Ermawati
Pendidikan Dan Keterampilan Penting Untuk Kemandirian
Memiliki pendidikan dan keterampilan yang tinggi, bagi gadis murah senyum ini, sangat mutlak diperlukan untuk bisa hidup mandiri serta membantu perekonomian keluarganya. Untuk itu, gadis bernama lengkap Ermawati ini, rela meninggalkan kampung halamannya di Blitar, guna meneruskan kuliah di MEC. Bahkan tekadnya tersebut semakin besar setelah bapaknya, Sutrisno, meninggal dunia sesaat setelah ia menyelesaikan ujian kelulusan di SMA I Blitar, tepatnya 5 Mei 2007 yang lalu.
“Meskipun sedih, saya berpikir, sebagai penyemangat saya meskipun bapak telah meninggal, saya bertekad untuk terus berjuang demi dia, seperti dia telah membesarkan saya sampai saat ini. Karena itu saya ingin menunjukkan, kalau saya harus bisa membuat orang tua bangga terhadap anaknya,” ujarnya ketika ditemui MAYA di Kampus MEC, Selasa (29/1). Kemudian, gadis yang memiliki hobi menggambar tersebut, mencoba mengikuti beberapa tes penerimaan beasiswa perguruan tinggi. Tetapi belum ada yang lolos.
Akhirnya suatu hari pamannya, seorang guru di Blitar, mendapat informasi tentang YP3IS yang membuka pendaftaran bagi anak yatim untuk dikuliahkan secara gratis di MEC. Informasi tersebut, lantas diberitahukan ke Ermawati yang tanpa berpikir dua kali, langsung melengkapi syarat-syarat administrasi untuk mengikuti tes masuk MEC.
“Selain biaya kuliahnya yang gratis, saya tertarik karena di MEC juga ada jurusan akutansi. Dan syukur Alhamdulillah, setelah mengikuti tes masuk dan saya pun dinyatakan lolos dan berhak menjadi mahasiswa MEC,” terang gadis kelahiran Blitar pada tanggal 3 April 1988 ini sembari tersenyum.
“Tak hanya itu, biaya hidup selama setahun kuliah di MEC ditanggung oleh YP3IS, dan untuk istirahatnya telah disediakan asrama oleh Pusdiklat YP3IS. Sehingga saya merasa benar-benar fokus untuk menuntut ilmu di MEC ini, serta memperbanyak keterampilan,” lanjutnya bersemangat.
Dari sinilah Ermawati semakin yakin bisa hidup mandiri dan kelak dapat membantu ibunya, Hariningsih yang bekerja sebagai buruh tani dan membantu biaya sekolah adiknya. “Kelak setelah mendapat pekerjaan, saya ingin membantu ibu dan adik di Blitar, dan sisanya ditabung untuk bekal masa depan saya,” harapnya.(bam)
Rihat
Guru Harus Bisa Memberdayakan Anak Didiknya
Sosok guru ideal yang bisa memberdayakan anak didiknya, harus memiliki kualifikasi akademik minimal S1, mempunyai kecerdasan religi, kecerdasan emosional dan sosial, kecerdasan profesional. Serta bersertifikat pendidik dan memiliki kompetensi kepribadian, hal ini yang diungkapkan Prof Dr Haris Supratno, yang juga Rektor Unesa, pada Seminar Nasional bertema Pendidikan Yang Memberdayakan, yang diadakan oleh Ikatan Alumni Unesa pada Sabtu (9/2) di Gedung Auditorium Rektorat Unesa, Jalan Raya Ketintang, Surabaya. Masih menurut Haris, cara memberdayakan guru untuk peningkatan profesionalisme guru yakni dengan mengikuti berbagai seminar pendidikan, pendidikan dan latihan, pemilihan guru teladan serta sertifikasi.
“Karena peran guru dalam pemberdayaan pendidikan yaitu menanamkan iman, taqwa dan budi pekerti yang luhur, menjadi contoh atau teladan bagi siswanya dan masyarakat,” ujar Haris.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Sahudi, memaparkan kebijakkan yang telah dilakukan departemennya dalam mendukung pendidikan yang memberdayakan. “Kebijakkan tersebut meliputi memberikan subsidi bagi siswa yang berasal dari masyarakat yang tidak mampu, meningkatkan kualitas pendidik maupun tenaga kependidikan yang profesional dan berkompetensi, serta memperluas sekolah bermutu unggul disetiap kawasan kota Surabaya ,” jelas Sahudi.
Turut hadir sebagai pembicara pada seminar yang mayoritas pesertanya para guru, mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tersebut, Direktur Ketenagaan Dirjen Dikti Depdiknas, Prof Dr Muchlash Samani M.Pd.(bam)
Kisah Kediri
Suhariyanto
Ingin Menjadi Peternak Ikan Hias Dan Membahagiakan Orang Tua
Dari bekal keterampilannya memelihara ikan hias, sosok pemuda ini mempunyai keinginan bisa menjadi seorang peternak ikan hias dan hasilnya untuk membantu perekonomian keluarganya. Itulah harapannya kelak, selepas lulus STM dan di panti asuhan. Suhariyanto, itulah nama lengkap pemuda yang murah senyum ini. ia sekarang telah duduk dibangku sekolah kelas III, di STM Ngadiluwih,
Bapaknya yang bernama Fadlan dan ibunya, Kasmuni, adalah bekerja sebagai buruh tani di kampung halamannya, Lamongan. Sebagai buruh tani, jelas penghasilan orang tuanya tidaklah seberapa untuk menghidupi ketiga anaknya. “Saya sering merasa kasihan dengan kedua orang tua saya. Mereka bekerja keras untuk bisa membiayai sekolah ketiga anaknya,” kenang pemuda kelahiran Lamongan, pada tanggal 25 Februari 1989 ini.
Kemudian timbul keinginannya untuk bisa tinggal di sebuah panti asuhan. Karena menurut anak kedua dari tiga bersaudara ini, dengan tinggal di panti asuhan, beban ekonomi keluarganya bisa lebih ringan.
“Semua biaya sekolah dan biaya hidup, ditanggung oleh pihak panti asuhan. Selain itu, saya juga ingin memperdalam ilmu agama di panti asuhan,” ujarnya.
Tak lama kemudian, saat ia duduk dibangku sekolah kelas I STM di Lamongan, tepatnya tahun 2005, tetangganya datang menemui dan mengajaknya untuk tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Kras, Dusun Brenjuk, Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Kedua orang tuanya sempat tidak setuju, Suhariyanto tinggal di panti asuhan. Pasalnya, kedua orang tuanya khawatir Suhariyanto kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan panti asuhan tersebut, dan dinilai anaknya yang pemalu dan pendiam.
“Mungkin dari situlah kedua orang tua saya tidak setuju tinggal dipanti. Sebab diperkirakan saya tidak bisa bersosialisasi dengan anak-anak lainnya yang tinggal dipanti. Tetapi setelah saya utarakan maksud dan tujuan dengan tinggal di panti, yakni ingin meringankan beban ekonomi keluarga, juga untuk memperdalam agama. Alhamdulillah, akhirnya kedua orang tua saya setuju dengan pendapat saya tersebut,” terangnya ketika ditemui MAYA, Senin (4/1), dipinggir kolam ikan milik Panti Asuhan Muhammadiyah Cabang Kras,
Lantas Suhariyanto berangkat ke
Awalnya tinggal di panti asuhan tersebut, Suhariyanto mengaku kesulitan untuk beradabtasi dengan lingkungan dan teman barunya. Sehingga, aktifitasnya sehari-hari banyak ditemani oleh Sujatmiko. “Karena ini adalah yang pertama kali saya tahu kondisi di panti asuhan itu. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, sebab pihak pengurus panti memberikan berbagai macam keterampilan untuk bekal hidup masa depan saya kelak. Dengan berbagai macam keterampilan itulah, akhirnya saya bisa membiasakan dan beradaptasi dengan lingkuangan panti asuhan itu. Keterampilan itu berupa cara bagaimana menjadi peternak ikan, menjahit pakaian dan lainnya,” katanya sembari tangan kanannya menaburkan makanan ikan ke kolam.
Dari situlah kemudian timbul kesenangan dan keasyikannya memelihara ikan hias, meskipun dikolam tersebut juga ada ikan gurame dan lele. Oleh pihak pengurus panti asuhan, pemuda ini lantas diajari cara-cara memelihara ikan hias. Mulai dari cara memberi makan dan cara memisahkan antara ikan besar dengan ikan yang baru lahir. Menurut Suhariyanto, jika ikan besar dan kecil itu tidak dipisah, maka ikan yang besar akan memakan ikan kecil yang baru lahir tersebut.
“Serta juga diajari bagaimana cara menjualnya kepasar sekaligus menentukan harga ikan tersebut, ketika akan dijual,” lanjut pemuda yang hobi main bola ini. Dari sekian banyak jenis ikan hias, ada satu ikan yang sangat ia gemari. Yakni ikan Mamphis, sebab ikan tersebut memiliki keunikan tersendiri pada bentuk tubuhnya, dan jumlahnya pun mencapai 1000 ekor. Dari ketekunan dan keasyikannya memelihara ikan hias itulah, yang menimbulkan keingannya kelak untuk menjadi seorang peternak ikan hias, selepas lulus STM.
“Saya sangat berterima kasih sekali kepada panti asuhan ini. Karena saya diberi berbagai macam keterampilan, salah satunya keterampilan beternak ikan hias,” paparnya. Dengan menjadi peternak ikan hias, kelak ia ingin membantu meringankan beban perekonomian keluarganya dari sebagian hasil menjual ikan hias tersebut.
Suhariyanto merasa bahwa, ketika telah memiliki penghasilan sendiri, itulah saatnya ia harus membalas budi kepada kedua orang tuanya. “Saya kalau ingat orang tua yang tinggal di Lamongan, sering menangis sendiri. Biasanya disaat menjelang tidur malam, saya kerap menangis kalau ingat orang tua. Tapi ya mau bagaimana lagi, saya harus tetap tegar dan harus tekun belajar memperdalam ilmu agama di panti ini,” terangnya.
Meskipun ia memutuskan ingin langsung bekerja, ia juga mengaku sangat ingin meneruskan kuliah. Tetapi karena tidak mempunyai biaya kuliah itulah, yang membuat Suhariyanto pesimis dapat melanjutkan kuliah. Ia sangat berterima kasih sekali jika ada yang membiayainya kuliah.
Konsultasi Keluarga
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Ustadz Hasan yang terhormat, saya seorang istri ingin curhat. Sudah sekitar 1 bulan hubungan saya dengan keluarga suami tidak harmonis. Penyebabnya hal sepele, saya sempat kres dengan adiknya, tapi kita semua sudah saling memaafkan berkat bantuan orang tua saya. Tapi sikap mertua dan kakak perempuannya masih saja menyimpan dendam. Sejujurnya saya juga masih jengkel akibat masalah itu, tapi saya berusaha melupakan. Tapi sikap mertua dan kakaknya membuat rasa jengkel saya timbul lagi. Seperti contohnya suami saya beberapa hari tidak telepon ibunya, langsung saja bapaknya menuduh saya yang tidak memperbolehkan telepon, atau kalau telepon anak saya (umur 2 th) saya kadang coba ikut bicara tapi tidak pernah dijawab, saya jadi jengkel dan berpikir orang tua macam apa kok tidak bisa bersikap bijaksana, sedangkan saya sudah menganggap mereka seperti orang tua saya sendiri. Mereka juga bilang sudah menganggap saya seperti anaknya sendiri, tapi kenyataannya nol. Yang saya tanyakan Pak Ustadz:
- Saya harus bersikap bagaimana kepada mertua dan saudara ipar saya? Karena terus terang saya juga masih jengkel dengan mereka.
- Saya tidak pernah dendam dengan mertua saya karena bagaimanapun dia orang tua suami saya yang otomatis juga jadi orang tua saya. Tapi saya tidak suka dengan sikap kakak perempuannya yang suka ikut campur. Bagaimana saya harus bersikap dengan kakaknya?
- Saya sebenarnya sudah capek, jadi saya putuskan kalau mereka baik saya terima baik, tapi kalau mereka jahat ya saya tidak mau dekat-dekat. Apakah benar pemikiran saya yang seperti itu?
Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas tanggapan pak Ustadz
Wassalamu'alaikum. Wr.Wb
Yeni, Sidoarjo.
Jawaban:
Waalaikmussalam wr. Wb.
Ibu yang dirohmati Allah, sebelum menjawab pertanyaan ibu, ada baiknya ibu memahami terlebih dahulu beberapa ayat dan hadits yang menggambarkan betapa besar pahala orang yang memberi maaf .
Allah berfirman :
[7.199] “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”
[15:85] ”maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”
[24:22] ” dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[3.133] Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
[3.134] (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
[42.43] Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.
Rasulullah bersabda : ” Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang menang dalam berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ( nafsunya ) ketika marah”.( H.R. Bukhori-Muslim ).
” Marah adalah pintu dari segala kejelekan ”.
” Marah itu datang dari syetan. Syetan tiu berasal dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Karena itu, apabila kamu marah, ( segeralah ) berwudlu. ( HR. Abu Daud ).
Ibu yang dirohmati Allah, ketika seseorang itu mendapatkan perlakuan yng tidak baik dari orang lain, maka ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, karena ujian dari Allah, yang dimaksudkan untuk menguji kesabaran dan pada akhirnya peningkatan derajat disisi Allah. Dalam hal ini banyak orang yang tidak kuat. Semoga ibu termasuk orang kuat. Kedua, karena kesalahan diri sendiri pada orang lain. Dalam hal ini, ibu sebaiknya koreksi diri dan minta maaf. insyaAllah persoalan akan lebih mudah penyelesaiannya.
Akan halnya pertanyaan ibu :
- Sesuai dengan penjelasan diatas, sebaiknya ibu koreksi diri, apa kira-kira yang menyebabkan mertua dan saudara ipar berbuat seperti itu ?. Tidak perlu jengkel, sebab jengkel itu penyakit hati. Perbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar.
- Sering keluarga suami atau istri ikut campur dalam urusan keluarga. Sangat baik jika ibu bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Sebab sering Allah memberikan ilmu, kesabaran melalui cara-cara yang Allah sendiri yang lebih tahu untuk hambaNya. Termasuk yang ibu alami. Karena itu bersikaplah dengan sikap yang terbaik, jangan membalas dengan cara yang tidak baik pula, sebab suasana akan menjadi lebih meruncing dan akibatnya sangat mengganggu hubungan keluarga.
- Sama sekali tidak benar. Allah berfirman : ” jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". ( QS 12: 87 ). [23.96] Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. [41.34] Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.
Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik. Amin
Konsultasi Agama
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz Navis yang terhormat, saya ingin menanyakan beberapa hal. Begini, saya
1. Saya
2. Pada waktu saya menimbang barang masuk dari luar, saya disuruh mengurangi oleh atasan saya berat barang tersebut. Sebaliknya, kalau ada barang keluar atau menjual barang saya disuruh atasan untuk menambah berat barang tersebut. Yang saya tanyakan: apakah saya juga berdosa telah menuruti perintah atasan saya tersebut?
Kedua masalah inilah yang membuat saya bingung, atau sebaiknya saya keluar saja dari perusahaan ini yang bertentangan dengan kejujuran. Tolong saya diberi jalan keluarnya, ustadz!
Demikian pertanyaan saya dan atas jawaban ustadz, saya sampaikan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Mukti Aji
Jawaban:
Pak Mukti Aji yang saya hormati. Seorang bekerja di sebuah perusahaan statusnya menurut fiqh adalah pekerja ( ummal) dan seorang pekerja punya hak dan kewajiban. Hak seorang pekerja mendapatkan upah sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kewajibannya harus bekerja sesuai tugas yang dibebankan. Dan sesuai tuntunan Al-Qur'an paling baiknya pekerja itu yang punya dua sifat, yaitu kuat dan dapat dipercaya.
1. Tugas anda sebagai operator telepon adalah menerima orang yang telepon (pak Dadang) dan menyampaikannya kepada yang dituju (pak Eka). Jika anda tidak menyampaikannya berarti anda tidak melaksanakan amanah, padahal amanah harus disampaikannya. Hal ini sesuai firman Allah SWT: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya," ( QS. An-Nisa'. 58)
Sedangkan perintah pak Eka agar dibilang sibuk atau keluar kantor itu perkataan bohong, sedangkan bohong itu maksiat dan anda sebenarnya tidak boleh taat kepada orang yang mengajak maksiat kepada Allah SWT. Sesuai sabda Rasulullah SAW: "Tidak boleh taat kepada satu makhlukpun yang menyuruh maksiat kepada Sang Kholiq". ( HR. Muslim)
Jadi, jika anda terima telpon seharusnya disampaikan kepada yang dituju dan diinformasikan sesuai apa adanya yang anda ketahui. Jika dituju tidak mau menerima dan anda menjawab kepada penelpon dengan tidak jujur, maka berarti anda sudah berbuat dosa dan membantu orang yang berbuat dosa. Padahal kita tidak boleh membantu orang lain berbuat dosa dan permusuhan.
2. Anda sudah berbuat dua kesalahan. Pertama, taat peritah orang yang menyuruh berbuat maksiat. Dan yang kedua mengurangi timbangan. Padahal Allah SWT sangat murka kepada orang yang suka mengurangi timbangan yang jika menimbang punya orang minta dilebihkan, tetapi kalau nimbang miliknya dikurangi. Bahkan umat terdahulu banyak yang kena adzab Allah karena suka mengurang timbangan. "Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi." ( QS. Al-Muthaffifin.1-3)
Pak Mukti Aji. Memang sangat sulit mencari orang yang jujur dalam berdagang, makanya Rasulullah memberi penghargaan kepada pedagang yang jujur dengan masuk surga lebih awal. Jika anda masih ada pekerjaan lain yang lebih bersih dan jujur sebaiknya anda pindah ke tempat lain. Tapi kalau belum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, sedangkan jika keluar akan menimbulkan madlarrat yang lebih besar karena tanggungan keluarga yang tidak terpenuhi, maka sementara dapat bertahan di tempat kerjanya dengan berusaha meminimalisir mungkin kecurangan dan kebohongan. Walaupun tidak sepenuhnya taat pada pimpinannya yang menyuruh curang dan bohong. Semoga Allah memberi jalan keluar dari permasalahan anda dan diberikan rizqi yang halal dan berkah. Amiin yaa mujibassailiin
Siroh
Kemesraan Nabi Bersama Istri
Pada dasarnya, mengetahui kehidupan rumah tangga Nabi adalah hal yang sangat urgen. Sebab, peran beliau sebagai suami yang menjadi dambaan bagi para istri adalah teladan baik bagi kita semua. Terlebih bagi keluarga Muslim. Hal itu, tak terkecuali dalam seni Nabi berinteraksi dengan para istri. Kendatipun beliau adalah seorang nabi, pemimpin negara dan panglima perang, beliau tetap bersikap romantis kepada istri-istri beliau. Jauh melebihi kemesraan kita kepada istri kita.
Suami meletakkan mulutnya pada tempat bekas mulut istrinya
Aisyah berkata: “Pernah aku minum, sedangkan aku pada saat itu dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan minum tersebut kepada Nabi (dari bejana yang sama), dimana beliau menempelkan mulutnya persis ditempat bekas aku minum, lalu beliau minum. Pernah pula aku makan daging yang tersisa dari tulang dengan menggigitnya, sedangkan aku dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan daging itu kepada Nabi, lalu beliau meletakkan mulutnya pada bekas mulutku”.
Seni bergaul setelah Jima’ (Bersetubuh)
Aisyah berkata: “Aku mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana, aku mendahuluinya dan dia mendahuluiku (mengambil wadah) sampai-sampai dia berkata, “Tinggalkan untukku”. Dan aku berkata, “Tinggalkan untukku”.
Hendaklah suami istri mandi janabat disatu tempat, dan keduanya saling berangkulan dibawah pancuran air, tertawa dan bergembira disela-sela mandi, yang romantis dan mampu menambah kecintaan dan kasih sayang. Dan istri pun merasakan ketenangan serta ketentraman, dan ia tahu bahwa ia bukanlah semata-mata tempat penyaluran syahwat saja. Hanya saja ia adalah wanita yang memiliki hak dan kedudukan pada diri suaminya. Dan dalam suatu keadaan, suami istri bisa saling memandikan satu sama lainnya, baik karena suatu kebutuhan atau karena urusan tertentu. Sebab setelah mandi akan melahirkan akhlak yang baik.
Aisyah berkata: “Bahwasanya Rasulullah mandi janabat, kemudian beliau menghangatkan dirinya padaku sebelum aku mandi”.
Mencium istri sebelum atau disela-sela ibadah dan disaat berpisah dan berjumpa
Aisyah telah meriwayatkan, bahwa Rasulullah menciumnya sedangkan belaiu sedang berpuasa. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya ciuman itu tidak membatalkan wudlu dan tidak membuat buka orang yang berpuasa”. Dan beliau bersabda, “Wahai Humaira (panggilan untuk Aisyah), sesungguhnya dalam agama kita terdapat kelapangan”. Dan dia berkata, “Rasulullah tetap berpuasa, beliau mencium dibagian mana saja dari wajahku hingga beliau berbuka”.
Mencium istri sebelum pergi
Aisyah berkata, “Bahwasanya Rasulullah berwudlu, kemudian beliau keluar hendak shalat, beliau lalu menciumku, kemudian beliau shalat tanpa memperbarui wudlu”.
Diantara hal yang termasuk sunnah adalah, hendaklah seorang laki-laki mencium istrinya sebelum dia keluar untuk melakukan shalat, atau sebelum dia berdiri mengerjakan shalat kemudian dia bertakbir setelah memberi ciuman. Ini adalah satu etika dan keromantisan yang sangat mengesankan.
Istri menyisir rambut suaminya
Dalam sebuah riwayat Aisyah berkata, “Bahwa Nabi jika beri’tikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku. Kemudian aku menyisirnya, sedang aku dalam keadaan haid”.
Suami istri membiasakan olahraga
Diantara seni bergaul dan penggambaran yang indah lagi romantis adalah perlombaan Rasulullah bersama istri beliau, Aisyah. Bayangkan! Makhluk Allah teragung paling bertaqwa, paling dekat kepada-Nya dan panglima agung pun berlomba dengan istrinya. Aisyah berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah (dalam sebuah perjalanan) dan aku ketika itu masih kurus. Lalu kami berhenti disebuah tempat perhentian, beliau kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Majulah kalian terlebih dahulu”. Yakni hingga tak seorang pun dari mereka melihat istri beliau dan gerakkannya disaat perlombaan. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Kemarilah hingga aku berlomba denganmu”. Lalu beliau berlomba dengaku dan aku mampu mendahuluinya.
Dikesempatan lain aku keluar bersama beliau dalam sebuah perjalanan, dan waktu itu badanku telah gemuk (dan aku lupa). Lalu kami berhenti ditempat perhentian, dan beliau berkata kepada para sahabatnya, “Majulah kalian”. Lalu beliau berkata kepadaku, “Kemarilah aku akan berlomba denganmu”. Lalu kukatakan, “Bagaimana bisa aku berlomba denganmu wahai Rasulullah, sedangkan aku dalam keadaan seperti ini?” Beliau menjawab, “Engkau pasti bisa”. Kemudian beliau lomba bersamaku dan beliau mendahuluiku. Lalu beliau menepuk bahuku seraya berkata, “Ini balasan dari (perlombaan) yang dulu”.
Berlemah-lembut ketika sakit
Nabi adalah orang yang penyayang lagi lembut. Dan beliau akan menjadi orang yang paling lembut dan paling banyak menemani ketika istrinya sedang mengadu dan sakit. Sebagaimana ucapan Sayyidah Aisyah, istri Nabi. Sayyidah Aisyah berkata, “Ketika kematian menghampiri Nabi dan kepala beliau berada diatas pangkuanku, beliau jatuh pingsan beberapa saat. Kemudian beliau sadar dan matanya terbuka menatap ke atap, lalu beliau berkata, Ya Allah, (pertemukan diriku dengan) kumpulan orang-orang mulia (yaitu para nabi di surga).
Dan Aisyah mengabarkan bahwasanya dia telah mendengar Rasulullah berkata sebelum beliau meninggal. Beliau bersandar pada dada Aisyah, dan Aisyah mendengar ucapan beliau, “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku dan pertemukanlah aku dengan para teman (nabi yang mulia)”.
Dan Aisyah menjelaskan tata cara bersandar dengan terperinci, dia berkata, “Beliau menyandarkan punggungnya padaku”. Punggung beliau bersandar pada perutnya, dan kepala beliau berada didadanya. Semacam ini adalah sebuah pemandangan yang sangat indah bagi suami istri yang saling mencintai.
Berlemah-lembut bersama istri yang pecemburu
Suatu saat Nabi berada disisi Aisyah, lalu salah seorang istri Nabi mengirimkan makan kepada beliau dalam sebuah piring besar. Ketika Sayyidah melihat sepiring makanan itu, dia lalu memukul tangan pelayan hingga piring tersebut jatuh dan pecah. Nabi lalu mengambil dua pecahan piring tersebut dan menyatukan kembali dengan yang lainnya dan mengumpulkan makanan tersebut didalamnya. Beliau lalu berkata, “Makanlah kalian, ibu kalian telah cemburu!” Aisyah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa tebusan terhadap yang kulakukan?” Beliau menjawab, “Bejana dengan bejana. Dan makanan dengan makanan”. Kemudian piring yang masih baik diserahkan kepada yang berhak, dan piring yang pecah ditinggal dirumah Aisyah.
Perdamaian antara suami istri
Nu’man bin Basyir berkata: Suatu kali Abu Bakr datang meminta izin kepada Nabi SAW. Dia lalu mendengar Aisyah meninggikan suaranya terhadap Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengizinkannya, lalu dia pun masuk seraya berkata, “Wahai putri Ummi Ruman!” Kemudian Abu Bakr mendekati Aisyah hendak menempelengnya, seraya berkata, “Apakah kamu meninggikan suaramu terhadap Rasulullah?” Nu’man melanjutkan ucapannya, kemudian Nabi menghalangi antara Abu Bakr dan Aisyah serta menahannya.
Ketika Abu Bakr keluar dalam keadaan marah, Nabi kemudian berkata kepada Aisyah ‘meminta kerelaannya’, seraya berkata, “Tidakkah engkau melihat bahwasannya aku telah menghalangi antara seorang laki-laki (bapakmu) dengan dirimu? Bagaimana engkau melihatku ketika aku menyelamatkanmu dari laki-laki tersebut (bapakmu)?” Kemudian Abu Bakr datang kembali dan meminta izin kepada Nabi. Beliau mengizinkannya, lalu dia masuk. Dan mendapati Nabi sedang bersenda gurau dengannya. Kemudian Abu Bakr berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah ikut sertakanlah saya dalam perdamaian kalian berdua, sebagaimana kalian telah mengikut sertakanku dalam pertengkaran kalian”. Lalu Nabi berkata, “Sungguh kami telah melakukan, sungguh kami telah melakukan (silahkan saja)”.(dari buku Kemesraan Nabi Bersama Istri, Adib Al-Kamdani)
Doa Nabi Muhammad Dalam Al-Qur’an
Penyerahan Diri, Ampunan dan Keselamatan
Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar. Rabbanaa innaka manntudkhilinnaara faqad akhzaitahu wamaa lizhzhaalimiinamin anshaar. Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyyayyunaadii lil’iimaani an aaminuu birabbikum fa’aamanaa rabbanaa fagfirlanaa dzunuubanaa wakaffir ‘annaa sayyi’aatinaa wa tawaffanaa ma’al’abraar. Rabbanaa wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika walaa tukhzinaa yaumalqiyaamati innaka laa tukhliful mii’aad.
Artinya:
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan kedalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan penyeru (Rasul) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah segala dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbuat bakti. Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami, dengan perantaraan Rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sungguh Engkau takkan menyalahi janji.(QS, Ali ‘Imran, 3:191-194). (dari buku Doa, Dr Miftah Faridl)
Hikmah
Kelebihan Berselawat ke Atas Rasulullah SAW
Rasulullah S.A.W telah bersabda bahawa, "Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku.
Berkata Jibril A.S. : "Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar."
Berkata pula Mikail A.S. : "Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu."
Berkata pula Israfil A.S. : "Mereka yang berselawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah S.W.T dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T mengampuni orang itu."
Malaikat Izrail A.S pula berkata : "Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi."
Apakah kita tidak cinta kepada Rasulullah S.A.W.?
Dengan kisah yang dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan melepaskan peluang untuk berselawat ke atas junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah, Rasul dan para malaikat.(dari 1001 Kisah Teladan)
Rihat
Gugur Kewajiban Shalat
Seorang yang sering ragu dan was-was datang kepada Majelis al-Faqih bin ‘Uqail. Ketika duduk, dia berkata kepada Faqih, “Saya menyelam kedalam air berkali-kali, setelah itu saya ragu, apa saya sudah suci atau belum. Bagaimana pendapat anda tentang hal ini?”
Ibnu ‘Uqail berkata, “Pergilah! Telah gugur kewajiban shalatmu”. Orang itu kaget dan berkata, “Bagaimana bisa?”
Ibnu ‘Uqail berkata, “Nabi SAW bersabda, ‘Diangkat pena (gugur kewajiban) dari tiga orang: orang gila sampai dia sembuh’. Dan menurutku, barangsiapa yang menyelam kedalam air berkali-kali seperti kamu, kemudian tidak mengetahui apa sudah mandi apa belum, maka tidak diragukan lagi bahwa dia telah gila”.(dari buku Humor Orang-orang Cerdik & Bijak, hal: 79)
Dari Setetes Air
Pada masa perang Badr, Rasulullah melakukan kegiatan mata-mata bersama sahabat karib beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tatkala beliau sedang berputar-putar di sekitar pasukan Makkah, tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang Arab yang sudah tua. Untuk penyaramaran, beliau bertanya kepadanya tentang kondisi kedua pasukan. Pasukan Quraisy dari Makkah, dan Pasukan Muhammad dari Madinah. “Aku tidak akan memberitahukan kepada kalian sebelum kalian memberitahukan kepadaku, dari mana asal kalian berdua,” kata orang tua itu.
“Beritahukan kepada kami, nanti kami beritahukan kepadamu dari mana asal kami,” sabda beliau.
“Jadi begitukah?” tanya orang tua itu.
“Benar,” jawab beliau.
Orangtua itu pun mengatakan apa yang diketahuinya tentang kedua pasukan kepada Rasulullah.
Setelah itu, orangtua tersebut bertanya, “Lalu…, dari mana asal kalian berdua?”
Beliau menjawab, “Kami berasal dari setetes air”.
Setelah itu beliau beranjak pergi meninggalkan orangtua itu terlongong keheranan. Akhirnya orang tua itu cuma bisa bergumam, “Dari setetes air yang mana? Ataukah dari setetes air di Irak?” (Sumber: rabbaniunand.or.id)
Kebersamaa Sidoarjo
ADIRA FINANCE Area Jawa Timur
Harus Memuliakan Anak Yatim
Karena jiwa sosial yang tinggi dan atas kesadaran para karyawan Adira Finance Area Jatim untuk selalu membantu dan menyantuni anak-anak yatim, mereka pun dengan sukarela dan sangat antusias untuk bergabung dengan YP3IS. Seperti yang diungkapkan Anang Hari Prasetyo, yang jabatannya sebagai Custodian Head Area Jatim, awalnya ketika YP3IS masuk di Adira Finance pada tahun 2006, sudah ada 10 orang karyawan yang langsung bergabung menjadi donatur.
“Dari situlah kita tahu, bahwa YP3IS direspon sangat bagus di Adira Finance ini. Dan awalnya, kordinatornya dipegang oleh Erna yang beberapa waktu kemudian diserahkan ke saya, karena ia mengambil cuti panjang untuk melahirkan,” terang pria kelahiran Nganjuk 2 Januari 1971 ini, ketika ditemui MAYA Kamis (31/1) dikantornya di Ruko Getway B 21-23, Sidoarjo.
Kemudian lambat laun, Anang pun mulai mengajak rekan-rekannya yang lain untuk ikut bergabung dengan YP3IS dalam menyantuni para anak yatim yang ada di panti asuhan Sidoarjo ini. Untuk menarik minat karyawan lainnya, Anang mengaku tidak kesulitan. Karena dasarnya memang rekan-rekannya memiliki jiwa sosial dan sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk membantu anak yatim.
“Saya hanya memberikan Majalah Yatim yang setiap bulannya rutin dikirim kesini. Dan mereka pun atas kesadarannya sendiri langsung tertarik dan bergabung menjadi donatur di YP3IS. Jadi kita melakukannya mengalir saja, tidak perlu kiat-kiat khusus untuk menarik minat mereka menjadi donatur di YP3IS,” jelas Anang.
Sementara itu menurut Budiono, karyawan di bagian IT Area Jatim yang juga donatur YP3IS, tertarik untuk membantu anak yatim karena memang perintah dari Allah. “Di Al-Quran pun juga disebutkan untuk selalu membantu dan menyantuni anak yatim. Dan jangan menganiaya anak yatim, kalau bisa malah kita harus memuliakan anak-anak yatim tersebut,” ujar pria kelahiran
Dan ia pun merasa bangga melihat kesadaran rekan-rekannya untuk membantu dan menyantuni anak-anak yatim yang ada di panti asuhan-panti asuhan, dengan melalui YP3IS. Mereka pun tidak perlu ragu untuk menyerahkan sebagian penghasilannya guna membantu anak yatim melalui YP3IS. Karena mereka percaya, YP3IS adalah benar-benar lembaga yang amanah dalam mengelola dana dari donaturnya.
“Selain itu, laporan-laporan pemanfaatan dananya juga diberitahukan ke donaturnya dan masyarakat luas melalui Majalah Yatim,” kata Budiono. Baginya yang terpenting, menyantuni anak-anak yatim itu harus ikhlas dan benar-benar karena perintah Allah semata, dan bukan karena yang lainnya.(bam)
Kebersamaan Surabaya
PT Dewata Freight International, Surabaya
Memajukan Dan Memintarkan Anak Yatim
Karena YP3IS adalah lembaga yang fokus membina dan membantu anak-anak yatim yang ada di panti asuhan – panti asuhan, hal inilah yang menjadi daya tarik karyawan PT Dewata Freight International, di Jalan Perak Timur nomor 512 Blok J-5, Surabaya, untuk bergabung menjadi donatur di YP3IS. Seperti yang diungkapkan Indro Kirono, Marketing And Commercial Manager, bahwa donasi dari donatur YP3IS banyak mengalir untuk membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim yang ada di panti asuhan.
“Karena lembaga ini banyak memberikan informasi donaturnya lewat Majalah Yatim secara lengkap. Bahkan untuk mengikuti program Orang Tua Asuh, para donaturnya diberikan informasi lengkap tentang profil anak asuhnya,” jelas pria kelahiran
“Sekarang bisa kita bayangkan, kalau 1 orang saja itu mengasuh 1 anak yatim, kalau 10 orang dari karyawan kami, sudah bisa membantu 10 anak yatim. Bayangkan kalau semua umat Islam yang hanya mengeluarkan uang minimal 30.000, itu sudah bisa membantu pendidikan bagi ribuan anak yatim,” terang pria yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Ubaya, Unair, Perbanas dan Wijaya Putra ini. “Kalau anak-anak yatim tersebut pendidikannya terlantar, yang dosa itu ya kita sendiri. Orang Islam itu harus pintar. Lha mangkanya ini program bagus di YP3IS, karena memajukan dan memintarkan anak-anak yatim, secara tidak langsung membuat umat Islam ini semakin terangkat, itu yang menjadi fokus kami saat ini,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa respon rekan-rekannya sangat positif dengan masuknya YP3IS diperusahaan tersebut. Hal ini nampak terlihat ketika suatu kali petugas dari YP3IS terlambat menarik donasi para karyawan PT Dewata Freight International. “Spontan teman-teman langsung kontak ke kantor YP3IS untuk segera mengambil donasi dari kami. Inilah bukti, bahwa rekan-rekan disini sangat perhatian dalam membantu anak-anak yatim,” kata Indro. Kedepannya nanti, ia dan rekan-rekan kerjanya akan berusaha untuk mengajak teman-temannya yang belum menjadi donatur, agar segera bergabung dengan YP3IS guna membantu dan menyantuni anak-anak yatim yang ada di panti asuhan – panti asuhan.
Caranya, yakni dengan membagi-bagikan Majalah Yatim untuk di baca secara gratis kepada rekan-rekannya. Sehingga diharapkan mereka akan segera tertarik untuk menjadi donatur anak yatim. “Untuk itu, peran Majalah Yatim sangat besar dalam menarik minat masyarakat untuk menjadi donatur. Kalau isinya majalah tersebut bagus, dan mendidik umat Islam, saya kira kepedulian umat Islam terhadap anak-anak yatim yang muslim akan terangkat. Dan satu lagi ketertarikan saya kepada YP3IS, yakni lembaga ini tidak secara terang-terangan meminta-minta sumbangan seperti yayasan yang lain. Dan YP3IS itu yang paling bagus, tidak secara langsung meminta-minta sumbangan. Tetapi dengan memberikan majalah dan wawasan secara islami kepada masyarakat,” sambungnya.(bam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar