Kamis, Juni 04, 2009

MAJALAH YATIM EDISI NOPEMBER 2007

Kisah
Nina Novita Hapsari
Tetap Mencintai Dan Menyayangi Keluarganya

Ketika masih berusia 7 tahun, Nina Novita Hapsari saat masih tinggal di Cilacap, pernah mengalami kejadian yang sangat memilukan. Yakni, saat sedang dibonceng sepeda motor sang ibu, yang bernama Khuslinah, tiba-tiba sebuah bus melaju kencang dari arah berlawanan. Dan tak berapa lama kemudian, menyeruduk sepeda motor tersebut yang mengakibatkan Nina serta ibunya menderita luka-luka dan dibawa ke rumah sakit.

Tragisnya lagi, sang bapak, Joko Budi, saat kejadian sedang berada di Surabaya. “Bapak ketika kami mengalami kecelakaan, sedang berada di Surabaya untuk bekerja sebagai tukang bangunan,” kenang gadis ramah ini. Setelah pihak rumah sakit memperbolehkan ibu dirawat di rumah, selang beberapa hari kemudian Khuslinah ditemukan telah meninggal dunia diatas tempat tidurnya.

“Saat itu, saya sedang melihat tv, ketika nenek memanggil ibu untuk disuruh makan, tetapi ibu tidak bangun juga. Setelah diperiksa, ibu ternyata sudah meninggal dunia,” papar Nina, sembari kedua matanya menitikkan air mata mengenang kejadian yang memilukan tersebut. Nina yang saat itu masih duduk dibangku kelas II sekolah dasar itu jelas sangat sedih kehilangan ibu yang sangat dicintainya itu.

Cukup lama Nina bisa mengontrol kesedihan yang mendera dalam hatinya. “Sungguh, berat sekali harus kehilangan ibu yang demikian cepatnya. Tetapi ketika ingat kembali saya biasanya langsung berdoa, semoga ibu bisa diterima di sisi Allah,” ujar remaja yang hobby menyanyi ini. Selang setahun kemudian, terdengar kabar kalau Nina telah mempunyai ibu lagi.

Pasalnya, sang bapak, Joko, yang tinggal di Surabaya telah menikah lagi dengan seorang wanita bernama Rumidawati, dan telah dikaruniai dua orang anak, yang juga adik Nina. Bahkan, Joko kemudian menyusul ke Cilacap untuk membawa Nina tinggal bersama keluarganya di Surabaya. Hati Nina pun kembali sedih ketika harus berpisah dengan neneknya, tetapi saat itu ia tidak bisa apa-apa dan harus menurut dengan kemauan bapaknya. Di Surabaya, Nina didaftarkan sekolah oleh Joko langsung kelas III di SDN Wonokromo I, hingga lulus sekolah dasar.

Setelah itu, kebingungan menghinggapi benak gadis yang mulai beranjak remaja ini. Yakni, bapaknya yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan tidak bisa lagi membiayainya sekolah ke tingkat SMP. Karena, penghasilan sang bapak hanya cukup untuk makan sehari-hari dan menyekolahkan kedua adik tirinya. “Syukur Alhamdulillah, kemudian ada Pak Fauzan, yang dikampung kami terkenal sering membantu anak yang kurang mampu dan anak yatim. Beliau sanggup membiayai saya sekolah di SMP Raden Rahmat, Jalan Karangrejo IX, Surabaya,” jelas gadis kelahiran Cilacap, pada tanggal 15 Nopember 1991 ini. Tetapi tiga tahun kemudian, setamat SMP, Fauzan memberitahu Nina, tidak bisa lagi membiayai sekolah jika ia melanjutkan ke tingkat SMA.

Nina pun kembali kebingungan, karena ia ingin untuk tetap meneruskan sekolah, paling tidak hingga lulus tingkat SMA. “Saat itu saya memohon kepada Allah, supaya saya diberikan jalan untuk tetap bisa meneruskan sekolah. Karena mengharap mendapat biaya dari bapak, jelas tidak mungkin. Pasalnya, bapak sudah tidak mampu lagi membiayai sekolah saya,” kata Nina sembari kedua telapak tangannya yang putih itu menghapus air mata yang membasahi pipinya. Beberapa hari kemudian, saat Nina sedang bermain, seorang temannya menganjurkannya untuk masuk ke Panti Asuhan Cahaya Insani, yang diketuai Zainal Arifin.

Demi untuk bisa melanjutkan sekolah sekaligus memperdalam ajaran agama, Nina pun lantas masuk ke panti asuhan tersebut. Awalnya, ia harus berusaha untuk menyesuaikan dengan kondisi, peraturan dan berkenalan dengan teman-teman baru.

“Karena menurut saya waktu itu, dengan masuk dan tinggal di asrama panti tersebut, saya harus mempunyai teman untuk berbagi cerita, keluh kesah dan lain-lainnya,” paparnya. Kemudian oleh pihak Panti Asuhan Cahaya Insani, Nina disekolahkan ke Sekolah Menengah Kejuruan Detece (Education & Training Centre), di Jalan Karangrejo IX/1, Surabaya.

Meski tidak dibiayai sekolah dan bapaknya hanya membiayai sekolah kedua adik tirinya, serta harus rela tinggal di panti asuhan, tetapi tidak lantas membuat Nina membenci bapak dan keluarganya. Ia mengaku sangat mencintai dan menyayangi keluarganya, terutama sang bapak, Joko Budi. Kelak, jika sudah lulus SMK ia ingin langsung saja mencari pekerjaan tanpa harus kuliah terlebih dahulu.

Dikarenakan, Nina ingin secepatnya membantu meringankan keluarga bapaknya. “Termasuk mungkin membantu biaya sekolah kedua adik tiri saya, kalau penghasilan kerja saya cukup,” harap gadis bercita-cita menjadi dokter ini.(bam)


Subur Hariyanto

Harus Bisa Menabung

Tekad besarnya untuk mengembalikan pinjaman modal usaha jualan jagung bakar, patut untuk dicontoh. Berapapun jagung bakar yang laku tiap hari, tak lupa ia sisihkan sebagian untuk ditabungnya. Dan hanya dalam beberapa bulan, ia pun berhasil mengembalikan pinjaman modal usaha tersebut.

Subur Hariyanto, nama pemuda kelahiran Nganjuk, 5 April 1987 ini. Orang tuanya adalah seorang buruh tani tebu di kota Nganjuk, Jawa Timur. Bapaknya bernama Kadar, sedangkan sang ibu bernama Yasri dengan memiliki anak empat, termasuk Subur Hariyanto yang merupakan anak bungsu. Karena harus menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya, kedua orang tua Subur pun harus rela kerja keras sebagai buruh tani tebu. Tetapi sekitar tahun 2000 lalu, tiba-tiba sang bapak terserang sakit liver.

“Setelah beberapa lama harus dirawat inap di rumah sakit, dan kondisi kesehatannya dinilai sudah membaik, maka bapak diijinkan untuk dirawat di rumah,” kenang pemuda yang cenderung pendiam ini. Tetapi, mungkin Allah berkehendak lain, karena selang dua hari setelah dirawat di rumah, sakit sang bapak kemudian kambuh lagi. “Dan tak lama kemudian, bapak meninggal dunia. Jelas, perasaan saya waktu itu sangat sedih sekali dan hampir tiap hari menangis. Bahkan, karena terlalu seringnya menangis kedua mata saya sampai terlihat sembab,” lanjut Subur.

Hampir satu minggu lamanya Subur merasakan kesedihan yang cukup mendalam, padahal waktu itu ia harus menghadapi ujian disekolahnya. Karena selang dua hari setelah bapaknya meninggal dunia, sekolahnya mengadakan ujian semester. Dampak kesedihan itupun terasa sekali, yakni hampir semua mata pelajaran nilainya turun semua.

Untungnya sang kakak terus-menerus memberinya dukungan semangat untuk tetap melanjutkan sekolah, walau sampai saat itu ia belum tahu siapa yang bakal membiayai sekolahnya. “Tak lama kemudian, kakak menawari saya untuk tinggal di sebuah panti asuhan yang ada di Surabaya. Menurut kakak, hanya dengan tinggal di panti asuhan saya bisa meneruskan sekolah hingga lulus SMA, karena biayanya ditanggung pihak panti,” ujar Subur Hariyanto.

Cukup lama Subur memikirkan masak-masak tawaran kakaknya untuk tinggal di Panti Asuhan Muslim yang bertempat di Jalan Jambangan Kebon Agung I, Surabaya. Dan akhirnya, ia pun menerima tawaran tersebut, meski harus beradaptasi dulu dengan lingkungan dan teman-teman baru yang ada di panti itu.

Alasannya, selain bisa menamatkan sekolah hingga SMA, ia pun sekaligus bisa memperdalam ajaran agama dan berusaha untuk hidup mandiri. “Saya pun melanjutkan sekolah kelas II di SMP Muhammadiyah Surabaya, hingga lulus SMA Negeri 18 Surabaya. Semuanya dibiayai oleh pihak Panti Asuhan Muslim,” katanya dengan bangga. Saat lulus SMA itulah, Subur mengaku kebingungan untuk menentukan ingin melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Lantas dari pihak pengurus panti asuhan, ia disarankan untuk ikut tes masuk Pusdiklat YP3IS.

Pasalnya, selain mendapatkan berbagai macam keterampilan untuk bekal menuju kemandirian, juga bisa meneruskan kuliah. “Syukur Alhamdulillah, akhirnya di tahun 2006 itu, saya bisa lolos tes masuk Pusdiklat YP3IS. Dan sekaligus juga lolos tes penerimaan beasiswa di LP3i Surabaya,” terangnya. Di pusdiklat, Subur mendapatkan berbagai keterampilan, biaya hidup sehari-hari, serta tempat tinggal berupa asrama.

Bahkan ia juga mempunyai teman-teman yatim siswa pusdiklat dari berbagai daerah. Sedangkan di LP3i, Subur mengambil jurusan Office Management, yang sekarang menginjak semester II. “Kemudian pusdiklat memberikan pinjaman untuk modal membuka usaha kecil-kecilan sebesar Rp 150 ribu. Lalu saya membuka usaha jagung bakar di teras asrama pria pusdiklat. Jadi kalau pagi saya kuliah dan malamnya jualan jagung bakar,” jelas pemuda ramah ini. Karena merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan modal usaha dari pusdiklat, Subur pun tak lupa setiap hari menabung sebagian hasilnya berjualan jagung bakar tiap malam. Menurutnya, berapapun hasilnya berjualan yang penting harus ada sebagian yang ditabung.

Dan hanya dalam waktu beberapa bulan, Subur akhirnya bisa mengembalikan pinjaman modal usaha tersebut ke pusdiklat. Meski begitu, ia berkeinginan untuk terus berjualan jagung bakar agar bisa menabung dan membiayai hidup sehari-hari. “Tetapi lama-kelamaan masalah datang. Yakni tidak adanya sepeda motor untuk kulakan jagung di pasar. Dulu kulakan bisa pinjam sepeda motor teman, tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Kalau harus naik angkutan, jelas tidak mungkin karena uang hasil jualan akan habis dibuat bayar angkutan. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti jualan jagung bakar,” papar Subur.

Tak lama kemudian datang tawaran untuk membantu di LAC (Layanan Aqiqoh dan Catering) Yamandiri milik YP3IS, dan langsung diterimanya hingga saat ini. Di LAC Yamandiri, Subur membantu menusuk serta membakar sate jika ada pesanan aqiqoh. “Saya senang sekali bisa membantu di LAC Yamandiri. Dan honornya bisa ditabung untuk bekal kelak bisa hidup mandiri. Dan kalau tabungan saya sudah lumayan banyak, saya ingin memasang listrik di rumah orang tua di Nganjuk. Karena dari dulu hingga saat ini, rumah orang tua saya belum teraliri listrik,” harapnya. (bam)


Panti Asuhan Tri Sakti Kediri

Mengutamakan Pendidikan Anak Asuh

Karena banyak santri di Pondok Pesantren Tri Sakti ini yang kondisi perekonomiannya tidak mampu, dan sebagian lagi ada yang berstatus yatim, maka Khusnul Wafak SPd berinisiatif untuk mendirikan panti asuhan. Khusnul Wafak pun awalnya menampung sekitar 30 anak asuh dipanti yang belum terdaftar di Departemen Sosial tersebut.

“Anak-anak itu asalnya banyak yang dari luar kota Kediri, seperti Solo, Jakarta dan lainnya. Tetapi juga ada sebagian yang dari warga sekitar panti ini. Mereka umumnya telah yatim maupun tidak mampu,” tandas Ketua Panti Asuhan Tri Sakti ini. Lalu suatu ketika datang tamu dari salah satu pejabat kota Kediri untuk silahturahim ke Panti Asuhan Tri Sakti. Tamu tersebut terkejut kalau jumlah anak asuh di panti itu telah mencapai 30 anak asuh.

Tamu itu lalu mengusulkan untuk mendaftarkan Panti Asuhan Tri Sakti ke Departemen Sosial, agar mendapat dana rutin. “Usulan itu pun kami setujui, dan sejak lima tahun yang lalu Panti Asuhan Tri Sakti ini telah resmi tercatat di Departemen Sosial,” lanjut Khusnul Wafak.

Dan lambat laun, jumlah anak asuh yang tinggal dipanti ini pun mulai bertambah, hingga sekarang tercatat 60 anak baik putra dan putri, yang kesemuanya tinggal di asrama. Menurut Khusnul Wafak, yang lahir pada tanggal 22 Maret 1964, sejak mendirikan Panti Asuhan Tri Sakti ini, banyak tamu yang datang untuk sekedar silahturahim. Bahkan tak jarang pula, tamu yang berkunjung itu dari kalangan pejabat daerah di Kediri.

Seperti misalnya, Kapolwil Kediri, Kapolres Kediri, para petinggi bank-bank di Kediri maupun pejabat-pejabat pemerintahan kota Kediri tercatat pernah datang di Panti Asuhan Tri Sakti ini. “Saya sendiri sampai saat ini masih belum tahu, dari mana mereka itu tahu panti ini. Karena sampai saat ini saya itu belum pernah minta atau mengajukan proposal untuk minta dana kemana-mana. Tapi yang paling penting bagi saya, mereka itu ternyata sangat peduli dengan nasib anak-anak yatim. Untuk itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada beliau dan orang-orang yang peduli terhadap anak yatim,” tandas anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Meski begitu, Khusnul Wafak mengaku panti asuhannya sampai saat ini belum mempunyai donatur tetap. “Mungkin juga saya sendiri kurang dalam hal menggali donatur. Jadi masih mengandalkan para tamu dan orang-orang yang benar-benar peduli terhadap anak yatim. Saya itu punya prinsip begini, orang lain itu jangan dimintai, tetapi berilah mereka kabar tentang apa keinginan kita, kalau mereka diberi Allah hidayah, maka mereka akan membantu kita,” lanjutnya.

Sedangkan untuk syarat menjadi anak asuh di Panti Asuhan Tri Sakti, masih menurut Khusnul Wafak, anak asuh yang telah dua tahun berada dipanti diwajibkan untuk hafal Yasin, Tahlil, Juzamah dan qatam Al-Quran, serta sholat yang benar. Selain itu juga harus menempuh pendidikan formal atau umum. Jadi, meskipun rata-rata anak asuh dipanti tersebut kebanyakkan masih duduk dibangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak, tetapi mereka sudah hafal Yasin, Tahlil, bahkan qatam Al-Quran.

“Untuk kegiatan anak asuh setiap hari, dimulai mandi dan sholat Subuh, lalu mengaji dilanjutkan belajar pelajaran umum, sarapan dan berangkat sekolah. Sepulang sekolah sholat Dhuhur, makan siang lalu istirahat hingga pukul 14.30,” terang Khusnul Wafak. Setelah istirahat kemudian bangun, mandi, sholat Ashar dilanjutkan dengan mengaji, makan malam dan sholat Magrib. Setelah itu mengaji lagi hingga sholat Isya’, dilanjutkan belajar pelajaran umum hingga pukul 21.00.

Padatnya kegiatan dan ketatnya syarat bagi anak asuh di Panti Asuhan Tri Sakti ini, menurut Khusnul Wafak, adalah untuk memberikan pondasi akhlak yang sesuai dengan ajaran agama. Selain itu, pendidikan formal juga mutlak untuk diikuti anak asuhnya. “Karena dengan memiliki pendidikan formal, diharapkan bisa menjadi bekal bagi mereka kedepannya nanti untuk menuju kemandirian. Tetapi untuk biaya pendidikan atau sekolah, kami sangat mengharapkan bantuan dari masyarakat lewat YP3IS, maupun yang langsung ke Panti Asuhan Tri Sakti,” tukasnya.

Jika kebutuhan biaya sekolah telah tertangani dengan baik, selanjutnya Khusnul Wafak ingin memberikan fasiltas-fasilitas keterampilan bagi anak asuhnya, seperti komputer. “Untuk fasilitas keterampilan bagi anak asuh, bisa kami lakukan sambil jalanlah,” ujarnya.(bam)


Sirah Nabawiyah

Perang Hunain

Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijriyah. Sebabnya, karena pemimpin suku Hawazin dan Tsaqif merasa tidaj senang melihat kemenangan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dan kaum Muslimin yang telah berhasil menaklukkan kota Mekkah dan bangsa Quraisy. Dibawah pimpinan Malik bin’Auf, salah seorang tokoh Hawazin, mereka menghimpun suatu kekuatan besar di Authas (tempat antara Mekkah dan Tha’if) dengan mengerahkan seluruh harta kekayaan, wanita dan anak-anak mereka. Hal ini mereka lakukan agar mereka tidak lari meninggalkan medan pertempuran, demi mempertahankan keluarga, harta kekayaan dan anak.

Menghadapi kekuatan ini, Rasulullah SAW pada tanggal 6 Syawal bergerak menuju mereka bersama 12.000 kaum Muslimin. 10.000 dari penduduk Madinah dan 2000 dari penduduk Mekkah. Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Hadrat al-Aslami pergi menyelusup kedalam barisan kaum musyrikin guna mendapatkan informasi mengenai mereka. Setelah berhasil menyelusup dan mengelilingi perkemahan mereka, ia kembali kepada Rasulullah SAW melaporkan informasi tentang mereka. Dalam persiapan menghadapi peperangan ini, disebutkan kepada Rasulullah SAW bahwa Sofyan bin Umaiyah masih musyrik, untuk meminta baju-baju besi dan senjata tersebut.

Lalu Sofyan bertanya: “Apakah dengan cara gasap wahai Muhammad?”. Nabi SAW menjawab: “Bahkan sebagai barang pinjaman. Ia terjamin hingga kami menunaikannya kepada kami”. Akhirnya Sofyan meminjamkan kepada Rasulullah SAW seratus baju besi dan sejumlah senjata. Lalu kaum Muslimin sampai di lembah Hunain kemudian menuruni lembah tersebut di pagi hari sekali ketika hari masih gelap. Tetapi mereka dikejutkan dengan suara mendadak pasukan musyrikin yang keluar menyongsong mereka dari berbagai lorong dan tempat persembunyian lembah, sehingga kuda-kuda mereka berlarian dan orang-orang pun mundur tunggang langgang.

Kemudian Rasulullah SAW menunggangi Baghal-nya menuju ke orang-orang kafir. Abbas ra berkata: Sedangkan aku memegangi tali kekang Baghal Rasulullah SAW menahannya agar tidak terlalu cepat, sementara Abu Sofyan memegangi pelananya. Nabi SAW lalu bersabda: “Panggillah Ash-habus Samrah (para sahabat yang pernah melakukan bai’at Ridhwan pada tahun Hudaibiyah)”. Kemudian aku panggil dengan suaraku yang keras, “Wahai Ash-Habus Samrah!”. Abbas berkata: Demi Allah, begitu mendengar teriakkan itu, mereka segera kembali seperti sapi yang datang memenuhi panggilan anaknya, seraya berkata: “Kami sambut seruanmu, kami sambut seruanmu!”. Kemudian mereka maju bertempur melawan orang-orang kafir setelah dipanggil dengan seruan: “Wahai orang-orang Anshar!”.

Sementara itu Rasulullah SAW memperhatikan pertempuran seraya berkata: “Sekarang pertempuran berkecamuk!”, kemudian beliau mengambil batu-batu kerikil dari tanah dan melemparkannya ke arah wajah orang-orang kafir seraya berkata: “Mampuslah kalian demi Rabb Muhammad!”. Dalam pada itu Allah pun telah memasukkan rasa gentar kedalam hati orang-orang musyrik sehingga mereka terkalahkan dan lari terbirit-birit meninggalkan medan pertempuran. Kaum Muslimin terus mengejar mereka seraya membunuh dan menangkap sebagian mereka sebagai tawanan, sehingga pasukan Muslimin kembali seraya membawa tawanan kehadapan Rasulullah SAW.

Didalam pertempuran ini Rasulullah SAW mengumumkan: Siapa yang telah membunuh seorang musuh dengan memberikan bukti yang kuat maka dia berhak mengambil barang yang melekat di tubuh musuh yang terbunuh itu. Kemudian Rasulullah SAW melewati seorang perempuan yang dibunuh oleh Khalid bin Walid. Nabi SAW berkata kepada sebagian sahabat yang ada disisinya: Beritahukan kepada Khalid bahwa Rasulullah SAW melarang membunuh anak-anak atau wanita atau hamba sahaya.

Perang Hunain ini merupakan pelajaran penting tentang aqidah Islamiah dan hukum sebab akibat yang menyempurnakan pelajaran serupa di perang Badr. Jika perang Badr telah menetapkan kepada kaum Muslimin bahwa jumlah sedikit tidak membahayakan mereka sama sekali dalam menghadapi musuh mereka yang berjumlah jauh lebih banyak manaka mereka bersabar dan bertaqwa, maka peperangan Hunain ini menegaskan kepada kaum Muslimin bahwa jumlah yang banyak juga tidak dapat memberikan manfaat apabila mereka tidak bersabar dan bertaqwa. Kendatipun demikian, jumlah yang sedikit itu tidak membahayakan mereka sama sekali karena kwalitas keislaman, kematangan keimanan dan kemurnian wala’ mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan jumlah kaum Muslimin di perang Hunain jauh lebih besar dibandingkan perang-perang sebelumnya. Kendatipun demikian, jumlah yang besar itu tidak memberikan manfaat sama sekali, karena keimanan dan nilai-nilai keislaman belum merasuk dan menghujam kedalam hati sebagian besar diantara mereka. Massa yang banyak itu telah bergabung secara fisik kepada pasukan Rasulullah SAW, sedangkan hati dan jiwa mereka masih dikuasai oleh kehidupan dunia. (bam dari sirah nabawiyah)

Pusdiklat

Sosialisasi Perkembangan Purna Asuh Pusdiklat

Pada Rabo (22/8), Pusdiklat YP3IS mengadakan silahturahmi bersama pengasuh panti purna asuh, bertempat di Kantor Pusat YP3IS, Jalan Bendul Merisi Selatan I/2A, Surabaya. Acara yang dihadiri Direktur YP3IS, Mohammad Hasyim, Direktur Pusdiklat YP3IS, Ir Bimo Wahyu, beserta staff pusdiklat, bertujuan untuk mensosialisasikan perkembangan pendidikan, pekerjaan dan mental keagamaan anak purna asuh selama setahun di pusdiklat kepada 15 pengasuh panti asuhan pembina sebelumnya. Selain itu, juga sebagai forum pengenalan program pusdiklat baik yang telah maupun yang akan dilaksanakan. Sehingga diharapkan, para pengurus panti asuhan dapat memanfaatkan program layanan pusdiklat selanjutnya.

Sementara itu, Mohammad Hasyim dalam sambutannya banyak memberikan informasi tentang kelebihan dan kekurangan purna asuh, termasuk kekurangsiapan mental yang dimiliki purna asuh, dalam usahanya mengarungi dunia kerja. “Secara mental, anak-anak itu kebanyakkan tidak siap jika harus menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Tidak sedikit yang baru beberapa bulan kerja sudah berhenti. Sehingga sulit bagi purna asuh untuk bersaing kedepannya nanti,” papar Mohammad Hasyim.

Sedangkan Ir Bimo Wahyu selaku Direktur Pusdiklat YP3IS melaporkan, bahwa Program Pusdiklat Tahun 2006-2007 telah resmi berakhir. “Dengan berakhirnya Program Pusdiklat 2006-2007, pihak pusdiklat akan menindaklanjuti dengan memberikan pembinaan mental keagamaan dan informasi peluang kerja dan usaha kepada purna asuh pasca binaan yang belum bekerja,” tutur Bimo Wahyu.(bam)

Konsultasi Agama

Assalamu'allaikum Wr.Wb

Ustad Navis yang terhormat saya ingin menanyakan :

1. Hukum mahar / emas kawin ?

2. Apa boleh perempuan menentukan jumlah mahar ?

3. Bagaimana pula hukum seorang laki - laki memakai emas putih, apa sama hukumnya dengan memakai emas yang biasa dipakai (ditekankan pada jenis logam apa karena merupakan perhiasan)

Demikian pertanyaan saya dan atas jawaban Ustadz, saya sampaikan terima kasih.

Wassalamu'allaikum Wr. Wb

Nurul

Surabaya

Jawaban :

Ukhti Nurul yang saya hormati. Di zaman jahiliah orang tua menjadi penguasa penuh kepada anak puterinya termasuk dalam masalah mahar atau mas kawin, dimana orang tuanya yang menentukan dan menggunakan mas kawin sedangkan puterinya tidak punya kuasa apa-apa. Namun setelah Islam datang merubah budaya mahar itu dengan cara menghormati wanita dan memberi hak kepada wanita untuk menentukan dan mempergunakan mahar sesuai kehendaknya sendiri. Hal ini sesuai firman Allah SWT: “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (QS. An-Nisa’ (4): 4 ).

Baiklah, pengasuh jawab pertanyaan anda:

Hukum mahar atau mas kawin adalah kewajiban seorang suami kepada isterinya atau hak seorang isteri dari suaminya. Jadi seorang suami wajib membayarkan maharnya setelah akad jika dengan persyaratan kontan atau setelah terjadi jima’ jika dalam keadaan mutlak. Dan jika seorang suami tidak membayarkan, maka itu hutang yang harus dibayar. “Berikanlah mahar kepada wanita yang sudah dinikahi sebagai kewajiban tanpa imbalan”. (Fiqh as-sunah. Sayid Sabiq. 1/155)

Justru perempuan (calon mempelai puteri) yang punya hak untuk menentukan berapa dan apa maharnya. Tidak ada batas maksimal atau minimal, tetapi sebaiknya mahar itu harta yang bisa diperjualbelikan dan paling ringan harganya. Hal ini sesuai hadits dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya paling agungnya berkah pernikahan adalah yang paling murah maharnya”. (HR. Muslim)

Haram hukumnya bagi lelaki memakai emas dan sutera. Hal ini sesuai hadits dari Ali KW bahwa Rasulullah SAW memegang sutera ditangan kanannya dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya dua benda ini (emas dan sutera) haram bagi kaum lelaki umatku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ibnu Majah menambahkan: “Halal bagi kaum perempuan”)

Syekh Yusuf Al-Qardlawi menjelaskan, hikmah diharamkannya emas dan sutera bagi lelaki. Bahwa emas dan sutera adalah perhiasan bagi wanita, maka tidak diperbolehkan kalau lelaki menyerupai perhiasan wanita. Begitu juga emas dan sutera itu lambang kemewahan, maka tidak diperbolehkan oleh Al-Qur’an bermewah-mewahan yang mengakibatkan hancurnya umat terdahulu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Isra’ ayat: 16. (Al-Halal Wal-Haram Fil Islam. Yusuf Al-Qardlawi. 81)

Ukhti Nurul. Emas putih itu sama dengan emas kuning. Yaitu sama biasa dipakai perhiasan bagi perempuan dan harganya juga mahal bahkan lebih mahal dari emas kuning, maka dengan demikian juga haram dipakai oleh lelaki. Baik itu berupa cincin kawin atau perhiasan lainnya. Wallahu a’lam

Konsultasi Keluarga

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz Hasan yang terhormat, saya sudah menikah 1, 5 tahun. Kami masing-masing bekerja. Saat ini saya sedang mencicil mobil. Sebelum kredit, isteri setuju kalau dia mau membantu kekurangan dalam pembayaran telepon dan listrik. Sampai saat ini dia membantu tetapi tidak cukup. Kalau saya meminta sedikit lebih, dia tidak mau. Alasannya, dia bekerja untuk membantu orang tua dan adiknya yang sedang kuliah. Saya tidak keberatan, tetapi saya meminta ke dia agar tidak membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan saat ini. Dia tidak terima karena itu adalah uang dia. Gaji suami adalah uang dia juga, sedangkan gaji dia uang dia. Saya meminta dia berhenti bekerja, dia mau asalkan saya harus mengganti biaya yang dia keluarkan untuk keluarga ortunya. Bagi saya jelas tidak mungkin. Kami sering bertengkar masalah ini. Bagaimana hukum apabila isteri bekerja dalam Islam? Apakah untuk keluarga atau orang tua? Apakah uang suami juga uang isteri, sedangkan uang isteri bukan uang suami? Dalam pengajian, saya pernah mendengar "Isteri tidak boleh bekerja kalau tidak diridhloi oleh suaminya" apakah benar?

Terima kasih atas jawaban ustadz.

Donatur

Surabaya

Jawaban:

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Akhi, ketika seorang laki-laki dan wanita menikah, maka kehidupan keluarga sudah harus dimasuki. Peraturan tentang rumah tangga harus sudah dijalani. Tentu ada ketentuan-ketentuan yang harus difahami oleh kedua belah pihak, baik oleh suami atau istri. Kebodohan dan ketidakmengertian tentang aturan rumah tangga, pasti akan membawa masalah tersendiri. Beruntung kalau saling memahami bahwa penyelesaian setiap persoalan adalah ajaran Allah.

Akhi, pada dasarnya begitu wanita menikah, maka orang tuanya sudah menyerahkannya kepada suami. Suamilah yang mengambil alih tangung jawab. Seorang wanita harus memahami pula bahwa begitu dia menikah harus rela mengikuti aturan sebuah rumah tangga. Allah jadikan suami sebagai pemimpin yang bertanggung jawab pada keberadaan rumah tangga. Suami harus memimpin keluarga dengan penuh bijaksana. Dan istri harus tunduk sepenuhnya pada suami terhadap hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama.

Akhi, berkaitan dengan pertanyaan anda :

  1. Boleh saja istri bekerja, dengan syarat seizin suami. Suami juga harus memahami akan resiko-resiko yang ditimbulan oleh izinnya pada istri. Sebab istri akan terkena peraturan-peraturan ditempat kerjanya. Terkadang ada hal-hal yang bertentangan dengan suami.
  2. Pertanyaan anda nomor dua ini mestinya tidak boleh ada, sebab rumah tangga itu tidak bisa melepaskan diri dari hak dan kewajiban pada keluarga, apakah keluarga sendiri atau keluarga istri, apalagi bapak-ibu (kandung atau mertua). Ketika anda membeli sesuatu (mobil, rumah, dan lain-lain) harus sudah memperhitungkan dampaknya pada keluarga, jangan sampai anda membeli sesuatu, kemudian membiarkan/tidak memenuhi kewajiban anda sebagai anak.
  3. Kalau suami istri memahami jawaban pertanyaan “Apa yang diinginkan dalam kehidupan rumah tangga?“, apa hak dan kewajibannya terhadap keluarga? Pasti tidak akan muncul pertanyaan itu. Sebab pertanyaan itu membelenggu anda sendiri. Dalam mengatur keuangan rumah tangga, fahami benar tentang sumber-sumber pemasukan dan untuk apa dipergunakan. Allah ajarkan bahwa rizki itu diberikan oleh Allah untuk :
    1. Nafkah istri dan anak
    2. Keluarga suami dan istri
    3. Fakir miskin
    4. Dakwah dijalan Allah
    5. Dan lain-lain.

Semuanya anda harus mengeluarkan sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak ada ajaran “uang suami juga uang istri, sedangkan uang istri bukan uang suami”

Doa

Syukur

Rabbi auzi’nii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waa lidayya wa an-a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash-shaalihiin.

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan pada ibu-bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke golongan hamba-hamba-Mu yang shalih. (dari buku Doa, Dr. Miftah Faridl, hal:65)

Hikmah

Keutamaan Bersyukur

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khaththab r.a melihat seseorang mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, “Allahumma, jadikanlah aku dari yang sedikit”.

Umar r.a heran dan bertanya, “Apakah doa yang kamu baru mohonkan, wahai saudaraku?”

Orang itu menjawab, “Wahai, Amirul Mukminin! Tidakkah Allah berfirman, “…….Dan sedikit sekali hamba-hambaKu yang berterima kasih (bersyukur). (Saba’ : 13)”.

Umar berkata sambil meninggalkan orang itu, “Sungguh semua orang lebih mengetahui daripada engkau, wahai Umar”. (dari buku Hikmah Dalam Humor Kisah dan Pepatah, A. Aziz Salim Basyarahil, hal:350)

Cabang Sidoarjo

Akademi Kebidanan Mitra Sehat Kunjungi Panti

Pada Kamis (20/9), donatur YP3IS Cabang Sidoarjo, yakni Direktur Akademi Kebidanan Mitra Sehat Tulangan, Vidya Atika, Pengawas, Pongki Jaya serta beberapa mahasiswinya, mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Roisus Sobur di Jalan Ngaban Tanggulangin-Sidoarjo, ikut mendampingi staff YP3IS Cabang Sidoarjo, Muslichudin. Rombongan tersebut langsung disambut Ketua Panti Asuhan Roisus Sobur, Muhammad Rois beserta anak asuhnya. Dalam sambutannya, Muhammad Rois, mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang telah diberikan kepada pantinya. “Jangan bosan-bosan untuk memperhatikan anak-anak yatim. Karena Insyaallah, amalnya diterima oleh Allah,” ujar Muhammad Rois. Diakhir acara, Vidya Atika, Pongki Jaya dan mahasiswinya menyerahkan bantuan bahan-bahan pokok berupa beras, susu, minyak goreng dan lain-lainnya kepada pihak panti asuhan.

Guru Panti Ikutkan Pelatihan ESQ

Sementara itu, bertempat di Convention Hall Suncity Mall, Sidoarjo, YP3IS Cabang Sidoarjo mengirimkan 17 duta guru panti dan staffnya, untuk mengikuti pelatihan ESQ, Jumat (31/8) hingga Ahad (2/9). Menurut Kepala Cabang YP3IS Sidoarjo, Zakariya SAg, latar belakang mengikuti pelatihan ESQ tersebut, yakni supaya para guru panti memiliki bekal pengetahuan tentang ilmu kecerdasan emosi untuk mendidik siswanya.

“Selain itu, pelatihan ini juga untuk mendekatkan para peserta agar lebih mengenal dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Karena, hal itu diperlukan agar dalam mendidik anak-anak, guru tersebut mempunyai landasan taqwa dan keimanan,” papar Zakariya. Masih menurut Zakariya, tujuan YP3IS mengikutkan pelatihan ESQ ini yaitu untuk memberikan motivasi kepada duta guru panti untuk lebih disiplin dan kreatif, dalam memberikan materi pelajaran kepada siswanya. (bam)

Cabang Sidoarjo

Dipadati 350 Koordinator Donatur

Lebih dari 350 koordinator donatur dari Sidoarjo dan sekitarnya hadir memadati acara Kajian Interaktif Ramadhan, Sosialisasi Program dan Buka Bersama Koordinator Donatur yang diadakan YP3IS Cabang Sidoarjo, pada Sabtu (15/9), bertempat di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo, di Jalan Raya Pahlawan I, Sidoarjo. Acara tersebut dihadiri Ketua Forum Donatur YP3IS, Tommy Ariefiyanto ST, Kepala YP3IS Cabang Sidoarjo, Zakariya SAg, beserta seluruh staffnya, Direktur Pusdiklat Yatim Mandiri YP3IS, Ir Bimo Wahyu dan para siswa Pusdiklat, serta beberapa anak yatim dari panti asuhan se-Sidoarjo dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Tommy Ariefiyanto, mengungkapkan kekagumannya atas respon yang diberikan para koordinator donatur Sidoarjo dan sekitarnya, atas kehadirannya dalam acara Kajian Interaktif Ramadhan ini. “Sungguh saya merasa kagum terhadap para koordinator donatur Sidoarjo atas kepeduliannya terhadap anak yatim, dengan ikut menghadiri acara ini. Yakinlah, bahwa kepedulian kita terhadap anak yatim bukanlah usaha yang sia-sia, dan Insyaallah, mendapat pahala dari Allah,” papar Tommy.

Sementara itu, Zakariya mengungkapkan bahwa donatur diwilayahnya mengalami perkembangan yang sangat pesat. “Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya koordinator donatur yang ada diperumahan-perumahan dikawasan Sidoarjo dan sekitarnya. Tak lupa, kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo yang turut mendukung suksesnya acara Kajian Interaktif Ramadhan, Sosialisasi Program dan Buka Bersama Koordinator Donatur YP3IS Cabang Sidoarjo,” jelas Zakariya.

Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan YP3IS Cabang Sidoarjo selama bulan ramadhan kali ini. Kegiatan selanjutnya, setiap Sabtu akan diadakan buka puasa bersama dengan anak yatim. (bam)

YP3IS Pusat

Wakil Wali Kota Buka Puasa Bersama 2000 Anak Yatim

Bertempat di Masjid Muhajirin, Wakil Wali Kota Surabaya, Arif Afandi melakukan buka puasa bersama 2000 anak yatim se-Surabaya, pada Ahad (30/9). Acara yang digelar YP3IS bekerja sama dengan BKSPAIS tersebut dihadiri juga oleh Pembina YP3IS Drs H Hasan Sadzili, Ketua BKSPAIS Drs HM Molik, Ketua Forum Donatur YP3IS Tommy Ariefiyanto ST dan Manajer LAC Yamandiri Drs Abdul Rokib.

Dalam sambutannya, Arif Afandi berpesan agar badan-badan amil zakat untuk lebih meningkatkan profesionalismenya dalam mengelola dananya. “Mudah-mudahan YP3IS dan BKSPAIS kedepannya nanti lebih meningkatkan diri dalam manajemen serta lebih profesional dalam mengelola dana dari donaturnya. Hal ini agar dapat dipercaya oleh para muzaki sekalian,” harap mantan Pemred Jawa Pos ini.

Sedangkan Hasan Sadzili menerangkan tentang beberapa program YP3IS yang bertujuan memandirikan anak yatim, seperti Pusdiklat YP3IS. Sementara HM Molik menjelaskan, 2000 anak yatim tersebut datang dari 103 panti asuhan yang terdaftar di BKSPAIS. “Sedangkan untuk penyandang dananya adalah YP3IS, melalui program penjualan kupon buka puasa. Dan hingga saat ini, kupon tersebut telah terjual sebesar Rp 50 juta untuk buka puasa 2000 anak yatim kali ini,” jelas Molik. (bam)

YP3IS Pusat

Ingin Memiliki Asrama Sendiri

YP3IS Pusat, Senin (10/9), mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Cahaya Insani yang bertempat di Jalan Raya Bibis Karah 50, Surabaya. Kunjungan tersebut dipimpin oleh Gelombang beserta beberapa staff YP3IS Pusat yang langsung disambut Ketua Panti Asuhan Cahaya Insani, Zainal Arifin, dan anak asuhnya. Saat kunjungan itu, YP3IS Pusat juga sekaligus menyalurkan bantuan dari donaturnya berupa bahan-bahan pokok, seperti beras, mie instant, gula, susu, pasta gigi, sabun mandi dan lain-lainnya.

Dalam sambutannya Ketua Panti Asuhan Cahaya Insani, Zainal Arifin, mengucapkan terima kasih atas kunjungan YP3IS Pusat dan bantuan bahan-bahan pokoknya. “Syukur Alhamdulillah, kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Kebetulan saat ini, di Panti Asuhan Cahaya Insani ini sedang kehabisan bahan-bahan pokok, beras kami sudah habis dan juga supermie juga tidak punya. Mudah-mudahan, bantuan ini bermanfaat dan mendapat barokah dari Allah,” papar Zainal Arifin yang pantinya memiliki 31 anak asuh ini.

Zainal Arifin juga berharap, dengan terjalinnya hubungan antara Panti Asuhan Cahaya Insani dengan YP3IS, kedepannya nanti bisa lebih maju dan juga bisa mempunyai asrama sendiri untuk anak asuhnya.

“Pasalnya, hingga saat ini Panti Asuhan Cahaya Insani asramanya masih mengontrak. Harapan kami kedepannya nanti setelah menjalin kemitraan dengan YP3IS dan para donaturnya, Insyaallah, kami bisa memiliki asrama sendiri,” harap Zainal Arifin. (bam)

Kebersamaan Sidoarjo

PT MULTIPLASTJAYA TATAMANDIRI

Terenyuh Dengan Nasib Si Yatim

Semangat untuk ikut peduli dengan nasib anak-anak yatim, hal itulah yang melandasi para karyawan di PT Multiplastjaya Tatamandiri, yang terletak di Jalan Nangka 99, Desa Sruni, Gedangan-Sidoarjo, untuk bergabung menjadi donatur di YP3IS. Menurut Pribadi, yang dipercaya menjadi koordinator donatur di perusahaan tersebut, siapa lagi yang peduli dengan nasib anak-anak yatim, kalau tidak kita sendiri.

“Makanya, respon teman-teman di PT Multiplastjaya Tatamandiri ini, waktu pertama kali tahu YP3IS, sangat antusias sekali untuk ikut bergabung menjadi donatur di YP3IS,” papar Pribadi yang lahir di Porong pada 10 Juni 1963 tersebut. Memang yang pertama kali menjadi koordinator donatur adalah Choirul, tetapi entah karena alasan apa, pada bulan Desember 2006 lalu, Choirul menyerahkan kepada Pribadi untuk menggantikannya menjadi koordinator donatur di PT Multiplastjaya Tatamandiri.

“Saya sendiri waktu itu sempat terkejut, tetapi karena terdorong untuk peduli anak-anak yatim, akhirnya saya menerima untuk menjadi koordinator donatur YP3IS,” ujar bapak dua anak ini. Ketika memegang koordinator donatur untuk YP3IS itulah, jumlah donatur di PT Multiplastjaya Tatamandiri, mulai bertambah. Pribadi pun mulai mengajak rekan-rekan satu perusahaan untuk ikut serta peduli terhadap nasib anak-anak yatim, dengan menjadi donatur di YP3IS.

“Hampir kalau ada kesempatan, saya biasanya memberikan informasi tentang YP3IS kepada rekan-rekan satu perusahaan secara satu persatu. Pasalnya, tidak mungkin saya kumpulkan semua rekan-rekan dalam jumlah yang banyak. Dan biasanya disaat jam istirahat,” jelas Pribadi yang bekerja di bagian Product & Development Officer. Dan hasilnya pun cukup lumayan, tercatat hingga saat ini sejumlah 40 orang di PT Multiplastjaya Tatamandiri, menjadi donatur tetap di YP3IS.

Bahkan tak hanya itu, Pribadi juga meminta ke petugas YP3IS (Kirom) yang rutin mengambil donasi di perusahaan tersebut, untuk memberikan beberapa Majalah Yatim yang masih sisa kepadanya. Majalah Yatim tersebut lantas ia berikan kepada rekan-rekannya yang masih belum menjadi donatur di YP3IS. “Karena, selain mendapat informasi tentang YP3IS lewat saya, mereka juga bisa mendapatkan banyak lagi informasi lewat Majalah Yatim,” ujar pria ramah ini. “Selain itu, saya juga menginformasikan kepada donatur tetap lainnya, kalau ada program terbaru dari YP3IS. Seperti misalnya, untuk membeli kupon buka puasa bagi anak yatim yang perlembarnya Rp 5000,-. Ya langsung informasi tersebut saya sampaikan ke rekan-rekan,” lanjutnya.

Kedepannya nanti, menurut Pribadi, ia mempunyai keinginan untuk mengajak karyawan lebih banyak lagi, agar turut peduli terhadap anak-anak yatim, dengan menjadi donatur di YP3IS. “Pasalnya, jika melihat nasib anak yatim, hati saya langsung terenyuh. Saya sampai membayangkan seumpama anak saya yang yatim, lantas bagaimana dengan nasibnya kelak. Untuk itulah, mari kita ikut peduli dengan nasib anak-anak yatim,” katanya mengakhiri. (bam)


Cabang Kediri

Bersama Memandirikan Anak Yatim

YP3IS Cabang Kediri mengadakan acara Do’a dan Buka Puasa Bersama Anak Yatim dengan Donatur, pada Sabtu (22/9), bertempat di Masjid Baiturrahman Jalan Mayor Bismo, Semampir-Kediri. Acara yang diikuti sekitar 700 donatur dan anak yatim di panti asuhan se-Kediri tersebut, dihadiri oleh Direktur Penyaluran Dana YP3IS, Mohammad Hasyim, Direktur Pengembangan Dana YP3IS, Yusuf Zain SPd, Manajer LAC Yamandiri YP3IS, Drs Abd Rokib, dan Kepala YP3IS Cabang Kediri, Mudzakir SHI.

Dalam sambutannya, Mohammad Hasyim, mengucapkan terima kasih atas bantuan dan peran serta masyarakat Kediri dalam membantu anak-anak yatim. “Terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Kediri yang telah memberi ruang kepada kami untuk peduli dan membantu anak yatim yang ada di Kediri ini. Dana dari Kediri akan kami peruntukkan bagi anak-anak yatim yang ada di Kediri tercinta ini,” papar Mohammad Hasyim. “Mari kita bersama-sama membantu anak yatim. Karena dengan bersama-sama dalam membantu mereka, maka akan banyak pula kita mengentas dan memandirikan anak yatim,” lanjutnya.

Sementara itu, Mudzakir mengucapkan terima kasih kepada donatur YP3IS Cabang Kediri yang banyak memberikan manfaat kepada anak yatim yang ada di berbagai panti asuhan di Kediri dan sekitarnya. “Semoga amal para donatur sekalian diberi pahala oleh Allah. Saya sampaikan juga, bahwa hasil donatur sekalian dapat memberikan beasiswa kepada 142 anak yatim, mengirimkan 8 guru panti dan meloloskan 17 anak asuh ke MEC YP3IS,” jelas Mudzakir. Sebelum buka puasa dimulai, acara didahului dengan pembacaan permintaan do’a dari donatur YP3IS Cabang Kediri.(bam)

Cabang Kediri

Berharap Sumbang Saran

Selasa (11/9), YP3IS Cabang Kediri mengadakan kunjungan ke Panti Asuhan Tri Sakti, Kelurahan Pesantren, Kediri. Rombongan YP3IS tersebut dipimpin oleh Kepala YP3IS Cabang Kediri, Mudzakir SHI beserta staffnya, dan langsung disambut oleh Ketua Panti Asuhan Tri Sakti, Khusnul Wafak SPd dan beberapa anak asuhnya. Dalam kesempatan tersebut, Mudzakir banyak menerangkan berbagai program-program bantuan dari YP3IS. Seperti, adanya program duta guru panti, program beasiswa bagi anak yatim dan lain-lainnya.

“Selain itu, kami juga memohon do’a restunya semoga peran kami di YP3IS di ridhloi dan selalu mendapat barokah dari Allah. Dan, kami juga memohon do’anya supaya YP3IS kedepannya nanti bisa berkembang dan bisa memberikan manfaat yang lebih besar lagi untuk membina anak-anak yatim di Kediri dan sekitarnya,” papar Mudzakir.

Sementara itu, Khusnul Wafak dalam sambutannya banyak mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan yang telah diberikan YP3IS kepada pantinya. “Atas nama keluarga besar Panti Asuhan Tri Sakti, kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dan pikiran, mudah-mudahan amalnya diterima oleh Allah,” sambut Khusnul.

Panti Tri Sakti, menurut Khusnul Wafak, juga sangat mengharapkan tidak hanya sumbangan dalam bentuk materi saja, tetapi juga dalam bentuk saran atau ide-ide mengenai perkembangan panti asuhan. Dalam kunjungan tersebut, YP3IS Cabang Kediri juga menyerahkan bantuan gizi dari donaturnya, berupa bahan-bahan pokok seperti, beras, mie instant, susu, gula, minyak goreng dan lain-lainnya.(bam)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar