Laboratorium Klinik Prodia Kediri
Anak Yatim Anak Kita Juga
Karena menganggap anak-anak yatim yang ada di panti asuhan, adalah anak-anak mereka sendiri, maka karyawan di Laboratorium Klinik Prodia
“Saya jelas bangga kepada rekan-rekan saya, karena mereka sangat peduli dan memiliki rasa ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak yatim. Sehingga, sampai saat ini tercatat 9 orang dari sekitar 10 karyawan Prodia menjadi donatur di YP3IS Cabang
Masih menurut wanita kelahiran Jember pada 22 Mei 1969 ini, awalnya saat YP3IS pertama kali datang ke tempat kerjanya untuk menyerahkan proposal menjadi donatur yatim, ia pun tertarik. Bahkan, ia juga menginformasikan kepada rekan-rekannya yang lain untuk menjadi donatur anak yatim, dan ini direspon baik sekali oleh mereka. Selang sebulan kemudian, ketika petugas dari YP3IS datang kembali, ia bersama tiga orang rekannya langsung ikut mendaftar sebagai donatur. “Dari situlah, saya mulai memberitahukan kepada rekan saya yang belum menjadi donatur di YP3IS, agar ikut peduli terhadap pendidikan anak yatim,” terangnya.
Selain memberitahukan secara lisan, Rini Utami juga memberikan Majalah Yatim kepada mereka untuk dibaca. Usahanya ini pun mulai membuahkan hasil, hingga jumlah donaturnya pun mulai bertambah. “Meski ada yang sampai satu bulan setelah saya tawari, baru bersedia ikut, karena saya mengajaknya setiap kali kami bertemu. Tetapi saya tidak memaksa mereka. Kami beranggapan, dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000, yang bagi kami nilainya tidak seberapa, tetapi bagi anak yatim uang sebesar itu sangat besar sekali manfaatnya untuk dapat terus sekolah,” ujar Rini.
“Target saya, yakni mengajak rekan-rekan yang masih belum berkeluarga, karena kalau yang berkeluarga itu khan sudah memiliki anak, yang harus menanggung biaya sekolahnya juga. Sedangkan yang belum berkeluarga khan pengeluarannya tidak sebanyak mereka yang telah berumah tangga,” lanjutnya.
Rini juga mengaku mudah mengkordinir teman sekantornya, kalau waktunya mengumpulkan donasi yang rutin diambil oleh petugas YP3IS Cabang Kediri. Hal ini dikarenakan, semua karyawan Laboratorium Klinik Prodia Kediri memiliki tujuan dan kepedulian yang sama terhadap pendidikan anak-anak yatim. Sebab, dengan bekal pendidikan itulah anak-anak yatim tersebut diharapkan bisa hidup mandiri.
“Anak yatim itu khan bapaknya telah meninggal, maka ibunya yang harus bekerja keras untuk mencari biaya sekolah anaknya. Lha kalau ibunya mempunyai suatu keterampilan yang bisa menghasilkan uang sih, nggak apa-apa. Tetapi kalau tidak memiliki keterampilan, khan kasihan si anak tersebut tidak bisa sekolah. Kami inginnya mereka bisa terus sekolah untuk bekalnya dimasa depan,” pungkasnya.(bam)
Profil
Siti Masfufah
Lebih Bisa Mandiri
Semenjak tinggal di panti asuhan hingga kuliah di MEC YP3IS, gadis murah senyum ini mengaku banyak sekali perubahan dalam dirinya, yakni Ia merasa lebih bisa mandiri. Bahkan tak hanya itu, gadis bernama lengkap Siti Masfufah ini, juga rajin ibadahnya. “Setelah beberapa waktu belajar di MEC, pengetahuan saya semakin bertambah, dan bisa lebih mandiri. Karena dulunya khan saya sangat bergantung kepada orang tua. Makanya saya mengucapkan banyak terima kasih bisa kuliah di MEC secara gratis. Selama di MEC saya mendapatkan ilmu yang lebih matang, lebih mandiri, ibadah saya bertambah baik. Sehingga saya bisa menata menjadi wanita yang solehah dan berpakaian yang ideal secara muslim,” terang gadis kelahiran Sidoarjo pada 21 September 1989 ini.
Masih menurut anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Abdul Ghofar dan Komiah tersebut, menyandang status anak yatim bukanlah suatu hambatan untuk mengejar prestasi. Meski mengaku sedih, karena sang bapak meninggal karena sakit paru-paru pada tahun 1992 saat ia masih balita, tetapi hal itu malah membuatnya lebih bersemangat untuk terus belajar dan sekolah. Bahkan, ketika lulus Sekolah Dasar, ibunya sudah tidak mampu lagi untuk membiayai melanjutkan sekolahnya ketingkat SMP, Siti Masfufah pun bersedia disuruh untuk tinggal di panti asuhan.
“Jalan satu-satunya untuk bisa melanjutkan sekolah hanyalah dengan tinggal di panti asuhan. Sebab yang membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari semuanya ditanggung oleh pihak panti, yakni Panti Asuhan Al-Chusnaini, Sidoarjo. Pertama kali tinggal di panti saya sempat tidak betah, bahkan hampir tiap malam menangis karena kangen dengan ibu dan saudara. Tetapi, lambat laun akhirnya saya bisa beradaptasi dengan lingkungan di panti tersebut,” kenangnya. Di panti tersebut, Siti Masfufah menyelesaikan SMP-nya di YPM II Sukodono Sidoarjo hingga lulus SMK YPM V Sukodono, Sidoarjo. Lantas ia disarankan pengasuh Panti Asuhan Al-Chusnaini untuk mengikuti tes masuk MEC YP3IS.
“Dan Alhamdulillah, saya diterima sebagai mahasiswa MEC Angkatan 2007-2008. Padahal yang ikut tes ada 7 anak dari PA Al-Chusnaini termasuk saya. Dan yang lolos tes cuma 3 anak, juga termasuk saya,” ujarnya bangga. Baginya, bisa melanjutkan kuliah di MEC YP3IS membuatnya sangat bersyukur sekali. Karena selain biaya kuliah yang gratis, juga biaya hidup sehari-hari selama satu tahun ditanggung pihak YP3IS. Ia pun semakin rajin dan giat belajar sekaligus memperbanyak keterampilan selama kuliah di MEC. Lantas dibulan Maret 2008, mahasiswa MEC semester dua Angkatan 2007-2008 Jurusan Administrasi ini, berhak menerima hadiah sepeda dari MEC. Karena menyabet penghargaan mahasiswa berprestasi dengan IP 3,9 yang termasuk tertinggi di seluruh jurusan di MEC. Yaitu Jurusan Administrasi, Jurusan Teknik Komputer dan Jurusan Akuntansi.
“Sebenarnya saya itu jarang belajar diluar jam kuliah. Tetapi ketika dosen sedang menerangkan dikelas, saya itu benar-benar konsentrasi dan fokus ke mata kuliah yang tengah diterangkan. Sehingga saya benar-benar mengerti betul dan paham apa yang telah diterangkan dosen tersebut,” katanya.
Tak lama kemudian, salah seorang staff MEC menginformasikan bahwa di LPQ Nurul Falah sedang membutuhkan karyawan dibagian administrasi. Siti Masfufah lantas mengirimkan lamaran pekerjaan beserta kedua teman kuliahnya dan langsung mengikuti tes. Lantas gadis bertubuh langsing ini pun lolos tes, dan diterima bekerja di LPQ Nurul Falah sebagai staff Adminitrasi. “Jadi sekarang mulai jam 08.00 hingga 16.00 saya bekerja dan selepas Magrib baru kuliah di MEC,” terangnya.(bam)
Rihat Reportase
Jadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah
Dalam melakukan setiap pekerjaan, hendaknya harus selalu ingat kepada Allah, serta mengartikan bahwa bekerja itu adalah ibadah. Itulah rangkuman materi Ustadz Sohibul Anwar dalam pengajian eksekutif bertema ‘Spiritual Power For Work Happines’ pada Sabtu (1/3), bertempat di Hotel Narita
Sohibul Anwar juga mengingatkan, bahwa semua yang didapatkan di dunia ini dengan bekerja keras dan susah payah, dapat dengan mudah hilang dan kembali kepada Allah. “Makanya kita harus menyadari, betapa rapuhnya kita dengan adanya bencana alam yang dahsyat menghancurkan dan menghilangkan semua yang kita peroleh dengan susah payah. Maka kita hendaknya harus selalu ingat kepada Allah,” papar Sohibul Anwar.
Untuk itu, dalam bekerja agar selalu ingat kepada Allah, harus bertujuan sebagai berikut:
- Menjadikan Allah sebagai tujuan kerja dan melibatkan Allah dalam segala urusan pekerjaan.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana menjalankan perintah dan larangan-Nya.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana memperbanyak persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana melakukan kebaikan dan amal sholeh.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana aktifitas yang menyenangkan dan membahagiakan.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana mengamalkan kebaikan.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana untuk melakukan aktifitas yang produktif.
- Menjadikan pekerjaan sebagai sarana meningkatkan jumlah pendapatan dan mengurangi jumlah pengeluaran.
Pengajian tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai profesi, yakni pemimpin perusahaan, manager, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa dan pelajar.(bam)
Kisah Surabaya
Fredy Firmansyah
Si Yatim Ingin Menjadi Arsitek
Karena terinpirasi dengan almarhum bapaknya yang gemar menggambar desain sebuah rumah dan gedung, ia pun lantas sangat menginginkan kelak bisa menjadi seorang arsitek. Bahkan sejak sebelum tinggal di panti hingga sekarang, tak lupa ia selalu mengisi waktu luangnya dengan menggambar desain rumah ataupun bangunan.
“Saya senang dengan dunia arsitek itu karena terinspirasi dengan ayah saya. Karena dulu saya masih ingat, bapak itu sangat pandai menggambar tentang bangunan-bangunan, kota-kota dan rumah-rumah. Dan ketika saya lihat, itu sangat bagus sekali. Dan gambar-gambar itu, adalah yang menggambar bapak saya sendiri. Dari situlah saya mulai senang menggambar tentang desain rumah, bangunan dan lain-lainnya. Disaat waktu senggang akhirnya saya senang menggambar desain-desain tersebut,” paparnya.
Fredy Firmansyah nama lengkapnya, ia telah menyandang status anak yatim ketika masih duduk dibangku sekolah dasar kelas IV. Sang bapak, Roni Rasman yang bekerja sebagai awak kapal barang antar pulau, meninggal dunia karena serangan penyakit kencing manis. Praktis, tulang punggung keluarga akhirnya berganti ke sang ibu, Nurjiati.
“Waktu itu, kami masih kost di daerah Medokan Ayu nomor 36,
Tak lama kemudian, sang bapak meninggal dunia dan beban sang ibu pun semakin berat untuk menghidupi ketiga anaknya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka sangat kesulitan, karena penghasilan sebagai pembantu rumah tangga tidaklah seberapa. Apalagi ditambah untuk biaya sekolah anaknya. Fredy Firmansyah pun merasakan betapa sulitnya perekonomian keluarganya saat itu. Untuk membayar biaya sekolahnya, Fredy Firmansyah mengaku sering menunggak, karena memang sang ibu kesulitan untuk membayarnya.
“Tetapi syukur Alhamdulillah, akhirnya Kepala Sekolah saya mau mengerti dengan keadaan kami. Dan menyarankan saya untuk tinggal di Panti Asuhan Iffatul Alijah ini,” papar Fredy yang kelahiran
“Akhirnya setelah ibu setuju, mulai kelas VI sekolah dasar saya tinggal di Panti Asuhan Iffatul Alijah yang terletak di Perumahan IKIP Gunung Anyar Blok G nomor 217
“Awal tinggal dipanti, saya tidak terlalu kesepian meskipun menghadapi lingkungan baru dan teman juga baru, karena saya langsung mencoba untuk lebih dekat lagi dengan teman-teman yang lainnya. Saya senang sekali diperbolehkan untuk tinggal dipanti ini, karena disini saya mempunyai banyak teman, sekolah juga dibiayai pengurus panti ini, juga lebih nyaman dan memiliki fasilitas yang lebih bagus, yakni punya kamar tidur sendiri,” terang murid kelas II SMP Negeri 17 Surabaya ini sembari tersenyum senang.
Selama tinggal di Panti Asuhan Iffatul Alijah, mulai sekolah dasar hingga kelas II SMP, banyak hal yang merubah kehidupannya. Antara lain, yang dulunya ia tidak pernah sholat
Seluruh aktifitas yang ada di panti asuhan tersebut, ia ikuti dengan tekun. Yakni, diawali dengan bangun tidur menjelang Adzan Shubuh, yang dilanjutkan dengan shalat Shubuh berjamaah. Kemudian memulai aktifitas dengan membersihkan kamar tidur hingga sarapan pagi dan persiapan untuk berangkat sekolah. Pulang sekolah sekitar pukul 12.00, Fredy langsung menunaikan ibadah shalat Dhuhur, makan siang dan istirahat.
“Sorenya kami bermain sepak bola hingga pukul 17.00, yang dilanjutkan dengan mandi dan sholat Ashar. Setelah shalat Magrib, kami mengaji, dan dilanjutkan shalat Isya’. Baru setelah itu makan malam dan les serta belajar pelajaran sekolah hingga pukul 21.00, lantas istirahat,” urainya. Meski aktifitas kegiatan yang ada di Panti Asuhan Iffatul Alijah yang begitu padat, toh tidak membuat Fredy melupakan sosok sang bapak yang sangat disayanginya itu. Rasa kangen akan kehadiran bapaknya, malah kerap datang menghampirinya disaat malam menjelang tidur.
“Biasanya saya langsung berdoa kepada Allah, semoga bapak bisa diterima disisi-nya,” kata Fredy Firmansyah yang juga ranking kelima disekolahnya SMP Negeri 17 Surabaya.
Kedepanya nanti, khususnya setelah lulus SMP, ia ingin melanjutkan sekolah di SMK untuk mengambil jurusan arsitek. Dan kelak selepas SMK, Fredy Firmansyah juga mendambakan untuk bisa kuliah di ITS. Kalaupun tidak bisa kuliah, ia lebih memilih untuk langsung bekerja.
“Kerja apa saja, asalkan halal. Dan hasilnya saya gunakan untuk membantu ibu saya dan yang sebagian lagi ditabung, karena saya ingin bisa membelikan ibu sebuah rumah sendiri. Dan yang terpenting bagi saya adalah membahagiakan ibu terlebih dahulu, baru kemudian berpikir untuk diri saya sendiri,” paparnya.
Sementara itu pada kesempatan yang lain, Mukayat, Ketua Panti Asuhan Iffatul Alijah, mengucapkan banyak terima kasih bisa bekerjasama dengan YP3IS. Menurut ketua panti penerima bantuan gizi dan bantuan guru panti dari YP3IS ini, banyak manfaat yang diperoleh pantinya setelah bermitra dengan YP3IS. “Kami mengucapkan banyak terima kasih,” kata Mukayat.(bam)
Cabang Kediri
Walikota Kediri Serahkan DBP YP3IS Rp 56.394.000 Untuk 340 Yatim
Dengan didampingi Walikota Kediri H.A Maschut, Ketua YP3IS Mohammad Hasyim dan Kepala Cabang YP3IS Kediri Mudzakir SHI, menyalurkan Bantuan Dana Pendidikan (BDP) Periode ke XV sebesar Rp 56.394.000,- untuk 340 anak yatim yang ada di 14 panti asuhan di Kediri. Rinciannya, sebanyak 203 anak yatim tingkat SD, 101 yatim tingkat SMP dan 36 yatim tingkat SMA. Sedangkan total BDP yang disalurkan oleh YP3IS pada periode ini sejumlah Rp 889.644.700,- yang dibagikan kepada 4.998 anak yatim di
Acara yang digelar pada Minggu (24/2) di Gedung GNI, Kediri, bertema ‘Kasih OTA Untuk Yatim’ tersebut dipadati sekitar 600 undangan, dari donatur, orang tua asuh dan pengurus panti asuhan sekaligus anak asuhnya yang ada di Kediri. Dan sekaligus sebagai ajang mempertemukan secara langsung antara orang tua asuh dengan anak asuhnya.
Sementara itu, H.A Maschut dalam sambutannya mengaku terkesan dengan adanya YP3IS di
Diakhir sambutannya, ia sempat menyanyikan sebuah lagu gubahannya sendiri, yang syairnya ‘Malu aku malu, pada Tuhan yang Kuasa, bila tidak membantu yatim piatu’. Acara kemudian ditutup dengan mendengarkan tausyhiah Ustadz Imron Muzakki.(bam)
Cabang Sidoarjo
Bagikan DBP Rp 200.668.500 Untuk 1.119 Yatim di Sidoarjo
Penyaluran Dana Bantuan Pendidikan (DBP) YP3IS Cabang Sidoarjo ke 15 Periode Juli – Desember 2007, sebesar Rp 200.668.500,- dilaksanakan pada Selasa (26/2), bertempat dihalaman Kantor YP3IS Cabang Sidoarjo, di Ruko Centro Avenue, Jalan KH Mukmin 11 Blok D-11, Sidoarjo. Dana yang dihimpun dari donatur YP3IS Cabang Sidoarjo tersebut, diperuntukkan bagi 1.119 anak yatim yang ada di 48 panti asuhan se-Sidoarjo.
Acara tersebut dihadiri oleh Kabag Kesejahteraan Sosial Sidoarjo H. Syahroni, Direktur Pelaksana YP3IS Zakariya SAg, Kepala Cabang YP3IS Sidoarjo Rudi Mulyono SKom, Direktur MEC YP3IS Ir Bimo Wahyu, donatur dan beberapa pengurus panti asuhan penerima BDP.
Di acara itu juga diserahkan secara simbolis DBP untuk anak yatim oleh Syahroni, Zakariya dan Rudi Mulyono kepada tiga pengurus panti asuhan di Sidoarjo. Yakni, Rp 11.668.500,- diserahkan kepada YPAY Peduli Anak Yatim Prambon, Rp 7.105.500,- untuk PA Al-Ma’unah Krembung dan Rp 6.763.500,- diberikan kepada PA Al ‘Ulya Gedangan.(bam)
Potret
Panti Asuhan Hidayatul Ummah Sidoarjo
Ingin Memiliki Gedung Sendiri
Panti asuhan penerima Dana Bantuan Pendidikan YP3IS ke 15 sebesar Rp 6.516.000,- untuk 35 anak asuhnya ini, berkeinginan memiliki gedung panti sendiri. Pasalnya, Panti Asuhan Hidayatul Ummah saat ini menempati gedung pinjaman milik H Mahbul Jaelani, yang bertempat di Desa Kebonsari RT 03/RW 02 Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Menurut Siti Khotim, Pembina Panti Asuhan Hidayatul Ummah, panti yang berdiri sejak tahun 1999 dan berstatus non panti ini baru menempati gedung tersebut pada 17 November 2006 yang lalu. Sebelumnya sempat mengontrak rumah di kawasan Desa Kaliampuh, Candi, Sidoarjo.
“Kami pernah berencana untuk mengontrak rumah lagi untuk dibuat panti asuhan, tetapi keuangan kami belum memungkinkan untuk mengontrak rumah. Kemudian H Mahbul Jaelani, berkenan memberikan pinjaman rumah kepada kami tanpa dipungut biaya sama sekali,” kenang wanita kelahiran Sidoarjo pada 15 Maret 1969 ini, ketika ditemui MAYA, Rabo (6/3), di pantinya. Tak hanya itu, sang pemilik gedung juga memperbaiki dan menambahkan beberapa fasilitas penunjang agar layak dihuni untuk panti asuhan. Dari sinilah jumlah anak asuhnya yang semula ada 6 anak, lambat laun bertambah hingga kini tercatat 40 anak asuh baik panti maupun yang non panti.
Mayoritas anak asuhnya tersebut berasal dari tiga desa di Sidoarjo, yakni Desa Kaliampuh, Desa Kalipecabean dan Desa Kebonsari. Masih menurut Siti Khotim, panti asuhannya layak disebut sebagai panti perjuangan. Karena perjalanan Panti Asuhan Hidayatul Ummah ini hingga sampai sekarang, tak lepas dari perjuangan para pembina, pengurus dan anak asuhnya.
“Perjuangan di jalan Allah,” ujar ibu dua anak ini. Sementara itu untuk operasional panti, awalnya sangat memprihatinkan sekali. Pasalnya, Panti Asuhan Hidayatul Ummah ini belum memiliki donatur tetap. Sehingga untuk kebutuhan makan anak asuhnya, tak jarang sangat kekurangan sekali. “Seperti contohnya, kami pernah mengalami kehabisan beras untuk makan anak-anak. Tetapi syukurlah, hal itu tidak berlangsung lama, karena adanya bantuan dari warga dan donatur kami. Dan saya percaya, bahwa Allah selalu menolong hambanya ketika dalam kesulitan,” kata Siti Khotim.
Tak beberapa lama kemudian, pihak Panti Asuhan Hidayatul Ummah menjalin kerjasama dengan YP3IS Cabang Sidoarjo. Menurut pengakuan Siti Khotim, banyak bantuan dan manfaat yang diperoleh pantinya setelah bermitra dengan YP3IS. Selain Dana Bantuan Pendidikan, YP3IS juga memberikan bantuan gizi dan bantuan guru panti untuk Panti Asuhan Hidayatul Ummah.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih, atas bantuan dari YP3IS berupa bantuan gizi, bantuan guru panti dan bantuan beasiswa anak yatim yang diberikan kepada panti kami. Sehingga fokus kami saat ini tidak terpusat untuk tidak sekedar menjalankan operasional intern panti, seperti makan, biaya sekolah anak-anak, melainkan juga fokus ke program-program panti yang dapat menunjang anak-anak untuk lebih mandiri,” jelas Siti Khotim.
“Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur YP3IS yang peduli terhadap Panti Asuhan Hidayatul Ummah ini. Dan Alhamdulillah, biaya sekolah anak-anak sekarang yang sangat tinggi, bisa diringankan dengan adanya Program Bantuan Dana Pendidikan dari YP3IS. Bantuan tersebut sangat berarti bagi kami semua, semoga amal para donatur dan YP3IS diterima Allah,” tambah Tri Kurnia Lestari, Ketua Panti Asuhan Hidayatul Ummah, sembari tersenyum.
Di panti penerima DBP YP3IS tingkat SD sebanyak 15 anak, tingkat SMP 10 anak dan tingkat SMA sejumlah 10 anak ini, semua anak asuhnya diajarkan budaya 5S. Yakni, selalu Senyum, Salim, Salam, Sopan dan Santun setiap kali bertemu dengan orang lain. Hal ini bertujuan agar para anak asuhnya bisa belajar sabar dan selalu tersenyum meskipun dalam kondisi yang serba kekurangan.
“Karena untuk mengajarkan atau menanamkan agar anak-anak bisa senyum, dengan kondisi yang serba susah dan sangat terbatas, artinya yang serba kekurangan, dan menerima apa adanya dari kekurangan tersebut, itu bukanlah sesuatu yang mudah mengajari mereka tetap tersenyum dan memahamkannya ke anak-anak. Dan itu membutuhkan proses yang tidak sebentar, dan juga membutuhkan kesabaran yang ekstra,” terang Siti Khotim yang juga berprofesi sebagai guru ini.
Selain berkeinginan memiliki gedung panti sendiri, pihak Panti Asuhan Hidayatul Ummah kedepannya lagi juga berusaha untuk memiliki usaha sendiri yang bisa membantu biaya operasional panti. “Keinginan kami yang jelas dan terpenting yakni, panti ini dapat memiliki gedung sendiri. Yang kedua, kami tidak ingin mengandalkan hanya dari donatur saja, yakni panti ini ingin punya usaha sendiri untuk menunjang operasional panti. Seperti memiliki sekolahan sendiri, karena kontribusi dari sekolahan itu nantinya sekitar 10 persen bisa masuk ke panti ini. Selain itu memperbanyak keterampilan yang kami berikan untuk menunjang anak asuh kami agar bisa lebih mandiri kelak. Keterampilan tersebut misalnya menjahit, memasak dan lain-lainnya,” papar Siti Khotim.
Untuk itulah, pihak Panti Asuhan Hidayatul Ummah, berusaha terus berjuang untuk anak-anak asuhnya selain memperdalam ajaran agama, juga agar mereka bisa terus sekolah dan memperbanyak keterampilan untuk bekal mereka menuju kemandirian.(bam)
Doa
Dapat Bersyukur, Bersabar Dan Tidak Menonjolkan Jasa
Allaahummaj’alnii syakuuraa waj’alnii shabuuraa waj’alnii fii ‘ainii shaghiiraa wa fii a’yunin naasi kabiiraa.
Artinya:
Ya Allah, jadikanlah aku orang yang berterimakasih pada-Mu, jadikanlah aku orang yang sabar, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku tapi seorang yang besar dalam pandangan orang lain.(dari buku Do’a oleh Dr Miftah Faridl, hal: 232)
Hikmah
Antara Sabar dan Mengeluh
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain kerana itu pasti karena tidak pernah risau dan bersedih hati”. Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan, lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan duka cita dan luka hati karena risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini”.
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu. Ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah keluar, dan lari ke bukit yang mana di
Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh, melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka”.
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dari Allah. Karena itu Rasulullah SAW bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadist Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Karena itu Rasulullah SAW bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang".
Dan sabdanya pula, "Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.(dari 1001 kisah teladan)
Rihat Humor
Hukum Tidur Telentang
Seperti biasa setiap bulan seorang kiai memberikan kajian khusus masalah fiqih di suatu pondok pesantren. Pada bulan ini beliau membahas tentang hukum tidur telentang. Kiai itu menjelaskan bahwa tidur telentang hukumnya haram karena membahayakan keselamatan jiwa manusia.
Sontak, seluruh santri di pondok pesantren yang hadir bengong dan terdiam sekaligus enggan untuk bertanya kepada kiai yang kharismatik itu. Walaupaun kiai itu menjelaskannya dengan senyum sabagaimana ciri kas para kiai Pondok Pensantren. Tidak terasa, pelajaran figih hukum tidur telentang usai dijelaskan meskipun waktu sudah larut malam dan para santri dalam keadaan kritis mengantuk.
Akhirnya jam dinding berdentang menunjukkan jam 12 malam. Ngaji di pondok pesantren tersebut telah usai. Tetapi dalam perjalanan pulang para santri terheran dengan hukum tidur telentang. Kontan, mereka para santri saling bertanya dan diskusi kecil dan mereka tidur dengan posisi badan miring takut dengan hukum tersebut.
Keesokan harinya pelajaran dilanjutkan dengan diskusi. Namun beberapa santri datang agak terlambat karena bangun agak terlambat. Pada saat diskusi ada seorang santri yang memberanikan diri untuk bertanya mengapa tidur telentang hukumnya haram.
Lalu kiai itu dengan tangkas dan penuh kebapakan berkata, ”Ya, sudah jelas tidur sambil 'telen' 'tang' itu membahayakan bagi keselamatan jiwa makanya hukumnya haram."
"Lha wong, anda tidur sambil telen air saja sulit, kok mau tidur telen tang apalagi bangun tengah malam untuk qiyamul lail,” jelas kiai itu mengakiri diskusi sambil tersenyum.(sumber: nu.or.id)
Uji Nyali
Seorang perwira ingin menguji keberanian para prajuritnya, lalu dia bertanya kepada salah seorang diantara mereka, “Kalau kamu melihat tentara musuh, apa yang kamu perbuat?”
Prajurit menjawab, “Saya akan menghujani mereka dengan peluru”.
Perwira bertanya, “Jika kamu bertemu dengan artileri musuh, apa yang kamu perbuat?”
Prajurit menjawab, “Saya akan melemparinya dengan bom”.
Perwira bertanya, “Jika kamu melihat tank atau pesawat tempur musuh, apa yang kamu perbuat?”
Prajurit menjawab, “Saya mundur sedikit kemudian menembak mereka dengan roket dan mortir”.
Perwira berkata, “Baik sekali, jika kamu melihat pasukan musuh yang lain?”
Prajurit berkata dalam keadaan marah, “Apa tidak ada orang selain saya dalam pasukan ini?”(dari buku Humor Orang-orang Cerdik & Bijak, Abdurrahman Bakar, hal: 19)
Konsultasi Agama
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz Navis yang terhormat, saya pernah melihat orang yang sedang shalat mematikan HP-nya yang sedang berbunyi. Mungkin dia lupa menonaktifkan HP itu sebelum shalat. Saya juga pernah melihat orang yang membaca SMS dan kemudian membicarakan SMS itu dengan teman di sebelahnya. Padahal, saat itu khatib Jumat sedang menyampaikan khotbahnya. Dari dua kejadian itu, saya ingin bertanya kepada Ustadz Navis:
- Bagaimana hukum mematikan bunyi handphone (HP) ketika sedang shalat? Apa tidak membatalkan shalat?
- Apa memang ada kewajiban untuk menonaktifkan HP sebelum shalat dimulai sebagaimana sekarang sudah menjadi anjuran tetap di masjid-masjid, baik diungkapkan melalui imam langsung maupun dalam bentuk tulisan yang ditempel?
- Kalau misalnya kita lupa menonaktifkan HP sebelum shalat, apa yang harus kita kerjakan ketika HP itu berbunyi?
- Bagaimana hukum membaca SMS dan lalu membicarakan SMS itu dengan teman ketika khatib sedang berkhotbah seperti kejadian di atas?
Terima kasih atas jawaban ustadz.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Abu Zen
Surabaya
Jawaban:
Walaikmussalam Warahmatullahi Wabarkatuh.
Abu Zen yang saya hormati. Shalat adalah paling sakralnya ibadah dan tiang agama serta pertama kali yang akan ditanyakan nanti di akhirat. Kalau shalatnya baik, maka akan baik seluruh amalnya dan begitu juga sebaliknya. Dengan demikian hendaknya seorang muslim mendirikan shalat dengan sebaik mungkin. Tepat waktu, memenuhi syarat rukunya, dan penuh khusyu' dalam pelaksanaanya serta dilaksanakan dalam keadaan berjamah
Shalat sudah sah kalau sudah memenuhi syarat rukun secara dzahir. Tapi shalat yang sah belum tentu di terima oleh Allah SWT jika tidak dilakukan dengan khusyu'. Hal ini sesuai firman allah SWT yang artinya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya," ( QS. Al-Ma'un: 4-5)
Agar shalat itu khusyu' ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya, hendaknya suasananya tenang, tidak bising dan tidak ada bunyi yang mengganggu pendengaran. Begitu juga ketika melaksanakan shalat Jumat hendaknya datang lebih awal, menempati shaf depan, tenang dan mendengarkan khutbah dengan konsentrasi penuh, tidak ngantuk dan tidak berbicara dengan temannya Abu Zen.
Dari penjelasan diatas pengasuh jawab pertanyaan anda sebagai berikut:
Mematikan bunyi HP pada saat shalat hukumnya boleh daripada mengganggu kekhusyuan orang yang sedang shalat, dan tidak batal shalatnya dengan syarat tidak melakukan gerakan 3X secara berturut-turut. Karena jika bergerak 3X berturut itu termasuk pekerjaan yang banyak membatalkan shalatnya.- Wamin mubthilatusshalah al'amal alkatsiir-( Matan Al-Ghoyah wa At-Taqriib. 64) juga berdasarkan fi'l Rasul bahwa, Rasulullah pada saat shalat pernah menggendong cucunya, ketika sujud diletakkan dan ketika berdiri digendong, tentu ketika mengambil cucunya itu melakukan gerakan, tapi dengan cara gerakan yang tidak sampai membatalkan shalat
Rasulullah sebelum melaksanakan shalat selalu mengingatkan makmum agar lurus shafnya karena itu menyempurnakan pelaksanaan shalat (Shawwu shufuufakaum faiina taswiyatassufufi mintamamisshalaah). Peringatan meluruskan shaf dan hal lain termasuk mematikan HP yang dapat menyempurnakan shalat itu dianjurkan
Jika HP-nya berbunyi pada saat shalat, kalau tidak mengganggu dibiarkan saja sampai mati sendiri. Tapi kalau mengganggu sebaiknya dimatikan. Caranya, bergeraklah pelan tanganya, dan tekanlah tombolnya lalu berhenti sejenak, kemudian kembali tangan ke tempat semula dengan pelan, hindari bergerak 3X secara berturut-turut
Membaca SMS dan membicarakan dengan temannya pada saat khotib berkhutbah, hukumnya haram dan shalat Jumatnya sia-sia. Seharusnya pada saat khutbah dibacakan, jamaah diam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Hal ini seperti yang diingatkan Rasulullah SAW: "Barang siapa yang berbicara pada hari Jumat, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka seperti keledai membawa buku. Dan yang berkata pada temannya, Diamlah.., maka sia-sialah Jumatnya". ( HR. Ahmad, Ib u Abi Syaibah, Al-Bazzar dan At-Thabrani). Begitu juga hadits Nabi yang sering diucapkan oleh bilal sebelum khotib naik mimbar : "Jika kamu berkata -Diamlah- pada temanmu pada hari Juma' sedangkan khotib sedang berkhutbah, maka sia-sialah kamu" –Idza qulta lishohibika yaumaljumati walimamu yakhtubu anshit faqot laghouta- (HR. Al-Jamaah)
Abu Zen yang dimuliakan Allah. Semoga dengan melaksanakan shalat dengan sempurna ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiin
Konsultasi Keluarga
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz Hasan yang saya hormati, saya ibu rumah tangga berusia 32 tahun dan mempunyai 2 orang anak. Belakangan rumah tangga kami kurang harmonis, karena suami saya selingkuh. Bahkan tiap kali bertengkar, suami saya selalu bilang, “Kita sudah tidak cocok lagi, bubar saja”. Saya pernah baca SMS di HP suami saya, ternyata dari selingkuhannya. Sakit hati saya ustadz setiap hari saya menangis. Bahkan, ibu saya pernah tanya ke suami saya tentang masalah itu, suami saya cuma menjawab bahwa dia tidak akan menelantarkan anak dan istrinya, tetapi saya belum sepenuhnya percaya. Suami saya juga sering melontarkan kata-kata kotor ke saya kalau sedang marah. Saya cuma bisa pasrah dan sabar, karena saya ingat anak-anak yang masih kecil-kecil. Saya benar-benar takut kalau dicerai oleh suami saya.
Yang ingin saya tanyakan:
- Bagaimana saya harus menghadapi masalah ini ustadz, saya tidak mau bercerai dan tidak mau suami saya selingkuh?
- Amalan apa yang harus saya lakukan agar saya tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan ini?
- Cobaan yang diberikan kepada saya, seakan-akan terus-menerus, selain suami selingkuh, masalah ekonomi yang semakin berat. Apa benar setiap cobaan atau kesulitan yang kita hadapi pasti ada kemudahan atau kebahagiaan?
Terima kasih atas jawaban ustadz, semoga Allah memberikan petunjuk bagi saya melalui jawaban ustadz.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Dwi R.
Jawaban:
Waalaikumussalam Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrohim.
Ibu yang dirohmati Allah, fahami bahwa kehidupan rumah tangga, ada saatnya Allah memberikan cobaan atau siksaan akibat kesalahan. Semuanya itu akan mudah terselesaikan jika suami istri menyadari kembali akan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya dan betapa pentingnya pertolongan Allah. Muhasabah atau koreksi diri sangatlah penting, walau sesungguhnya untuk itu bukan persoalan yang gampang.
Jika seseorang belum terbuka hati untuk muhasabah, maka dibutuhkan bantuan orang lain untuk menasehati, bukan istri saja, melainkan juga suami. Memahami kembali tujuan berkeluarga, Insya Allah akan mengantarkan sebuah rumah tangga kearah sakinah mawaddah warohmah yang sempat terlepas. Nasehat untuk keduanya mutlak diperlukan.
Jika hanya salah satu saja yang mendapat nasehat, sedang suami tidak mendapatkannya, maka tetap akan sulit berubah. Doa dan doa harus terus dipanjatkan. Allah berfirman: [2.45] Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,[2.46] (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Ibu yang dirohmati Allah akan halnya pertanyaan ibu :
- Lakukan :
a. Berdoalah terus menerus kepada Allah untuk diri sendiri dan terutama untuk suami. Perbanyak baca solawat nabi dan istighfar. Nabi bersabda : ”Barang siapa yang merutinkan istighfar (mohon ampun), maka Allah jadikan setiap kesempitan ada jalan keluar. setiap kegelisahan ada kelonggaran dan Allah memberikan rizki yang tidak tersangka ( HR Abu dawud )”.
b. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang selalu memohon pada-Nya.
c. Berikhtiarlah dengan dialog yang kondusif. Ajaklah suami untuk memahami kembali akan pentingnya tujuan menikah, apalagi sudah punya anak.
d. Jika tidak berhasil ajak suami untuk berkonsultasi pada orang yang mengerti dan dianggap mampu menyelesaikan.
- Selain solawat dan istigfar, baca juga doa: ”Yaa Allah, satukan hati kami dan damaikan kami ”. ”Yaa Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cintanya orang yang memberi manfaat padaku, cintanya disisi-Mu. Yaa Allah apa yang Engkau berikan padaku dari apa yang aku cintai, jadikan kekuatan untukku menuju apa yang Engkau cintai. Yaa Allah apa yang Engkau melarangku dari apa yang aku cintai, maka jadikanlah kekosongan itu, apa-apa yang mengantarkanku menuju sesuatu yang Engkau cintai”. Doa sabar: "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)" (QS 7:126).
- Ekonomi berat, bisa jadi adalah cobaan Allah atau bahkan siksaan karena kemaksiatan atau pelanggaran ajaran Allah, tetapi jangan berkecil hati, karena Allah selalu menyayangi hamba-Nya selama hamba memohon padaNya. Allah berfirman : [94.5] Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, [94.6] sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sebutkan dua kali pada ayat diatas, itu menunjukkan bahwa tidak ada kesulitan yang terus menerus asal selalu memohon padaNya.
Siroh
Masjid Dhirar
Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Urwah, Qatadah dan lainnya bahwa di Madinah ada seorang Rahib (pendeta) dari suku Khazraj bernama Abu Amir. Ia memeluk agama Nasrani di masa Jahiliah dan memiliki kedudukan penting dikalangan kabilah Khazraj. Ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah kemudian kaum Muslimin berhimpun disekitar beliau dan Islam pun telah menyebar luas, Abu Amir bangkit menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah SAW. Ia pergi ke Makkah meminta dukungan orang-orang Musyrik Quraisy untuk memerangi Rasulullah SAW.
Setelah melihat dakwah Rasulullah SAW semakin bertambah maju dan kuat, ia pun pergi menemui Heraclius, Raja Romawi, meminta bantuan untuk menghadapi Nabi SAW. Kepadanya Heraclius menjanjikan apa yang diinginkannya kemudian ia pun tinggal di negeri Heraclius. Dari tempat ‘pengasingannya’ ini ia menulis
Kemudian mereka membangun sebuah masjid didekat masjid Quba’. Masjid ini telah rampung mereka bangun sebelum Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk. Kemudian mereka datang kepada Rasulullah SAW, meminta agar Rasulullah SAW sudi kiranya shalat di masjid mereka untuk dijadikan dalih dan bukti persetujuannya. Mereka mengemukakan bahwa masjid tersebut dibangun untuk orang-orang yang tidak dapat keluar di malam yang dingin. Tetapi Allah melindungi beliau dari melaksanakan shalat di masjid mereka.
Nabi SAW menjawab: “Kami sekarang mau berangkat, Insya Allah nanti setelah pulang”. Sehari atau beberapa hari sebelum Rasulullah SAW tiba di Madinah dari perjalanan Tabuk, Jibril turun membawa berita tentang masjid Dhirar yang sengaja mereka bangun atas dasar kekafiran dan tujuan memecah belah Jama’ah kaum Mu’minin. Kemudian Rasulullah SAW mengutus beberapa sahabatnya untuk menghancurkan masjid tersebut sebelum beliau datang ke Madinah. Berkenaan dengan masjid ini turunlah firman Allah:
“Dan (diantara orang-orang munafiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat didalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba’) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat didalamnya. Didalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (at-Taubah: 107-108)
Beberapa ‘Ibrah
Kisah masjid ini merupakan puncak makar dan tipu daya yang dilakukan oleh orang-orang munafiq kepada Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Tindakkan ini bukan semata-mata kemunafiqan tetapi merupakan konspirasi dan rencana jahat terhadap kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW tidak membiarkan tindakkan ini tetapi mengambil sikap dan tindakkan tegas yang didasarkan kepada wahyu dari Allah. Sikap ini membongkar hakekat orang-orang menufiq dan sasaran-sasaran mereka yang dibungkus dengan kedok tersebut, kemudian menghancurkan dan membakar bangunan yang mereka namakan sebagai masjid padahal mereka membangunnya sebagai markas kegiatan untuk menghancurkan kaum Muslimin.
Kisah rencana jahat yang terakhir ini, disamping kisah-kisah makar sebelumnya, memberikan gambaran yang utuh kepada kita tentang hukum syari’at Islam mengenai orang-orang munafiq. Menurut hukum Islam, kita tidak boleh mengambil tindakan terhadap orang-orang munafiq kecuali sesuai dengan hal-hal yang bersifat lahiriah. Tentang hakekat dan hati mereka yang sebenarnya, kita serahkan kepada hukum Allah dihari Kiamat kelak. Tetapi terhadap konspirasi dan makar jahat mereka yang membahayakan kaum Muslimin, harus diambil tindakkan tegas bahwa kita harus menghancurkan setiap perangkap jahat dan tipu daya yang telah mereka bangun.
Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh keseluruhan kebijaksanaan dan sikap Rasulullah SAW terhadap orang-orang munafiq. Demikian pula kesepakatan hampir semua imam yang didasarkan kepada petunjuk Rasulullah SAW dalam masalah ini. Jika anda perhatikan langkah-langkah tipu daya yang dilakukan oleh orang-orang munafiq ini, anda akan mengetahui bahwa tabi’at kemunafiqan adalah sama disetiap waktu dan tempat. Sarana mereka tidak pernah berubah. Mereka senantiasa memilih kehinaan, melakukan makar jahat yang busuk, menjauhkan diri dari cahaya (Islam) dan memegang erat kegelapan. Merekalah yang senantiasa bersembah sungkem ditelapak kaki kaum penjajah asing untuk membantu mereka dalam memerangi Islam dan kaum Muslimin. Tetapi jika bertemu dengan kaum Muslimin, mereka berpura-pura mengagumi Islam dan berdakwah kepadanya.
Jika mereka mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan Islam dan membunuh sebagian para da’ih Islam, mereka akan mengumumkan bahwa mereka tengah melakukan misi pengembangan dan pembaharuan Islam dengan cara melenyapkan para ‘musuh Islam’. Selain itu, amalan Rasulullah SAW menunjukkan perlunya menghancurkan dan membakar tempat-tempat kemaksiatan, sekalipun tempat-tempat kemaksiatan tersebut disembunyikan dan ditutup-tutupi dengan berbagai kebaikan dan kemaslahatan sosial.
Kalau Rasulullah SAW saja membakar masjid dhirar maka apabila dengan tempat-tempat kemaksiatan dan kemesuman yang digelar secara terang-terangan. Umar bin Khathab ra pernah membakar satu desa secara keseluruhan karena didesa tersebut dijual minuman keras (khamar). Umar ra juga pernah membakar toko minuman keras milik Ruwaisyid ats-Tsaqofi dan menamankannya Fuwaisiq (sebagai ganti dari namanya yang asli Ruwaisyid). Mengenai masalah ini tidak ada perselisihan lagi dikalangan ulama kaum Muslimin.(dari Sirah Nabawiyah, hal: 413)
YP3IS Pusat
Pelatihan Manajemen Pengelolaan Zakat
Kamis (13/3), bertempat di Rumah Makan Pecel Pincuk di Jalan Raya Jemursari, Surabaya, YP3IS mengadakan pelatihan manajemen zakat bagi seluruh karyawannya, baik yang berada di kantor YP3IS Pusat maupun karyawan di cabang Sidoarjo, Gresik, Kediri dan Malang. Pelatihan yang bertema ‘Manajemen Pengelolaan Zakat Dan Pola Pembinaan LAZ’ tersebut menghadirkan pembicara Kushardanta S, yakni Direktur IMZ (Institut Manajemen Zakat).
Dalam materinya, Kushardanta salah satunya menyoroti tentang pentingnya sebuah yayasan pengelola dana masyarakat, menanamkan image yang positif dikalangan masyarakat luas. Salah satunya yakni dengan mengadakan promosi melalui media elektronik dan cetak, website, spanduk dan lainnya. Selain itu juga harus didukung SDM (sumber daya masyarakat) yang handal, profesional dan amanah. “Prinsip umum yang harus dikembangkan pengelola zakat yakni bersungguh-sungguh, kerja keras, kreatif, unik, profesional dan siap untuk dikoreksi,” papar Kushardanta.
Masih menurut Kushardanta, peran amil sangat besar sebagai ujung tombak yayasan dalam menghimpun dana. “Untuk itu, seorang amil harus bisa mengapresiasikan dirinya sendiri dengan tampil percaya diri, sebelum calon donatur mengapresiasikan diri kita dan yayasan,” tegasnya.(bam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar