya baru saja meninggalkan Ka’ab bin Lu’ay serta Amir bin Lu’ay (orang-orang Quraisy) sedang menuju lembah Hudaibiyah dengan membawa onta-onta perah mereka untuk memerangi dan menghalangimu dari perjalanan menuju Baitul Haram”. Lalu Nabi SAW menjawab: “Kami datang hanya untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah aku siap memerangi mereka sampai orang-orang dibelakangku tinggal sendirian”. Dan Badil menjawab: “Apa yang kamu katakan akan aku sampaikan kepada mereka”.

Kemudian Badil berangkat untuk menyampaikan pembicaraan tersebut kepada orang-orang Quraisy. Setelah mendengar laporan Badil, Urwah bin Mas’ud berdiri menawarkan diri kepada kaum Musyrikin untuk membicarakan ucapan Rasulullah kepada Badil. Ketika bertemu Rasulullah SAW pun, Urwah pun mendengar penegasan yang sama seperti Nabi SAW kepada Badil. Lalu Urwah menjawab: “Apakah engkau kira orang-orang Arab akan membiarkan sanak keluarganya binasa ditanganmu? Jika engkau teruskan rencanamu sungguh orang-orang Quraisy tidak akan lari dan membiarkanmu”. Kemudian Urwah memandangi para sahabat Nabi SAW dengan kedua matanya, dan berkata: “Demi Allah, tidaklah Rasulullah SAW meludah kecuali ludah itu jatuh ketelapak tangan seorang diantara mereka lalu memerintahkan sesuatu kepada mereka, mereka berebut untuk melakukannya. Apabila dia berwudhu, mereka berebut seperti orang yang hendak bertengkar untuk mendapatkan sisa air wudhu’nya. Apabila mereka berbicara dihadapannya, mereka berbicara dengan menundukkan kepalanya dan merendahkan suara demi menghormatinya”. Urwah lalu kembali ke Mekkah melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulillah SAW.

Ia berkata: “Wahai kaum, demi Allah, saya pernah menjadi tamu para raja, kaisar, Kisra dan Najasi. Tetapi demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh para pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad kepada Muhammad SAW. Sesungguhnya dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian, maka terimalah”. Setelah itu mereka mengutus Suhail bin Amer sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian perdamaian antara mereka dan kaum Muslimin. Setelah berhadapan dengan Rasulullah SAW, Suhail berkata: “Silahkan, tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

Kemudian Nabi SAW memanggil penulisnya dan bersabda: “Tulislah Bismillairrahmanirrahim”. Lalu Suhail menukas: “Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ar-Rahman. Tulislah Bismikallahumma”. Kemudian kaum Muslimin berkata: “Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim”. Lalu Nabi SAW bersabda: “Tulislah Bismikallahumma, ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah”. Suhail menolak dan berkata: “Demi Allah, seandainya kami mengakui engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangi kamu. Tetapi tulislah Muhammad bin Abdullah”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakan aku! Tulislah Muhammad bin Abdullah”.

Selanjutnya Nabi SAW bersabda kepadanya kaum Quraisy: “Kalian (orang-orang musyrik) harus membiarkan kami melaksanakan Thawaf di Baitullah”. Suhail berkata: “Demi Allah, supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapat tekanan dari kalian, akan tetapi engkau boleh thawaf pada tahun depan dan kaum Muslimin tidak boleh membawa senjata kecuali pedang didalam sarungnya”. Selanjutnya Suhail berkata: “Jika ada seorang dari kami yang datang kepada engkau untuk masuk Islam maka hendaklah engkau kembalikan pada kami”. Jawab Nabi SAW: “Ya sesungguhnya siapa saja diantara kita yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barang siapa diantara mereka datang kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya”.

Perjanjian perdamaian dengan syarat-syarat tersebut berlaku selama sepuluh tahun. Selama itu tidak boleh dilanggar dan dikhianati. Siapa yang ingin bersekutu dengan Quraisy, mereka bebas melakukannya. Tidak lama kemudian turunlah surat al-Fath kepada Rasulullah SAW. Kemudian Abu Bakar ra bertanya kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah SAW, Apakah itu kemenangan (al-Fath)?” Jawab Nabi SAW: “Ya”. Barulah hati Umar merasa tenang. Nabi SAW kemudian datang kepada para sahabatnya dan bersabda: “Bergeraklah, sembelihlah ternak qurban kalian, kemudian bercukurlah”. Rasulullah SAW mengulangi perintah itu sampai tiga kali, tetapi tak seorang pun diantara mereka yang bangkit menyambutnya. Kemudian Beliau masik kedalam kemahnya dan menyampaikan kejadian itu kepada istri Beliau, Ummuh Salamah.

Lalu Ummuh Salamah berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah engkau ingin supaya mereka melaksanakan perintah itu? Keluarlah tetapi jangan berbicara sepatah kata pun dari salah seorang dari mereka, sembelihlah ternak qurban anda sendiri, lalu panggillah tukang cukur anda dan bercukurlah”. Rasulullah SAW kemudian keluar, tidak berbicara dengan seorang pun juga dan berbuat sebagaimana yang disarankan oleh istri beliau. Ketika kaum Muslimin melihat Rasulullah SAW berbuat sebagaimana yang disarankan Ummuh Salamah, mereka segera bergerak ramai-ramai menyembelih ternaknya masing-masing dan saling bercukur bergantian. Demikian ributnya mereka itu karena kegirangan hingga satu sama lain seolah-olah sedang saling bunuh. Setelah Rasulullah SAW dan kaum Muslimin sampai di Madinah, datanglah beberapa wanita Mu’minat, berhijrah membawa agama mereka. Diantara mereka terdapat Ummuh Kultsum binti ‘Uqbah.

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila wanita beriman datang berhijrah kepada kalian, maka hendaklah kalian uji iman mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka, maka bila kalian telah mengetahui bahwa mereka itu benar-benar telah beriman, janganlah mereka kalian kembalikan kepada suami mereka (yang masih tetap sebagai) orang-orang kafir. Para wanita itu tidak halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu pun tidak halal bagi para wanita Muslimat itu”. (al-Mumtahanah: 10). Kemudian Rasulullah SAW tidak mau mengembalikan wanita-wanita Muslimat itu kepada orang-orang kafir. (bam, dari Sirah Nabawiyah)

Konsultasi Keluarga                                                                         
Antara Istri dan Orang tua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz Hasan yang terhormat. Saya seorang suami yang telah menikah selama 10 tahun dan telah dikaruniai dua anak. Saya dan istri juga bekerja diperusahaan swasta. Selama ini, kami tinggal bersama kedua orang tua saya. Ayah saya pegawai negeri, sedangkan ibu hanya tinggal dirumah. Akhir-akhir ini, ibu dan istri saya sudah tidak ada lagi kecocokan. Setiap omongan ibu, selalu menyakitkan hati istri saya. Saya selalu menenangkan istri supaya bersabar, namanya juga orang tua. Tetapi disisi lain, ibu juga kerap mengadu kalau istri saya kurang perhatian ke anak, begini salah begitu salah. Saya jadi bingung ustadz. Pernah suatu ketika, istri saya mengajak untuk kontrak rumah saja. Tetapi, saya nasehati untuk bersabar dulu. Memang, saya ini anak tunggal, jadi dia menyadari kalau saya harus merawat ibu. Ibu juga pernah menyuruh saya untuk bercerai saja, saya langsung menangis. “Mengapa hal ini terjadi padaku?” Padahal, istri saya sangat sayang, perhatian, sopan-santun dan menghargai suami. Saya jadi bingung ustadz. Pingin rasanya saya keluar dari rumah dan kontrak rumah sendiri, tapi saya takut nanti dikatakan anak tidak berbakti pada orang tua. Saya ingin meminta pendapat ustadz:

  1. Apa yang seharusnya saya lakukan, tetap tinggal dirumah bersama ibu atau mengontrak rumah sendiri?
  2. Bagaimana saya harus menyikapinya?
  3. Apakah saya anak yang durhaka, jika tidak tinggal serumah dengan kedua orang tuaku?

Saya ingin tetap mempertahankan biduk rumah tangga bersama istri dan anak saya tercinta.

Demikian pertanyaan saya, atas jawaban Ustadz Hasan, saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Arman

Jawab:

Waalaikumssalam Wr. Wb

Akhi, banyak kejadian seperti anda ini. Sikap anda dengan berkonsultasi adalah cara yang sangat baik. Akhi, beberapa hal harus diperhatikan:

  1. Anda dan istri, bersikaplah sebagaimana orang tua pada anak, artinya kalau kalian berdua bersikap sebagai bapak dan ibu dari anak-anak anda, maka apapun kondisinya anak, anda tetap sayang, walau misalnya anak itu nakal. Kacamata yang selalu muncul adalah sayang dan cinta. Berbeda sekali ketika anda bersikap seperti orang lain, maka yang selalu muncul adalah membalas atau tidak terima diperlakukan tidak baik.
  2. Orang tua dengan cucu itu sering sikapnya berlebihan, sehingga kasih sayangnya pada cucu sering menghilangkan pertimbangan rasional. Misalnya bapak/ibu tahu bahwa anaknya ada pantangan makanan, tetapi begitu anak itu menangis karena tidak diberi oleh ibu/bapaknya, maka kasih sayang nenek muncul dan menyalahkan atau bahkan memaksa kedua orang tuanya untuk nuruti. Disitulah awal percekcokan jika semuanya tidak menyadarinya.
  3. Anda berdua harus ekstra sabar. Terus menerus berdoa untuk anda, anak dan orang tua.
  4. Tujuan berumah tangga adalah menjalankan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Tentu saja juga ingin memperoleh keluarga yang sakinah, mawaddah, karena itu, semua yang menyebabkan percekcokkan harus dihindari.
  5. Perceraian tanpa sebab yang dibenarkan adalah haram. Siapapun yang menyuruhnya tidak boleh sama sekali dituruti dan cara menolaknya harus dengan cara yang baik.
  6. Bakti kepada orang tua adalah wajib bagi anak maupun menantu.

Akan halnya pertanyaan anda:

  1. berbicaralah dengan bapak atau orang yang disegani oleh ibu, tentang kondisi anda berdua, bapak biasanya lebih rasional. Anda pertimbangkan untung-ruginya, sebab anda dan istri anda bekerja. Anak tentu sangat membutuhkan kasih sayang yang cukup. Tidak bisa digantikan kepada orang lain. Nenek jauh lebih baik dari pada orang lain apalagi pembantu.
  2. Tidak masalah anda mengontrak (tidak berkumpul dengan orang tua), jika memang hal itu yang membuat rumah tangga lebih bahagia dan tetaplah berbakti pada kedua orang tua anda. Kalau anda berpisah, kemudian lupa pada orang tua, tentu itu sangat tidak baik dan bisa jadi menjadi anak yang durhaka.
  3. Mengadu kepada Allah terus menerus. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik untuk anda berdua dan kedua orang tua anda.

Konsultasi Agama

Hukum Mewarnai Rambut

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz Navis yang saya hormati. Saya ingin menanyakan:

  1. Bagaimana hukumnya meluruskan, mengkriting dan mewarnai rambut (hitam, merah, coklat atau warna yang lainnya)?
  2. Menyambung pertanyaan pada MAYA edisi Mei 2007 tentang hukum menemukan uang dijalan. Jika uang yang ditemukan tersebut jumlahnya sedikit, misalnya Rp 10.000,- apakah harus diumumkan selama setahun juga? Dijaman seperti sekarang ini, pastinya banyak atau ada orang yang hanya mengaku bahwa uang tersebut miliknya. Apa yang harus kita lakukan? Apa boleh uang tersebut kita infaqkan semua (mengingat jumlahnya sedikit)?

Demikian pertanyaan dari saya, atas jawaban dan penjelasannya, saya sampaikan terima kasih.

Wassalam

Anita

Surabaya

Jawaban:

Ukhti Anita yang saya hormati, Islam menganjurkan agar umat Islam bersih, berhias dan memperindah diri tetapi tidak sampai melampui batas dan tidak merubah ciptaan Allah SWT. Dalam Surat Al ‘A’raaf, ayat 32 Allah SWT berfirman: “Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hambanya…” Dalam sebuah hadits juga dijelaskan bahwa: “Sesungguhnya Allah itu Indah dan suka akan keindahan”. Ukhti, dalam hal memperindah rambut ada yang dilarang oleh Islam dan ada yang diperbolehkan. Yang dilarang adalah menyambung rambut dengan rambut lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Allah mengutuk orang yang menyambung rambut dan minta disambungkan”. (HR. Al Bukhari).

Sedangkan merapikan, mengkriting atau meluruskan rambut sebatas itu memperindah tidak ada larangan. Adapun mewarnai rambut ada dua hal yang menjadi perhatian. Pertama, bahan pewarna dan yang kedua, macam-macam warna. Bahan pewarna (semir) jika terbuat dari barang najis atau bahan yang dapat menghalangi sampainya air kerambut, itu ada masalah thaharah ketika mau melaksanakan ibadah, karena dengan demikian wudlu’nya tidak sah sebab ketika mengusap rambut, air tidak sampai kerambut. Begitu juga jika bahan semir itu bukan barang najis dan tidak menghalangi sampainya air ke rambut, maka itu boleh. Di zaman Rasulullah biasanya pewarna rambut berasal dari bahan ‘pacar’ (tumbuhan yang membuat warna merah baik untuk rambut atau kuku. Seperti yang biasanya dibawa jamaah haji dari Mekkah).

Sedangkan masalah warna, mayoritas ulama memperbolehkan warna merah, coklat, pink dan lainnya, tetapi melarang warna hitam kecuali dalam keadaan perang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW ketika melihat Abi Quhafah rambutnya beruban putih: “Rubahlah uban ini, dan hindarilah warna hitam”. (HR. Muslim 105).

Namun sebagian ulama memperbolehkan warna hitam jika usianya tidak setua Abi Quhafah. Hal ini ditegaskan oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, Uqbah bin Amir, Al Hasan, Al Husain. Jarir dan lain-lain (DR. Yusuf Al-Qardlawi, AlHala wal haram fil islam 89-90).

Ukhti, untuk menjawab pertanyaan anda yang kedua, pengasuh sampaikan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’I dari amru Ibnu Syu’aib diterimanya dari bapaknya. Hadits ini berasal dari kakek amru yang mengatakan bahwa, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang luqathah (barang temuan), yang dijawab oleh Rasulullah SAW bahwa: “Harta benda yang ditemukan di jalan umum atau di daerah pemukiman, hendaklah diumumkan selama setahun. Jika orangnya datang, berikanlah dan jika tidak, ambilah sebagai milikmu. Dan harta yang ditemukan dijalan umum atau bukan daerah pemukiman, maka dalam harta itu dan demikian pula pada rikaz ada seperlima bagian yang harus dikeluarkan (HR. An-Nasa’I surat an-Nasa’I jilid 5 bab ma’din 44).

Dari hadits diatas para ulama tidak membatasi jumlah barang yang ditemukan. Jadi walaupun jumlahnya Cuma Rp 10.000,- atau kurang dari itu secara fiqh wajib diumumkan selama setahun, kecuali barang temuan itu benda yang tidak tahan lama seperti makanan, buah-buahan, maka diumumkan sampai batas sekiranya barang itu belum rusak. Walaupun tidak setahun boleh dimiliki atau dinafaatkan. Adapun cara mengumumkan, tidak harus disebutkan nominalnya, tapi cukup hanya menyebutkan tempat dan jenisnya, jika dengan demikian ada orang yang mengaku padahal bukan miliknya tentu yang ngaku itu yang dosa. Sedangkan masalah mesedahkan, jika sudah mencapai batas waktu setahun, boleh anda belanjakan, juga boleh disedekahkan semua ke masjid. Tapi kalau belum mencapai batas waktu setahun maka tidak boleh digunakan atau diinfaqkan, jika anda lakukan, maka bukan dapat pahala tapi dapat dosa karena sudah menggunakan barang yang bukan miliknya. Wallahua’lam bisshawab.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar