Kamis, Juni 04, 2009

MAJALAH YATIM EDISI FEBRUARI 2008

Profil
Abdul Kholiq
Ingin Membiayai Ibunya Menunaikan Ibadah Haji

Sejak tahun 1997, pemuda bernama lengkap Abdul Kholiq ini tinggal di panti asuhan. Tepatnya saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas IV, karena kedua orang tuanya sudah tidak mampu lagi membiayai pendidikannya. Sang bapak, bernama Imam Djazuli, bekerja sebagai petani di kota Nganjuk. Sedangkan ibunya, Sholichah, sehari-hari berdagang pakaian di pasar Ngronggot Nganjuk.

“Ditambah lagi harus membiayai sekolah kakak dan adik saya, jelas beban perekonomian keluarga saat itu sangat berat,” ujar pemuda kelahiran Nganjuk pada tanggal 25 Juli 1988 ini, ketika ditemui MAYA di Kampus MEC Pusdiklat YP3IS, Rabo (2/1). Karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya dikeluarga tersebut, maka Abdul Kholiq memutuskan untuk tinggal disebuah panti asuhan di kota Malang.

Hal ini dilakukannya demi menyelamatkan pendidikannya agar tidak sampai putus sekolah. Selain itu juga untuk meringankan beban orang tuanya. Sehingga mulai SD kelas IV MI di Nganjuk, pemuda ramah ini tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah di Jalan Bareng Tenis IVA/637 Malang bersama seorang temannya asal Nganjuk.

Baru tiga tahun berada di panti, musibah datang menerpa Kholiq. Yakni, sang bapak tercinta meninggal dunia karena serangan penyakit jantung dan ginjal. “Jelas saya sedih sekali. Saya pun bertekad untuk terus menuntut ilmu hingga kuliah dan dapat mandiri, agar ibu dan almarhum bapak bangga terhadap saya,” terang Abdul Kholiq.

Selepas lulus SMK Muhammadiyah III Malang, Kholiq lantas mengikuti tes masuk MEC (Mandiri Enterpreneur Center) Pusdiklat YP3IS, dan akhirnya lolos. Pemuda yang dikalangan teman-teman satu asrama di pusdiklat dikenal paling rajin ini, sangat bangga bisa diterima sebagai mahasiswa di Kampus MEC, jurusan Teknik Komputer tersebut.

Disinilah pengetahuan Kholiq tentang seluk beluk komputer semakin bertambah dan terasah. Ditunjang dengan beberapa keterampilan lainnya yang diberikan di pusdiklat, Abdul Kholiq pun optimis bisa hidup mandiri setelah lulus dari MEC. Dan secepatnya bisa mendapat pekerjaan yang layak, supaya kelak bisa memberangkatkan sang ibu untuk menunaikan ibadah haji.

Untuk itu, Kholiq bersama sang kakak berencana untuk membuka usaha komputer, setelah lulus kuliah di MEC. Dari hasil membuka usaha komputer itulah, Kholiq berharap bisa membiayai ibunya untuk pergi berhaji. “Insya Allah, semoga harapan saya bisa terwujud,” papar tutur anak ketiga dari empat bersaudara ini.(bam)


Berkah

Dr Hafid Syah Hasan

Dokter Umum Rumah Sakit Mitra Mulya, Wates, Kediri

Mendapat Istri Yang Soleha

Sejak awal, sosok pria yang berprofesi menjadi dokter ini memang sangat peduli terhadap nasib anak-anak yatim. Kepedulian terhadap kondisi anak-anak yatim yang kurang mampu ia tunjukkan bersama rekan-rekan dokter lainnya, dengan mengadakan pengobatan gratis bagi mereka. Artinya, anak-anak yang telah berstatus yatim itu dapat berobat tanpa dipungut biaya, khususnya anak yatim dibawah usia 17 tahun.

Itulah yang saat ini dilakukan Dr Hafid Syah Hasan, Dokter Umum di Rumah Sakit Mitra Mulya, Wates, kediri, bersama rekan-rekannya sesama dokter dalam membantu anak-anak yatim. “Bahkan saya sering berpesan kepada setiap pasien saya, kalau ada anak yatim yang kurang mampu dan sedang sakit, mohon segera dibawa ke rumah sakit ini. Biaya dokter dan obatnya gratis,” ujar Hafid ketika ditemui MAYA (7/1) di salah satu ruangan Rumah Sakit Mitra Mulya, Wates, Kediri.

Tak hanya itu, selain mengratiskan anak yatim yang berobat kepadanya, pria kelahiran Kediri pada tanggal 3 Agustus 1979 ini, juga ikut bergabung menjadi donatur anak yatim di YP3IS Cabang Kediri. Menurutnya, YP3IS adalah lembaga yang benar-benar membantu anak-anak yatim yang tidak mampu, serta berusaha untuk memandirikannya lewat Pusdiklat YP3IS. “Sebenarnya, hanya dengan membaca Majalah Yatim, Insya Alllah, semua hal tentang lembaga yang fokus menyantuni anak yatim ini bisa diketahui. Jadi sekali lagi, saya tidak ragu lagi untuk menyisihkan sebagian penghasilan saya kepada anak yatim melalui YP3IS,” papar dokter yang baru melangsungkan pernikahannya sehari sebelum bertemu dengan MAYA, yakni pada 6 Januari 2008.

Bagi suami Yuyun Trisnawati ini, sudah merupakan kewajiban untuk membantu nasib para anak yatim yang tinggal di panti-panti asuhan. Dan apa yang telah dilakukan oleh pria ramah ini, mendapat respon yang positif dari istri dan keluarganya. Bahkan tak hanya menjadi donatur bagi anak yatim, dokter yang sekarang tinggal di Jalan Soekarno-Hatta I/IIIA Kediri tersebut, juga mempunyai satu anak asuh melalui Program OTA (Orang Tua Asuh) YP3IS. “Insya Allah, rencananya kedepan akan menambah lagi anak asuh,” kata Hafid.

Menurut pengakuannya, banyak berkah yang didapat setelah menyantuni anak yatim. Selain mendapat istri yang soleha, cantik dan penurut, serta diberi rejeki yang lancar. Seperti kejadian yang baru saja ia alami, yakni saat menghadapi pernikahan. Dokter ini sedang membutuhkan sejumlah uang untuk biaya persiapannya menikah. Bahkan, tabungan yang selama ini ia kumpulkan masih tidak menutupi kekurangan tersebut.

Terdesak dengan keadaan tersebut, ia pun sempat merasakan kebingungan memikirkan bagaimana caranya menutupi kekurangan biaya itu. Lantas ditengah kebingungannya itu, ia mendapat berkah yang tidak diduga sebelumnya. Yakni, mendapat rejeki dari hasil mengelola laboratorium.

“Alhamdulillah, omset laboratorium tersebut sangat banyak sekali. Bahkan jumlahnya melebihi gaji saya sebulan menjadi dokter di sini. Sehingga kekurangan tersebut bisa tertutupi saat itu juga, dan sisanya bisa untuk dibuat jalan-jalan setelah menikah,” terangnya. Dan akhirnya, pernikahannya tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Selain itu, kedepannya nanti ia ingin segera membangun sebuah masjid, karena itu adalah cita-citanya sejak kecil. “Do’a khan ya semoga dapat segera terwujud,” pintanya mengakhiri.(bam)


Potret

Panti Asuhan Muhammadiyah, Kecamatan Puncu, Kediri

Pembangunan Terhambat Dana

Serba sederhana, kesan itulah yang nampak terlihat di panti asuhan yang yang masih dalam tahap pembangunan ini. Jalan masuknya hanya terbuat dari tanah dan juga tidak begitu lebar. Bahkan bangunannya terlihat sangat sederhana sekali. Menurut pengakuan Ketua Panti Asuhan Muhammadiyah, Kecamatan Puncu, Kediri, Marteken, gedung panti yang lama sewanya tidak diperpanjang dan pihaknya memberanikan diri untuk membeli lahan dan membangun gedung panti asuhan.

“Mau bagaimana lagi, akhirnya kami nekat untuk membeli lahan dan membangun gedung baru seperti ini, sangat sederhana. Padahal tanahnya ini kami beli dan sampai sekarang pembayarannya juga masih kurang sekitar Rp 9 Juta, istilahnya masih hutang Rp 9 Juta,” terangnya ketika ditemui MAYA di salah satu ruangan panti asuhannya, Senin (7/1). Setelah mendapat lahan, lalu masyarakat ada yang menyumbang beberapa semen dan batu bata untuk pembuatan pondasinya.

Setelah pondasi bangunan panti sudah terbangun, masih menurut Marteken, lantas warga masyarakat yang lain berdatangan untuk menyumbang batu bata dan bekerja bergotong-royong mendirikan panti tersebut. “Dan Alhamdulillah, lambat laun kemudian menyusul ada yang menyumbang batu bata sedikit demi sedikit, dan langsung kami pasang. Sehingga bisa dilihat batu bata yang terpasang didinding bangunan ini kebanyakkan tidak ada yang sama. Karena ya itu tadi, batu batanya hasil sumbangan dari masyarakat,” papar pria ini sembari menunjukkan salah satu didinding yang warna batu batanya tidak sama.

Karena dana pembangunan yang sangat terbatas, mengakibatkan pembangunan panti asuhan tersebut berjalan sangat lambat. Hal ini akhirnya memaksa para anak asuh yang berjumlah 30 anak tersebut, tidur dengan genting yang hanya menutupi separo dari keseluruhan ruangan tidur. “Sebenarnya saya tidak tega dengan kondisi mereka yang demikian. Tapi ya bagaimana lagi,” sambung pria yang mengaku terjun dalam dunia sosial sejak tahun 1990 ini.

Sedangkan untuk biaya makan, terutama beras, para anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah, Kecamatan Puncu ini didapat dari hasil zakat. Zakat pada tahun 2007, panti ini telah menerima total sekitar 2 ton 150 kilogram beras. Meski demikian, jumlah tersebut menurut Marteken dirasa masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan para anak asuhnya. “Karena untuk memenuhi kebutuhan makan sebanyak 30 anak asuh, sedikitnya membutuhkan sekitar tiga kwintal beras dalam sebulan,” terang Marteken.

Sementara itu dana yang masuk ke panti juga tidak tiap hari ada. Yang memprihatinkan, malah tidak jarang tiap bulan tersebut tidak ada pemasukan dana sama sekali di panti asuhan ini. “Sehingga sering kami harus menutupi sendiri biaya operasional di panti asuhan ini. Padahal sebulan, panti ini menghabiskan dana operasional sekitar Rp 3 Juta,” katanya. Untuk biaya pendidikan anak asuhnya juga demikian, Marteken sampai harus meminta keringanan pembayaran biaya sekolah para anak asuhnya kepada pihak sekolah.

Bahkan untuk membayar uang ujian sekolah beberapa anak asuhnya, ketua panti ini juga harus meminta dispensasi keringanan waktu pembayaran kepada Kepala Sekolahnya. “Kalau saya tidak minta keringanan pembayaran sekolah mereka, pasti yang lainnya tidak akan bisa sekolah, karena uangnya habis hanya untuk bayar ujian. Dan Alhamdulillah, kepala sekolahnya mau mengerti dengan kondisi panti asuhan ini,” ujarnya.

Untuk itu, Marteken sangat berterima kasih sekali kepada YP3IS Cabang Kediri beserta donaturnya, yang memberikan semangat, dukungan, bantuan dan do’anya kepada Panti Asuhan Muhammadiyah, Kecamatan Puncu, Kediri ini. Ia berharap juga, masyarakat luas mau membantu pembangunan panti asuhannya tersebut hingga dapat layak untuk ditinggali para anak asuhnya.(bam)


Kisah

Ayu Futikhatin

Ingin Meneruskan Kuliah di MEC

Sejak berusia tiga tahun, gadis lugu ini telah berstatus anak yatim, karena sang bapak telah meninggal dunia. Meskipun ia mengaku sangat sedih ditinggal sang bapak, yang bernama Saiful, toh semangatnya untuk terus belajar dan bisa kelak membantu perekonomian keluarganya tetap membara dalam sanubarinya. Gadis yang bernama lengkap Ayu Futikhatin, kedepannya nanti, Ayu memiliki keinginan selepas lulus SMA ingin bisa diterima kuliah di MEC (Mandiri Enterpreneur Center) Pusdiklat YP3IS.

Menurut gadis murah senyum ini, ia tahu YP3IS dan MEC yakni saat sedang ada acara Pembinaan Duta Guru Panti se-Sidoarjo di pantinya beberapa waktu lalu. Dan juga adanya jalinan kerjasama antara YP3IS Cabang Sidoarjo dengan panti yang ia tempati, serta dari membaca Majalah Yatim, Ayu mengaku tahu tentang yayasan yang fokus menangani anak yatim tersebut. Baginya, mendapat kesempatan kuliah di MEC adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi Ayu. “Pasalnya, banyak ilmu dan keterampilan yang bisa didapat jika kuliah di MEC,” ujarnya ketika ditemui MAYA di Panti Asuhan Rahmatan Lil’alamin Sidoarjo (8/1).

Perjalanan hidup Ayu memang tidak semulus seperti yang dilalui anak seumurannya. Ia mengaku tahu kejadian bapaknya saat meninggal dunia dari sang ibu, Siti Khalima, saat ia menginjak bangku sekolah dasar MI Sunan Kalijaga Sidoarjo.

“Bapak meninggal dunia saat istirahat setelah bekerja seharian di sawah. Ketika dibangunkan ibu, ternyata bapak telah meninggal dunia. Saya sampai menangis ketika ibu menceritakan kejadian tersebut kepada saya,” ujarnya.

Ayu merasakan betapa beratnya beban sang ibu waktu itu yang menggantikan bapak menjadi tulang punggung keluarga dalam memenuhi kehidupan sehari-hari dan membiayai sekolah ke sebelas anaknya. Dari situlah tumbuh dalam hatinya keinginan untuk kelak ia harus bisa membahagiakan ibunya dan saudara-saudaranya.

Beberapa waktu kemudian, kakaknya ada yang telah diterima kerja di PT Maspion I, sehingga biaya sekolah Ayu mulai dari MI Sunan Kalijaga hingga lulus SMP di YPM I Wonoayu, ditanggung oleh sang kakak tersebut. “Alhamdulillah, kakak bisa membiayai sekolah saya hingga tamat SMP. Dan beban ibu juga sedikit lebih ringan lagi dengan telah bekerjanya kakak saya itu,” cerita gadis yang lahir di Sidoarjo pada tanggal 7 Mei 1991 dengan tersenyum. Selepas SMP timbul dalam benak gadis yang murah senyum ini, keinginan untuk memilih tinggal di panti asuhan.

Karena dengan tinggal di panti asuhan, ibu dan kakaknya tidak perlu lagi membiayai sekolahnya. Dan uangnya bisa untuk membiayai adiknya yang sekarang juga masih sekolah. Sedangkan kalau tinggal di panti asuhan, biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah semuanya ditanggung oleh pihak panti asuhan.

“Mungkin itulah waktu itu jalan satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk meringankan beban perekonomian keluarga saya. Dengan tinggal di panti asuhan, saya juga bisa memperdalam ajaran agama Islam,” papar Ayu yang mengaku hobi membaca buku dan bermain basket ini sembari membetulkan letak tas sekolahnya. Ayu pun lantas mengungkapkan rencananya untuk tinggal di panti asuhan kepada ibunya.

Setelah mendapat izin dari ibunya, maka Ayu mulai tinggal di Panti Asuhan Rahmatan Lil’alamin Sidoarjo pada tahun 2006 yang lalu. Dan oleh pihak pengurus Panti Asuhan Rahmatan Lil’alamin, Ayu disekolahkan di SMK II Buduran. Di panti inilah Ayu beraktifitas selain sekolah juga memperdalam ajaran agama. Tak hanya itu, berbagai keterampilan juga ia dapatkan dari panti asuhan tersebut, seperti komputer, menjahit dan lain-lainnya.

Sebab, di Panti Asuhan Rahmatan Lil’alamin memang mempunyai berbagai macam sarana dan prasarana yang menunjang keterampilan anak-anak asuhnya. “Untuk itu, saya sangat berterima kasih sekali bisa tinggal di panti ini. Karena selain bisa melanjutkan sekolah juga mendapat tambahan keterampilan untuk bekal menuju kemandirian,” kata Ayu bangga. (bam)

Konsultasi Agama

Anak Meminta Warisan Pada Orang Tua

Assalamu’alaikum Wr. Wb

  1. Ustadz, bagaimana pandangan Islam terhadap anak yang meminta harta dari orang tua (dengan dalih sebagai warisan) padahal orang tua tersebut masih hidup?
  2. Bagaimana hukumnya apabila ternyata anak tersebut masih berlanjut meminta bagiannya dari harta yang lain lagi, padahal dia sudah menerima bagian dari pembagian harta yang sudah dibagi sebelumnya?
  3. Bagaimana kedudukan dalam hukum Islam atas harta yang dihibahkan kepada salah satu anak dengan persetujuan semua pihak. Apakah hak ahli waris yang lain gugur? Dan jika hak tersebut tidak gugur, bagaimana porsi pembagiannya?

Mohon kiranya penjelasan disertai dalil-dalil yang shahih. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Donatur

Surabaya

Jawaban:

Donatur yang saya hormati. Dalam hubungan orang tua dan anak ada hak dan kewajiban sebagaimana digariskan oleh islam. Diantara kewajiban orang tua kepada anak sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat al-Hakim adalah memberi nama yang baik, mengajarkan sopan santun yang baik, memberi pendidikan dunia akhirat, memberi nafkah yang baik dan halal, dan menikahkan anaknya kalau sudah waktunya. Sedangkan kewajiban anak kepada orang tua sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur'an dan al-Hadits diantarnya, yaitu wajib berkata santun, bersikap sopan, taat perintah sepanjang bukan hal maksiat, membantu orang tua, tidak minta sesuatu diluar kemampuan orang tua, memberi nafkah kepada oarng tua kalau anak sudah mampu dan mendoakan orang tua.

Donatur, Baiklah pengasuh jawab pertanyaan anda:

1. Dalam kitab "alfiqh al-islkami wa adillatuhu". Karya : Syekh DR Wahbah Az-Zuhaili. Bab Al-Miraats. Volume VIII halaman 253 dijelaskan: bahwa syarat warits itu ada tiga, pertama wafatya mauruts (orang yang diwarisi). Kedua hidupnya ahli waris, dan ketiga tidak ada mani' ( penghalang)

Tentang persyaratan mauruts (orang yang diwarisi) harus sudah wafat dijelaskan dalam alqur'an surat An-Nisa' ayat 11 bahwa harta warisan termasuk tirkah ( mimma taraka) dan Allah menggunakan kata yushikumullah, sedangkan wasiat hanya terjadi setelah wafat. Sebagaimana firman Allah yang artinya: " Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua], maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"

Begitu juga pengertian dari hadits bahwa orang yang membunuh mauruts karena ingin mendapatkan warisan, maka termasuk mani' (penghalanhg waris). Dari Sahabat Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: " Tidaklah bagi orang yang membunuh itu mendapatkan waris". ( HR. Imam Malik fil Muwattha' dan Imam Ahmad, Ibnu Majah, Assyafi'I, Abdurrazaq dan Al Baihaqi)

Dari penjelasan diatas, maka dapat dijawab bahwa tidak boleh dan tidak berhak seorang anak meminta bagian warisan dari orang tuanya padahal orang tuanya masih hidup, jika anak minta harta pada orang tuanya, maka orang tua punya wewenang penuh apa memberinya atau tidak, sesuai kebijaksanaan orang tua karena hak kepemilikan harta berada di tangan orang tua sedangkan anak tidak punya hak apapun dari harta orang tua yang masih hidup, kalau orang tua memberinya itu bukan harta warisan tapi itu bias merupakan nafkah atau hibah

2. Anak itu termasuk rakus yang tidak seharusnya. Dia sebenarnya belum berhak menerima warisan. kalau oarng tua memberi harta itu adalah kebaikan orang tua pada anak. Kalau sudah diberi dia masih minta lagi yang bukan haknya tentu hukumnya haram dan itu bentuk kedurhakaan pada orang tua karena itu bisa mengambil hak saudara yang lain

3. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa, harta waris dapat dibagikan setelah orang tua wafat, sedangkan pemberian orang tua kepada anak pada saat hidup itu dinamakan hibah dan hokum hibah itu jawaz ( boleh) menurut pandangan islam, namun orang tua hendaknya adil dalam pemberian kepada anak sebagaimana anjuran Rasulullah SAW: "Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan berbuatlah adil diantara anak-anakmu" ( HR. Al-Bukhari wa Muslim)

Jika seorang anak sudah mendapatkan hibah dari orang tuanya dan atas dasar persetujuan saudara yang lain, maka dia seharusnya sudah merasa cukup dan tidak rakus terhadap harta pemberian orang tua, namun secara fiqh jika orang tua sudah meninggal dan masih ada harta pwninggalan, maka anak tersebut masih berhak mendapatkan warisan sesuai bagian dalam ilmu waris, karena antara wais dan hibah itu berbeda setatus hukmnya dan tidak saling menggugurkan salah satunya. Artinya orang yang mendapatkan waris tidak menggugurkan hibah begitu jmuga sebaliknya. Wallahu a'lam bisshawab

Konsultasi Keluarga

Bingung Memilih Pendamping Hidup

Assalamualaikum Wr. Wb

Ustadz Hasan yang saya hormati, saya seorang Muslimah berusia 23 tahun dan belum menikah. Saya pernah bertunangan, tapi karena ketidakcocokan dan kami sering bertengkar, akhirnya kami tidak jadi menikah. Lagipula orang tua saya kurang setuju dengan alasan dia orang jauh (lain kota). Sekarang ada pria yang mau melamar saya, dia baik dan orang tua saya sangat mendukung. Karena keluarga saya sudah mengenal baik dengan keluarganya. Tapi saya masih bingung. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Saya bingung, keputusan apa yang harus saya ambil? Karena, jujur saja ustadz, dia bukan kriteria yang saya impikan. Tapi disisi lain saya ingin berbakti pada orang tua, karena mereka menginginkan saya segera menikah. Banyak sudah kesalahan yang saya perbuat, saya tidak ingin mereka sedih lagi.
  2. Amalan apa yang harus saya lakukan agar hati saya tenang, tidak diliputi rasa gelisah, ragu, bimbang? Karena dengan kondisi demikian saya sering melakukan kesalahan.
  3. Apa hukumnya menikah tanpa rasa cinta dan hanya pasrah demi kebahagiaan orang tua?

Terima kasih atas jawaban ustadz, semoga Allah memberikan petunjuk bagi saya melalui jawaban yang anda berikan.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Linda Khairunnisa

Sidoarjo

Jawaban:

Waalaikmussalam Wr. Wb.

Ukhti,

  1. Beberapa hal harus anda perhatikan :
    1. Apa sesungguhnya kriteria anda? Apa sesuai dengan kriteria yang di tetapkan oleh ajaran? Misalnya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengawini wanita karena kemulyaannya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain daripada kehinaan. Barangsiapa mengawininya karena hartanya, maka Allah tidak akan menambahkan kepadanya selain daripada kemiskinan. Barangsiapa mengawini karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menabahkan kepadanya selain daripada kerendahan. Dan barangsiapa mengawini seorang wanita hanya karena ia menginginkan dengan wanita itu untuk menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, atau menyambungkan ikatan kekeluargaannya, maka Allah akan memberkatinya pada wanita itu dan akan memberkati wanita itu padanya. ( HR. Attobroni ).
    2. Sama dengan yang pertama, apa kriteria yang diinginkan oleh kedua orang tua anda? Apa sesuai dengan kriteria yang di tetapkan oleh ajaran?
    3. Baik anak maupun orang tua harus sama-sama sepakat, bahwa ketentuan Allah dan Rosul Nya harus jadi pertimbangan utama.
    4. Sering juga terjadi, bahwa orang tua yang dekat dengan Allah, banyak solat, berdoa, dan lain-lain, walau tidak banyak mengerti tentang situasi dan kondisi anak, selalu dituntun dan dibimbing Allah setiap keputusan untuk anaknya.
    5. Lakukan solat istikhoroh (solat mohon petunjuk yang terbaik dari apa yang anda inginkan).
    6. Fahami bahwa syetan akan selalu membuat anda terus dalam kebingungan, walau anda sudah mendapat jawaban dari istikhoroh. Karena itu mintalah perlindungan pada Allah dari godaan syetan. Allah berfirman yang artinya: ”Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [41.36].

2. Lakukan

a. Seperti yang pertama.

b. Berdoalah pada Allah :“Ya Allah, jadikan jiwaku, jiwa yang baik, tenang, taat, terpelihara, yang yaqin akan bertemu Engkau, yang qonaah ( menerima sepenuhnya ) terhadap pemeberian-Mu, yang ridlo pada ketentuan-Mu, yang takut pada-Mu dengan sebenar-benar takut. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah”.

3. Sebelum menikah dan saat aqad menikah belum muncul rasa cinta, itu banyak terjadi bagi anak yang memang dijodohkan oleh orang tua, tetapi sangat banyak dari mereka yang keluarganya sangat bahagia. Ingat doa kedua orang tua sangat didengar oleh Allah SWT. Sebaiknya memang ada proses musyawarah antara anak dengan orang tua, sehingga benar-benar tidak ada saling menyalahkan. Hasil sholat istikhoroh adalah keputusan terakhir yang harus diterima oleh semua pihak dengan penuh keikhlasan. Insya Allah petunjuk Allah tidak akan menyesatkan.

Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi anda. Amin

Sirah Nabawiyah

Abu Bakar Memimpin Jama’ah Haji Tahun Ke-9 Hijri

Sekembaliannya dari Tabuk, Rasulullah SAW ingin melaksanakan ibadah haji, kemudian bersabda: “Tetapi orang-orang musyrik masih hadir melakukan thawaf dengan telanjang. Aku tidak ingin melaksanakan ibadah haji sebelum hal itu dihapuskan”. Kemudian beliau mengutus Abu Bakar ra dan menyusulinya dengan Ali ra guna melarang kaum musyrik melakukan “ibadah haji” setelah tahun ini, dan memberikan tempo selama empat bulan untuk masuk Islam. Setelah itu tidak ada pilihan antara mereka dan kaum Muslimin kecuali perang. Bukhari meriwayatkan didalam kitabil maghazi dari Abu Hurairah bahwa Abu Bakar ra diutus oleh Nabi SAW sebagai Amir jama’ah haji sebelum haji wada’ (haji Rasulullah SAW). Pada hari nahr (penyembelihan qurban), Abu Bakar ra mengumumkan ditengah kerumunan manusia: Sesudah tahun ini tak seorang musyrik pun boleh menunaikan ibadah haji, dan tak seorang pun boleh berthawaf tanpa pakaian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mahraz bin Abu Hurairah dari bapaknya, ia berkata: Ketika Ali bin Abu Thalib diutus Rasulullah SAW untuk menyampaikan surat Bara’ah kepada penduduk Mekkah, aku ikut menyertainya. Ditanyakan kepada Ali ra: Apakah yang hendak anda sampaikan? Ia menjawab: Kami menyampaikan bahwa tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman, tidak boleh thawaf dengan telanjang, barang siapa mempunyai perjanjian dengan Rasulullah SAW maka perjanjian itu hanya berlaku sampai empat bulan, jika empat bulan itu telah berlalu maka Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrik, setelah tahun ini tak seorang musyrik pun yang boleh menunaikan ibadah haji. Ali berkata: Kemudian aku menyampaikannya sampai suaraku serak.

Itulah yang dimaksud oleh firman Allah: “Dan inilah suatu permakluman dari Allah dan Rasul Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (at-Taubah: 3)

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ketika Nabi SAW menunjuk Abu Bakar sebagai Amir jama’ah haji, ia (Abu Bakar) berangkat bersama 300 orang dari penduduk Madinah dengan membawa 20 ekor binatang qurban.

Beberapa ‘Ibrah

  1. Orang-orang Musyrik dan Tradisi Mereka Dalam Haji

Menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram adalah termasuk warisan yang diterima oleh orang-orang Arab dari Ibrahim AS. Ia termasuk sisa-sisa ajaran Hanifiah yang masih mereka pelihara, tetapi sudah banyak kemasukan karat-karat jahiliah dan kebatilan ajaran kemusyrikan. Beberapa orang diantara mereka melakukan thawaf dengan telanjang, tanpa pakaian sama sekali. Perbuatan ini mereka anggap sebagai penghormatan kepada Ka’bah. Kotoran-kotoran jahiliah ini habis pada tahun ke-9 Hijriah, tahun dimana Abu Bakar memimpin rombongan haji dan disampaikannya peringatan kepada semua orang musyrik bahwa Masjidil Haram harus dibersihkan dari kotoran-kotoran kemusyrikan untuk selama-lamanya.

2. Berakhirnya Perjanjian Dengan Diumumkannya Peperangan.

Kaum Musyrikin pada waktu itu, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Ishaq dan lainnya, ada dua kategori. Pertama, mereka yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah SAW tetapi masa berakhirnya perjanjian tersebut kurang dari empat bulan. Kepada mereka ini diberi tempo sampai berakhirnya perjanjian tersebut. Kedua, mereka yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah SAW tanpa batas waktu. Kepada mereka ini, al-Qur’an didalam surat Bara’ah membatasi masa berakhirnya dengan empat bulan, kemudian setelah itu mereka berada dalam keadaan perang dengan kaum Muslimin. Mereka boleh dibunuh dimana saja ditemukan, kecuali jika masuk Islam dan menyatakan taubat.

3. Penegasan Tentang Hakekat Makna Jihad

Didalam surat ini ada penegasan baru bahwa jihad didalam syari’at Islam bukan perang defensif sebagaimana diinginkan oleh para orientalis. Perhatikanlah firman Allah yang memperingatkan sisa-sisa kaum Musyrikin disekitar Makkah dari penduduk Nejd dan lainnya: “(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang ditujukan) kepada orang-orang musyrik yang kamu (kaum Muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) dimuka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan orang-orang kafir. Dan (inilah) permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian jika kamu (kaum Musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan) mendapat siksa yang pedih. Kecuali orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengulangi sesuatupun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. Apabila telah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (at-Taubah: 1-5)

Dasar disyariatkannya jihad itu tidak memandang kepada faktor penyerbuan dan pembelaan. Jihad disyariatkan hanyalah untuk menegakkan Kalimat Allah, membangun masyarakat Islam dan mendirikan Negara Islam dimuka bumi. Dalam kondisi tertentu mungkin sarana yang diperlukan adalah perang defensif disamping nasehat, bimbingan dan pengarahan. Inilah jihad yang disyariatkan dalam kondisi tersebut. Dalam kondisi yang lain mungkin sarana yang diperlukan adalah perang ofensif yang notabene merupakan puncak jihad. Selain itu, haji Abu Bakar ini merupakan pengajaran kepada kaum Muslimin tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji disamping merupakan pendahuluan bagi haji Islam dan haji wada’ yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.(Bam dari Sirah Nabawiyah hal: 408-412)

Doa

Menolak Bencana

Laa ilaaha illallaahul kariimul ‘azhiim. Subhaanahu tabaarakallaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiim.

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Allaahumma rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar.

Artinya:

Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maha Suci Dia, Maha Berkat Allah Tuhannya ‘arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.(Hr. Nasa’I)

Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan didunia dan kebajikan di akhirat, lindungilah kami dari siksa neraka.(Hr. Bukhari dan Muslim) (dari buku Do’a oleh Dr Miftah Faridl. Hal: 215)

Hikmah

Berkat Membaca Bismillah

Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan. Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak berbicara dan setiap kali dia hendak memulai sesuatu, sentiasa didahului dengan Bismillah.

Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan senantiasa memperolok-olokkan isterinya. Suaminya berkata sambil mengejek, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."

Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah SWT supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata: "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu!"

Untuk membuat sesuatu yang mengagetkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini."

Isterinya mengambil uang itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan perlahan-lahan suaminya itu mengambil uang tersebut dan memasukkan uang itu ke dalam perigi di belakang rumahnya.

Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan." Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan uang itu, dan diikuti oleh suaminya.

Dengan berhati-hati dia menghampiri tempat untuk menyimpan uang, lantas istrinya membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah SWT menghantar malaikat Jibrail AS untuk mengembalikan uang yang telah diambil oleh suaminya, dan menyerahkan uang itu kepada suaminya kembali. Alangkah terperanjat suaminya, dia merasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan bersedia mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulai sesuatu pekerjaan.(dari 1001 Kisah Teladan)

Rihat

Harta Yang Hilang

Suatu malam datang seorang laki-laki saleh kepada Imam Abu Hanifah. Dia berkata, “Wahai Imam! Sejak beberapa waktu yang lalu saya menguburkan harta pada suatu tempat, akan tetapi saya tidak mengingatnya lagi meskipun saya telah berusaha mengingatnya. Apakah Imam dapat membantuku untuk menyelesaikan masalah ini?”

Imam Abu Hanifah berkata padanya, “Ini bukan pekerjaan seorang faqih, tapi tunggu sampai saya menemukan solusi”. Imam berpikir sejenak, kemudian berkata padanya, “Pulanglah dan shalat sampai subuh, kamu akan mengingat tempat hartamu, insya Allah”.

Orang itu pulang kemudian shalat. Dalam waktu yang sangat singkat dan dalam keadaan sedang shalat, tiba-tiba dia mengingat tempat uangnya, lalu dia meninggalkan shalat dan bergegas ke tempat tersebut kemudian mengambilnya. Pada pagi hari, orang itu mendatangi Imam Abu Hanifah dan memberi tahu bahwa dia telah menemukan hartanya. Lalu ia berterima kasih padanya. Orang itu bertanya kepada Imam, “Bagaimana anda tahu kalau saya akan mengingat tempat uang itu?”

Imam menjawab, “Karena saya tahu bahwa setan tidak akan membiarkanmu menyelesaikan shalat. Dia berusaha menyibukkanmu dengan apa saja, termasuk mengingatkan pada tempat hartamu”.(dari buku Humor Orang-orang Cerdik & Bijak. Hal: 76)

Satu Sen Hilang

Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggiran sungai, Nasrudin melihat sepuluh orang buta yang ingin menyeberangi sungai. Ia menawarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang. Mereka setuju, dan sang Mullah pun memulai pekerjaannya.

Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tapi ketika ia sedang disibukan dengan orang yang kesepuluh, orang yang malang itu malah terpeleset dan hanyut dibawa air.

Merasakan ada sesuatu yang salah, kesembilan yang selamat mulai berteriak: "Apa yang terjadi Nasrudin?"

Lalu Nasrudin menjawab: "Aku kehilangan uang satu sen."(sumber: republika.co.id)

Kebersamaan

PT Mutiara Anugrah Indonesia, Kediri

Mudah Diajak Menjadi Donatur Anak Yatim

Semangat kebersamaan yang ditunjukkan karyawan PT Mutiara Anugrah Indonesia, Kediri dalam menyantuni anak yatim, patut menjadi contoh bagi kita semua. Mereka sangat mudah untuk diajak bergabung menjadi donatur di YP3IS. Seperti yang diungkapkan oleh Neneng Lutfiah, bahwa rekan-rekannya memang memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Apalagi kalau menyangkut tentang menyantuni anak-anak yatim yang ada di panti asuhan, mereka sangat antusias. “Hal inilah yang membuat saya mudah untuk mengajak mereka bergabung menjadi donatur di YP3IS Cabang Kediri. Saya tinggal mengasih tahu secara pribadi tentang YP3IS saja, rekan-rekan itu sudah paham dan langsung bersedia menjadi donaturnya,” terang wanita kelahiran Kediri pada 7 Desember 1982 ini, ketika ditemui MAYA di kantornya (7/1).

Karena semangat kebersamaan para karyawan itulah, akhirnya membuat Direktur PT Mutiara Anugrah Indonesia, yang bernama Budiarjo S,SH ikut juga bergabung menjadi donatur di YP3IS Cabang Kediri. Sehingga tercatat 11 orang donatur YP3IS Cabang Kediri di perusahaan distributor kosmetik yang terletak di Jalan Raya Jimbon Wates, Kediri. “Alhamdulillah, apa yang kita lakukan direspon positif oleh direktur kami,” ujar Neneng ramah.

Sementara itu menurut Santi, karyawan yang juga donatur YP3IS, menyantuni anak yatim itu adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslim. Berangkat dari situlah wanita kelahiran Kediri, 18 Desember 1981 ini, tertarik untuk menjadi donatur bagi anak-anak yatim melalui YP3IS. “Saya langsung setuju, karena membantu anak yatim adalah kewajiban seorang muslim,” kata Santi. Sedangkan menurut Lilik Endarwati, karyawan dibagian manajemen, ia mengaku lebih mudah dalam menyantuni anak yatim dengan adanya YP3IS. Karena YP3IS yang mengkordinir dan mengelola donasi bagi donaturnya untuk digunakan membantu anak-anak yatim yang ada di panti asuhan.

“Hanya dengan membaca Majalah Yatim, kita pasti sudah tidak ragu lagi dengan YP3IS. Karena YP3IS adalah lembaga yang benar-benar amanah dalam mengelola bantuan dari donaturnya,” papar Lilik.(bam)


Cabang Sidoarjo

Profil Kepala Cabang Sidoarjo

Nama : Rudi Mulyono S.Kom

Tempat/tanggal lahir : Jakarta 5-3-1967

Pendidikan : S1 Universitas Al-Falah Surabaya

Nama Istri : Subidah S.Pd

Pekerjaan : Guru PNS

Nama anak :

  1. Muhammad Rizky Mulya
  2. Shinta Mulya Hidayah

Karir di YP3IS :

- Jupen

- Juru Pungut

- Manager BP2 Surabaya

- Kepala Cabang YP3IS Sidoarjo

Karir sebelum di YP3IS:

- Sebagai Unit Manager di sebuah perusahaan asuransi nasional selama 2 tahun

Jalin Sinergi Yang Harmoni Antara Donatur Dan Yatim

Syukur Alhamdulillah, itulah komentar pertama kali yang keluar dari sosok pria ramah dan murah senyum ini, ketika dipercaya menjabat sebagai Kepala Cabang YP3IS Sidoarjo. Karena bagi pria kelahiran Jakarta pada tanggal 5 Maret 1967 ini, kota Sidoarjo memiliki banyak kedekatan dengannya. Salah satunya, yakni jarak antara Kantor YP3IS Cabang Sidoarjo dengan tempat tinggalnya yang sangat dekat. Harapannya, kedekatan tersebut dapat lebih meningkatkan pelayanan yang lebih maksimal lagi kepada masyarakat Sidoarjo ataupun para donatur YP3IS.

Rudi Mulyono, nama lengkap bapak yang memiliki dua anak ini, sebelum menjabat Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo adalah sebagai Manager BP2 Surabaya. “Alhamdulillah, karena lambaga telah memberikan amanah yang lebih besar kepada saya, begitu juga saya akan menjaga amanah tersebut dan lebih mengembangkan lagi kepercayaan dari lembaga itu untuk lebih mensejahterahkan anak-anak yatim, khususnya yang ada di Sidoarjo,” papar pria yang awalnya bergabung dengan YP3IS menjadi seorang jupen ini, ketika ditemui MAYA diruang kerjanya (8/1).

Ia memiliki rencana untuk lebih memajukan dan membesarkan YP3IS Cabang Sidoarjo dalam menggalang dana untuk anak yatim di panti asuhan se-Sidoarjo. “Karena saya melihat masih banyak perusahaan-perusahaan di Sidoarjo yang belum bergabung dengan YP3IS, maka nantinya kita akan usahakan lagi agar mereka dapat bergabung bersama YP3IS Cabang Sidoarjo untuk memandirikan anak yatim,” terangnya bersemangat.

Rudi juga mengharapkan peran aktif masyarakat Sidoarjo untuk bersama-sama bersinergi dengan YP3IS dan donatur pada khususnya, guna berjuang di jalan Allah, yakni membina dan memandirikan anak-anak yatim sesuai dengan tujuan YP3IS. “Untuk para pengurus panti asuhan yang ada di Sidoarjo, mari kita bangun sinergi juga dengan YP3IS Cabang Sidoarjo dengan mempersiapkan data-data yang lengkap tentang anak-anak yatim yang ada dipanti asuhannya masing-masing. Karena hal ini adalah juga permintaan dari para donatur yang ingin menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yatim tersebut,” pesannya.(bam)


Berita Pusdiklat

Berqurban Sembari Menambah Keterampilan

Pada Sabtu (22/12), Kampus MEC Pusdiklat YP3IS di Jalan Raya Jambangan 70, Surabaya, merayakan Idul Adha dengan memotong hewan qurban berupa kambing dan sapi. Hadir dalam acara tersebut Sekretaris YP3IS Yusuf Zain SPd dan Direktur Pusdiklat YP3IS Ir Bimo Wahyu beserta staffnya.

Sebanyak 9 ekor kambing dan satu ekor sapi dipotong dan dagingnya sebagian dibagi-bagikan ke warga sekitar Kampus MEC. Dan sebagian lagi dibuat bahan untuk lomba membuat bakso yang pesertanya para mahasiswa MEC. “Kami memanfaatkan moment Idul Adha ini selain berqurban, juga untuk menambah keterampilan para mahasiswa MEC, khususnya dalam membuat bakso,” terang Hendy, staff Pusdiklat YP3IS.

Lomba yang dibagi dalam empat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang, berlangsung semarak. Sedari pagi hingga siang, mereka sibuk memotong sapi dan kambing hingga membuat bakso. Mereka banyak dibantu oleh beberapa staff pusdiklat, tentang cara membuat bakso. “Saya belum pernah buat bakso. Tapi saya bersyukur mendapat keterampilan cara membuat bakso,” ujar Mujilah, yang berasal dari Panti Asuhan Aisyatong Mariyam ini.(bam)

Cabang Sidoarjo

Salurkan 48 Hewan Qurban

Sebanyak 48 ekor hewan qurban dari 54 pequrban telah disalurkan oleh YP3IS Cabang Sidoarjo kepada 52 panti asuhan yang ada di wilayah Sidoarjo. Hewan qurban tersebut terdiri dari 46 ekor kambing yang diserahkan pada Rabo (19/12), dan 2 ekor sapi diserahkan tepat pada Idul Qurban (20/12) dihalaman Kantor YP3IS Cabang Sidoarjo, di Ruko Centro Avenue, Jalan KH Mukmin 11 Blok D-11, Sidoarjo.

Sementara itu, Rudi Mulyono S.Kom selaku Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo, mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah berqurban melalui YP3IS Cabang Sidoarjo. “Mudah-mudahan dengan pelayanan yang lebih baik kedepannya nanti, kepercayaan dari para donatur untuk berqurban akan semakin meningkat,” harap Rudi.(bam)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar