Kamis, Juni 04, 2009

MAJALAH YATIM EDISI SEPTEMBER 2008

Kisah
Mohammad Harun Najam
Kalau Ada Biaya Ingin Melanjutkan Kuliah

Meskipun menyandang status yatim, tetapi tetap haruslah berprestasi dan berusaha untuk bisa hidup mandiri. Itulah gambaran sosok pemuda bernama lengkap Mohammad Harun Najam yang kini tinggal di Panti Asuhan Babul Kirom, Desa Tlasih, Tulangan, Sidoarjo. Ketekunannya dalam belajar membaca tartil Al-Quran telah mengantarkannya meraih sejumlah prestasi.

Awalnya pemuda kelahiran 4 April 1991 ini, menjadi yatim ketika bapaknya, Kadam yang bekerja sebagai petani, meninggal dunia karena sakit ditahun 2002 saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar kelas VI. “Selepas lulus sekolah dasar, saya sempat bingung karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah ketingkat SMP. Pasalnya, ibu saya hanya seorang petani sehingga sudah tidak mampu lagi membiayai sekolah saya,” ujar Mohammad Harun Najam ketika ditemui MAYA di Panti Asuhan Babul Kirom, pada Selasa (5/8).

Kemudian oleh kerabatnya, ia disarankan untuk tinggal di Panti Asuhan Babul Kirom. Karena hanya dengan tinggal dipanti asuhan tersebut Harun Najam bisa tetap terus sekolah. Pasalnya, semua biaya sekolah ditanggung oleh pihak panti asuhan. “Dan juga bisa meringankan beban orang tua saya. Selain itu, saya juga ingin melatih diri saya sendiri untuk bisa hidup mandiri. Segala permasalahan saya, harus bisa saya atasi sendiri. Kemudian saya tinggal di Panti Asuhan Babul Kirom selepas tamat sekolah dasar pada tahun 2003 hingga sekarang kelas III Aliyah Tlasih Tulangan Sidoarjo,” papar pemuda yang hobi ceramah ini.

Ia pun bertekad untuk tetap giat belajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di Panti Asuhan Babul Kirom tersebut.

“Sebab disamping belajar tentang pelajaran umum, saya juga belajar tentang agama seperti mengaji, mengerjakan sholat lima waktu dan ilmu-ilmu agama Islam yang lainnya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di Panti Asuhan Babul Kirom ini. Saya pun semakin mantap untuk terus tekun memperdalam ajaran agama keinginan saya kelak menjadi seorang pendakwah bisa terwujud,” lanjutnya.

Karena ketekunannya belajar, terutama mengaji, tak heran kemudian Mohammad Harun Najam sangat terlatih membaca tartil Al-Quran. Lantas di tahun 2005 Panti Asuhan Babul Kirom mengadakan seleksi bagi anak asuhnya untuk diikutkan lomba tartil yatim antar panti asuhan se-Sidoarjo memperebutkan Tropy Bupati Sidoarjo. “Selama sebulan penuh saya lebih menggiatkan lagi belajar Tartil dibawah bimbingan para pengasuh panti Asuhan Babul Kirom ini,” kenang Mohammad Harun Najam.

Dan hasilnya pun tidak sia-sia, karena ia terpilih untuk mewakili Panti Asuhan Babul Kirom di lomba tartil tersebut. Kemudian selama satu minggu penuh Mohammad Najam belajar lagi membaca Al-Quran dengan benar dan indah guna menghadapi lomba. “Waktu belajarnya pun sore setelah pulang sekolah dan malam hari sekitar jam 21.00 setelah pengajian rutin yang diadakan pihak panti tiap malamnya,” kata pemuda murah senyum ini.

Dan saat menghadapi hari perlombaan, ia mengaku sedikit tegang. Tetapi lambat laun perasaan tegang tersebut dapat diatasinya dengan berusaha untuk tetap tenang. “Saat perlombaan saya sebenarnya tidak berfikir untuk menang, tetapi berupaya dan berusaha sebaik mungkin,” ujar Mohammad Harun Najam. Dan syukur Alhamdulillah, ia akhirnya diumumkan sebagai pemenang pertama dan berhak mendapatkan Tropy Bupati Sidoarjo dan sejumlah uang pembinaan.

Tak hanya itu, ditahun yang sama Mohammad Harun Najam juga mengikuti lomba cerdas cermat antar panti asuhan se-Sidoarjo, dan berhasil menyabet juara III yang berhak mendapatkan tropy dan uang pembinaan.

Kedepannya nanti, pemuda ini ingin lebih giat lagi belajar memperdalam ajaran agama serta bisa terus melanjutkan sekolah hingga ketingkat universitas. “Insya Allah kalau memang ada biaya, saya ingin sekali selepas lulus sekolah bisa melanjutkan kuliah. Karena saya ingin tetap terus belajar kemudian bekerja dan kelak bisa membantu orang tua,” harapnya mengakhiri.(bam)

Rihat

Kemampuan Dalam Mendayagunakan Uang

Kecerdasan finansial yakni, kemampuan seseorang dalam mendayagunakan uang sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidupnya. Dan kecerdasan finansial tersebut dapat diukur dengan FQ (Financial Quotient) yang berdasarkan aliran kas masuk dan kas keluar suatu periode. Sedangkan FQ itu sendiri adalah ukuran kemanfaatan seseorang bagi orang lain.

Itulah rangkuman materi yang disampaikan Imam Supriyono dalam acara Training Financial Spiritual Quotient (FSQ) yang diselenggarakan UKKI Universitas Dr Soetomo Surabaya, pada Rabo (13/8), di Gedung F 406 Univ Dr Soetomo Jalan Semolowaru Surabaya.

Menurut pendiri SNF Consulting ini, manusia ketika terlahir memiliki FQ nol. Yakni bayi membutuhkan makan, pakaian, perawatan, tempat tinggal dan lain-lain yang semuanya dapat dihitung nilai uangnya, sementara pendapatnnya nol rupiah. “Selanjutnya, ia akan berkembang dan mulai bisa memperoleh pendapatan. Suatu saat, pendapatannya cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya atau FQ = 1. Kemudian ia melakukan investasi, sehingga FQ akan bertambah terus menerus,” papar penulis buku FSQ ini.

Sehingga orang tersebut telah mencapai FQ = 2, yang disebut sebagai kebebasan financial, yaitu kondisi dimana seseorang dapat memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus bekerja secara langsung, melainkan berpenghasilan dari investasi. “Investasi makin berkembang, maka kecerdasan finansial juga semakin meningkat tanpa batas,” lanjutnya.

Yang terpenting menurut Imam Supriyono, seseorang dalam memandang uang haruslah dengan hati yang jernih. “Sebilah pisau bisa menjadi alat Bantu yang sangat bermanfaat, tetapi bisa juga mencederai pemiliknya. Demikian pula dengan uang. Pisau bernilai karena manfaatnya, bukan karena wujud fisiknya, demikian juga dengan uang. Uang adalah alat, bukan tujuan,” terangnya. Bila uang dijadikan tujuan, maka yang timbul adalah menghalalkan segala cara dan jika memiliki uang dengan jumlah melimpah menjadikan semangat untuk berkarya menurun. “Uang adalah sesuatu yang maya, sewaktu-waktu nilainya bisa hilang begitu saja, karena adanya krisis ekonomi, perubahan politik, bencana alam dan lain-lain,” lanjutnya.

Acara yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut, mayoritas berstatus pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.(bam)


Konsultasi Agama

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya seorang ibu rumah tangga 35 tahun, sudah 5 tahun merintis usaha kredit barang, mulai dari sembako, baju, elektronik, dan lain-lainnya yang berupa barang. Masa kreditnya ada yang 5 bulan sampai 10 bulan, kecuali sembako dan baju yang maksimal kreditnya 3 bulan. Lalu 8 bulan terakhir ini ada yang meminta kredit uang, tapi saya tolak. Kemudian pelanggan saya tadi minta dirupakan emas yang dicicil selama 5 bulan sampai 10 bulan.

Pertanyaan saya:

  1. Bolehkah menurut agama saya mengkreditkan emas?
  2. Apa hukumnya?

Atas jawaban dan bimbingan dari Ustadz Navis, saya haturkan banyak terima kasih.

Wassalam,

Indra, Sidoarjo.

Jawaban:

Ibu Indra yang saya hormati. Pada dasarnya menjual beli dengan kredit itu diperbolehkan dengan syarat yang dikreditkan itu barang bukan uang dan adanya saling rela antara keduanya serta tidak ada unsur ghoror (penipuan) atau riba (renten) juga tidak terjadi transaksi dengan dua harga sebagaimana dijelaskan dalam persyaratan jual beli

Adapun yang tidak diperbolehkan diantaranya adalah kredit uang. Contohnya, menghutangkan uang 100.000 dengan cara dikreditkan selama sebulan dengan membayar tiap hari 5000 X 30 = 150.000 ini berarti riba fadlol. Dan uang itu pada dasarnya adalah emas dan emas adalah uang. Kebetulan saja di zaman sekarang ini orang-orang menggunakan kertas cetakan resmi yang dikeluarkan oleh bank pusat masing-masing negara. Tapi pada hakikatnya uang-uang itu adalah 'wakil' dari emas yang dimiliki oleh suatu negara. Karena perhitungan teknis dan kepraktisan, maka emas-emas yang dulu dijadikan alat tukar dalam setiap jual beli, kedudukannya digantikan dengan kertas-kertas itu di zaman sekarang. Dan sebenarnya, setiap uang kertas yang beredar itu mewakili jumlah cadangan emas yang disimpan di suatu tempat tertentu.

Dari penjelasan diatas, dapat pengasuh jawab pertanyaan anda:

1. Ibu tidak diperbolehkan mengkreditkan emas sebagaimana ibu jelaskan diatas. Hal ini sesuai hadits Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menjual emas dengan emas kecuali yang sama sebanding. Dan jangan ditambah sebagian atas yang lainnya. Janganlah kalian menjual emas dengan perak kecuali yang sama sebanding. Dan jangan ditambah sebagian atas yang lainnya. Dan janganlah menjual perak yang tidak nampak dengan yang nampak. (HR Bukhari dan Muslim)

Janganlah kalian menjual emas dengan emas atau perak dengan perak, kecuali sama beratnya. (HR Muslim)

2. Haram hukumnya ibu mengkreditkan emas, karena emas sama dengan uang sedangkan uang tidak boleh dikreditkan.

Ibu Indra yang dimuliakan Allah SWT. Dalam berusaha hendaknya ikhtiar yang halal dan menghindari yang syubhat apalagi haram, jangan hanya menghitung untung besar saja sedangkan rizki yang didapat dengan cara yang haram, maka tidak berkah dan terancam api neraka. Semoga Allah memberi rizki yang halal dan barakah kepada kita semua. Amiin yaa mujibassailiin

Konsultasi Keluarga

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah. Saya istri yang baru saja dikaruniai seorang putra. Saat ini saya sedang khawatir dengan bagaimana mendidik anak supaya tidak menyimpang dari jalur agama. Pasalnya, suami saya senang nonton VCD porno dan koleksi foto wanita tanpa busana di handphone dan flashdisk. Sampai saat ini, saya belum pernah tegur, karena saya takut suami saya marah. Dan sampai saat ini juga dia belum tahu, kalau saya tahu apa yang sering dia lakukan tanpa sepengetahuan saya. Bukankah itu termasuk zina? Pertanyaan saya:
1. Bagaimana cara menegur suami?
2. Bagaimana cara mendidik anak supaya tidak "tertular" zina yang dilakukan ayahnya?
3. Adakah doa yang harus saya baca untuk menyadarkan suami dan menjadikan rumah tangga kami sakinah mawadah wa rahmah?
Atas jawaban Ustadz saya ucapkan terima kasih sebelumnya.
Wassalam.

Hamba Allah

Jawaban:

Waalaikumussalam wr. Wb.

Ibu yang dirohmati Allah, semoga Allah selalu melimpahkan kesabaran dan kesabaran yang terus menerus pada ibu. Amin.

Apa yang ibu rasakan saya membayangkan betapa beratnya ketika dihadapkan dengan proses pendidikan anak dan masa depan anak dengan kondisi bapak yang seperti itu. Tetapi ketahuilah bahwa Allah tidak pernah akan membiarkan hamba Nya yang selalu mendekatkan diri pada Nya.

Orang tua yang bertanggung jawab adalah orang tua yang selalu memperhatikan sepenuhnya akan kehidupan anaknya terutama sisi agamanya. Rumah yang kondusif adalah rumah yang selalu dipenuhi dengan cahaya. Cahaya rumah yang terbaik adalah sebagaimana sabda nabi yang artinya : Cahayai rumahmu dengan sholat dan bacaan Al Quran. Peran ibu bapak sebagai tauladan dirumah buat anaknya adalah terbesar. Ketika orang tuanya berprilaku yang menyimpang, tentu akan sangat berpengaruh pada anaknya.

Ibu yang dirohmati Allah. Ketahuilah bahwa proses perubahan seseorang itu melalui 3 tahapan. Pertama doa. Kedua ikhtiar dan ketiga tawakkal. Fahami dengan baik dan lakukan secara maksimal ketiga hal tersebut.

Akan halnya pertanyaan ibu :

  1. Mintalah prtolongan dan berdoalah pada Allah. Allah berfirman : [2.45] Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. [40.60] Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. Waktu yang terbaik selain setelah selesai shalat lima waktu adalah sepertiga malam terakhir. Ada beberapa doa yang bisa ibu panjatkan kehadirat Allah. Sholawat, hamdalah, istighfar (mintalah ampun untuk ibu sendiri dan suami), yaa haadi (wahai dzat yang memberi hidayah), dan lain-lain. Perbanyak dan terus menerus berdoa. Selanjutnya berikhtiar dengan memberi nasehat (cari waktu dan tempat yang tepat serta harus berani). Ada cara misalnya secara langsung, melalui suara (radio, tape, TV), melalui tulisan (buku, majalah, buletin Jumatan). Melalui orang lain yang disegani.
  2. Berdoa, misalnya seperti doanya Nabi Ibrahim : ” [37.100] "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. Berikhtiar dengan pendidikan agama (ajari Al Quran sejak masih balita, masukkan ketempat pendidkan yang kuat pengaruh agama. hindarkan anak dari pengaruh negatif, baik TV, lingkungan, termasuk dari ayahnya).
  3. Lihat nomor 1. tambahlah doa: ”Ya Allah jadikan rumah tanggaku adalah surgaku.”
  4. Bertawakkal total pada kekuatan dan pertolongan Allah dengan selalu membaca: ”Laa haula walaa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).
  5. Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.

Doa

Doa Yang Dibaca Setiap Malam Ramadhan

“Ya Allah aku bermohon kepada-Mu pada apa-apa yang Engkau tetapkan dan Engkau takdirkan berupa perkara yang pasti dalam urusan yang bijaksana, berupa qadha yang tidak dapat ditolak dan diganti. Tuliskanlah bagiku diantara orang yang berhaji kerumah-Mu yang mulia: yang mabrur hajinya, yang dihapuskan kesalahannya, yang diampuni dosanya, yang diterima amal usahanya, dan jadikanlah pada apa yang Engkau tetapkan dan Engkau takdirkan berupa perkara yang pasti dalam urusan yang bijaksana dalam malam kadar, berupa qadha yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat diganti: panjangkanlah usiaku, luaskanlah rezekiku. (bam dari Puasa Bersama Rasulullah, Ibnu Muhammad, hal: 94)

Hikmah

Puasa Dari Hawa Nafsu

Tokoh muslim Jamaluddin al Afghani rahimahullah berkata, “Apabila kaum muslimin berpuasa dari hawa nafsu mereka, pasti Allah akan mengganti kehidupan mereka dengan kemuliaan, mengganti kekalahan mereka dengan kemenangan dan mengganti kemunduran mereka dengan kemajuan.

Demi Allah, kemenangan kaum muslimin zaman dahulu dicapai dengan berpuasa dari hawa nafsu (mengekang hawa nafsunya).

Tiap orang memikirkan umatnya dan tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Mereka melepaskan diri dari segala macam dorongan kerakusan sehingga mereka mampu menguasai duni, padahal mereka tidak menginginkan dunia.” (bam dari Hikmah Dalam Humor Kisah & Pepatah, hal:115)

Humor

Menghitung Hari Dengan Kantong

Pada saat bulan Ramadhan, Nashruddin berkeinginan membeli sebuah kantong. Ia berkeinginan untuk mengisinya dengan sebuah kerikil setiap hari, agar tidak menyamai mengikuti penanggalan orang banyak dalam berpuasa. Selang beberapa hari kemudian, putrinya yang masih kecil mengetahui apa yang dilakukan oleh ayahnya itu. Ia memenuhi tangannya dengan kerikil, lalu memasukkan kerikil itu kedalam kantong sang ayah.

Suatu hari, orang yang berselisih mengenai tanggal Ramadhan yang telah lalu. Nashruddin yang dimintai pendapat oleh mereka segera berkata, “Tunggu, aku akan memberikan keputusan yang jitu!” Ia lantas bergegas pulang kerumah, lalu menuangkan semua isi kantong. Ternyata jumlah kerikil mencapai 120, dan ia menganggapnya terlalu banyak. Ia berkata, “Jika aku jujur kepada mereka, pasti mereka menganggapku tolol. Sebaiknya jumlah ini aku bagi menjadi dua saja.”

Kemudian Nashruddin keluar menemui mereka dan berkata, “Ini hari ke-60 dari bulan Ramadhan,” Mereka semuanya tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban tersebut. Mereka berkata, “Kapan bulan lebih dari 30 hari?” Namun ia menjawab, “Celaka kalian! Aku berkata jujur kepada kalian. Mengapa kalian menertawakanku? Andai aku katakana yang sebenarnya kepada kalian menurut hitungan kerikil dalam kantongku, maka sekarang adalah hari ke 120. Karenanya, terimalah apa yang aku putuskan, itulah yang terbaik.” (bam dari Menertawakan Akal Menghitung Bintang, hal: 6)

Ayam Jantan Tidak Tahu Jalan

Nashruddin meletakkan ayam jantan miliknya kedalam sebuah kurungan. Ia membawanya dari satu kota kekota lain untuk menjualnya. Ketika tiba ditengah perjalanan, sedangkan Nashruddin merasa berat membawa kurungan tersebut, lantas ia mulai berpikir.

Dalam benaknya ia berkata, “Hewan ini nyaris mati karena kepanasan dan terkurung, satu ayam menumpuk yang lainnya. Mengapa aku tidak melepaskan dan membiarkannya berjalan sendiri menuju tempat yang aku maksud?”

Demikianlah, Nashruddin akhirnya membuka kurungannya dan melepas ayam-ayamnya. Maka masing-masing ayam jantan beterbangan kearah yang berbeda. Karena kewalahan, Nashruddin mengambil tongkat dan mengejar seekor seraya berkata, “Keparat kamu, kamu tahu perbedaan waktu Subuh dan tengah malam, namun tidak tahu jalanmu disiang hari!”(bam dari Menertawakan Akal Menghitung Bintang, hal: 10)

Siroh

Kisah Rasulullah SAW Dengan Anak Yatim

Kisah ini terjadi di Madinah, pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri. Rasulullah SAW seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendoakan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu. Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya.

Namun tiba-tiba Rasulullah SAW melihat di sebuah sudut, ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang. Rasulullah SAW lantas bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.

Rasulullah SAW kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut, "Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?"

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita, "Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW. Ia bertarung bersama Rasulullah SAW bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?"

Setelah Rasulullah SAW mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata, "Anakku, hapuslah air matamu Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? . Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu. dan Aisyah menjadi ibumu. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?"

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah SAW, orang yang mendengarkan kesedihan dan kegundahan hatinya tersebut. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah SAW, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah SAW yang lembut seperti sutra itu.

Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya.

Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya, "Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?"

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab, "Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya."

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani atau menghiasinya pada hari Kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga." (bam dari argatikel.blogspot.com)

Nabi dan Pemelihara Anak Yatim

Dari Sahl ibn Sa’ad r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan pemelihara anak yatim, baik dari keluarganya sendiri maupun orang lain, berada didalam surga seperti ini; beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan antara keduanya.”(Bam dari Meneladani Akhlak Nabi, hal: 64)

Nabi Bersedekah Hingga Akhir Hayatnya

Dari A’isyah r.a yang berkata, “Ketika Rasulullah SAW sedang sakit, aku memegang sekitar tujuh dinar milik beliau. Lalu, beliau menyuruhku untuk menyedekahkan uang itu. Akan tetapi, karena sibuk mengurusi sakit beliau, aku belum sempat menyedekahkan uang itu. Kemudian, beliau bertanya kepadaku, “Apa yang telah engkau lakukan dengan tujuh dinar itu?” Aku menjawab, “Belum sempat aku sedekahkan, wahai Rasul Allah. Sungguh sakitmu telah menyibukkanku.” Maka, beliau menyuruhku untuk mengambil uang itu. Lalu, beliau meletakkannya di telapak tangannya seraya bersabda: “Nabi Allah tidak suka sekiranya dia menjumpai Allah, dia masih memiliki uang yang belum disedekahkan.”(Bam dari meneladani akhlak Nabi, hal: 2)

Sedekah Tidak Mengurangi Harta

Nabi SAW bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah akan menambah kemuliaan seorang hamba yang memaafkan (kesalahan orang lain). Dan siapa saja yang bertawadhu karena Meneladani Akhlak Nabi Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.”(Bam dari Meneladani Akhlak Nabi, hal: 53)

Bersedekah Yang Banyak

Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya aku memiliki emas (yang banyaknya) seperti Gunung Uhud, aku merasa senang, jika tidak berlaku dariku tiga hari kecuali yang tersisa dari emas itu hanya sedikit, yang aku sisihkan untuk membayar utang.”(bam dari Meneladani Akhlak Nabi, hal 54)

Berita Pusat

Pembuka Sukses Dari Al-Fatihah

Sebanyak 400 peserta Training Inspiring Success By Al-Fatihah Part 2 memadati ruang Aula Gedung A STIE Perbanas, Jalan Nginden Semolo No 34-36 Surabaya, pada Rabo (30/7). Acara pelatihan untuk yang kedua kalinya ini diselenggarakan YP3IS bagi donaturnya dalam rangka menyambut Ramadhan 1429 H dengan menghadirkan dua trainer, yakni Ir H Heru SS dan Ir Sucipto Ajisaka MBA.

Dalam materinya Ir H Heru SS menerangkan bahwa dengan berbasis surat Al-Fatihah mendapatkan ispirasi untuk pembuka sukses. Yakni kerangka fikir yang membuka jalan agar manusia mengikuti petunjuk sukses. Selanjutnya aplikasi dari pembuka sukses Al-fatihah dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Quran. “Mari kita komitmen dengan menghujamkan langkah pembuka suskes. Dimulai dari meraih visi, menyadari dan melejitkan potensi, mengambil peluang dan menciptakan peluang sukses. Lalu senantiasa memotivasi diri kita, meneguhkan peran dan misi kita. Lalu membuat strategi dan perencanaan diri meraih sukses. Dan akhirnya semua harus kita wujudkan dengan bergerak,” papar penulis buku Mapping ini.

Sementara itu Ir Sucipto Ajisaka MBA dalam materinya yang membahas tentang strategi dasar menggapai sukses maksimal tersebut, menerangkan bahwa strategi dasar hidup sukses tergantung kepada visi-misi, potensi-peluang dan motivasi. “Batu pijakan untuk meraih sukses adalah, seseorang harus memiliki nilai tambah. Artinya memiliki nilai lebih bagi orang lain dan orang lain bersedia untuk membayarnya. Sedangkan unsur pembentuk nilai itu sendiri ada 2. Yang pertama diri kita, yakni potensi yang kita miliki. Dan yang kedua orang lain, yaitu apa manfaatnya bagi orang lain. Yang penting semakin bermanfaat bagi orang lain maka nilainya akan semakin mahal,” terang penulis buku Becoming A Magnet Of Luck ini.

Hadir pula dalam pelatihan tersebut Ketua YP3IS Mohammad Hasyim, Direktur YP3IS Zakariya, Ketua BKSPAIS Drs HM Molik dan anggota Forum Donatur YP3IS.(bam)


Potret

Panti Asuhan Al Ikhlas Pasuruan

Yang Penting Yatim Bisa Mengenyam Pendidikan

Meskipun usia panti asuhan ini tergolong masih baru, yakni dirintis pada 10 Nopember 2004 dan di akta notariskan pada tahun 2008 ini, toh semangat para pengasuhnya untuk peduli, mendidik dan membantu anak-anak yatim sangatlah besar. Pada tahun 2004 ada sejumlah anak asuh tetapi semuanya tidak tinggal diasrama, dan baru ditahun 2008 inilah panti Asuhan Al Ikhlas telah menampung sejumlah 6 anak asuh yang semuanya tinggal diasrama.

Seperti yang diungkapkan Ketua Panti Asuhan Al Ikhlas, M. Shifa Abdul Halim, bahwa tujuan dirikannya panti ini yakni untuk membantu anak-anak yatim yang kurang mampu. “Tetapi disini, kami prihatin sekali para tokoh-tokoh masyarakat, para ulama dan warga sekitar sepertinya tidak ada yang peduli terhadap nasib anak-anak yatim. Padahal agama Islam mengajarkan bahwa wajib hukumnya bagi sesama muslim membantu anak yatim. Dari situlah, akhirnya saya tergerak untuk turut serta membantu anak-anak yatim tersebut agar bisa menjadi anak yang berguna bagi masyarakat sekitar dan Negara,” papar M Shifa Abdul Halim kepada MAYA pada Kamis (7/8).

Pria kelahiran Pasuruan 6 Februari 1975 ini juga mengatakan bahwa banyak kendala yang harus dihadapinya saat pertama berencana mendirikan panti asuhan yang terletak di Jalan Mbah Umar No 55 Candi Binangon, Sukorejo, Pasuruan ini. Diantaranya yakni, pandangan negatif dari sejumlah masyarakat terhadap dirinya maupun panti asuhannya. “Karena disini, kalau yang mendirikan panti asuhan itu dasarnya bukan dari seorang kiai atau Gus itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Dan dianggap tidak mampu mendidik pelajaran agama pada anak asuhnya. Tetapi karena saya tetap berkeyakinan untuk peduli dan ikut membantu anak-anak yatim tersebut, sehingga pandangan negatif tersebut tidak terlalu saya hiraukan, malah membuat saya semakin tertantang untuk menyakinkan mereka tentang tujuan saya tersebut, khan Allah Maha Tahu,” ujarnya mantap.

Sementara itu untuk menjalankan operasional panti asuhan ini, M Shifa Abdul Halim mengaku mendapat bantuan dari perorangan atau masyarakat yang peduli terhadap nasib anak-anak yatim tersebut. “Selain itu kami juga menyebar kotak amal di toko-toko yang ada di kota Pasuruan dan Pandaan. Hingga saat ini sudah ada sejumlah 10 kotak amal. Hasilnya ya Alhamdulillah, meskipun kami makan seadanya,” katanya. Padahal biaya operasional Panti Asuhan Al Ikhlas ini perbulannya lebih dari Rp 300.000. Itupun untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidup keenam anak asuhnya. “Untuk saat ini, kemampuan kami hanya mengasuh 6 anak saja. Tetapi kedepannya nanti kalau memang ada biaya yang lebih, kami ingin menampung lebih banyak lagi anak-anak yatim yang kurang mampu,” harap M Shifa Abdul Halim.

“Yang terpenting bagi saya anak-anak yatim itu bisa mengenyam pendidikan sekolah sama seperti anak-anak yang lainnya. Karena yang terpenting bagi anak-anak asuh tersebut adalah pendidikan sekolah, untuk bekal mereka mengarungi kehidupan ini. Dengan bekal pendidikan yang cukup, saya yakin mereka akan bisa hidup mandiri,” lanjutnya.

Selain menambah anak asuh, ia juga mempunyai rencana merenovasi bangunan panti asuhan tersebut, karena kondisinya saat ini yang sangat memprihatinkan. Mulai ruang tidur bagi anak asuh yang putra maupun putri, ruang belajar sampai fasilitas penunjang lainnya yang kondisinya sangat kurang layak. “Saya sampai merasa kasihan kepada mereka. Apalagi tempat anak asuh putri yang tidur dan belajarnya harus dalam satu ruangan yang sama dengan kondisi yang sangat sederhana. Tetapi mau bagaimana lagi, kami memang terkendala masalah dana yang tidak ada,” jelasnya.

Untuk itu, M Shifa Abdul Halim berharap melalui Majalah Yatim ini ada donatur atau masyarakat luas, baik itu di Pasuruan sendiri maupun diluar kota Pasuruan, untuk turut peduli dan membantu Panti Asuhan Al Ikhlas ini. “Semoga bantuan masyarakat tersebut mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah,” ujarnya mengakhiri.(bam)

Kebersamaan

STIKES BHAKTI MULIA KEDIRI

Wajib Zakat Untuk Yatim

Dalam Islam mengajarkan bahwa didalam penghasilan tetap kita perbulan, ada hak-hak anak yatim. Sehingga wajib hukumnya untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan tersebut untuk anak-anak yatim tersebut. Hal tersebut yang mendorong para karyawan STIKES Bhakti Mulia Kediri untuk turut serta peduli dan membantu anak-anak yatim yang kurang mampu dengan bergabung menjadi donatur tetap di YP3IS Cabang Kediri.

Menurut Mohammad Afifuddin S.Sos, Sekretaris Program Study D3 Kebidanan, awalnya YP3IS masuk ke STIKES Bhakti Mulia Kediri pada tahun 2007 yang lalu. “Ada petugas dari YP3IS datang menawarkan untuk menjadi donatur bagi anak-anak yatim ke STIKES Bhakti Mulia ini. Saya pun langsung tertarik untuk ikut bergabung menjadi donatur di YP3IS, karena memang sudah kewajiban umat muslim untuk membantu dan peduli terhadap anak-anak yatim yang tinggal dipanti asuhan,” papar Mohammad Afifuddin kepada MAYA, pada Jumat (8/8).

Kemudian oleh Afifuddin, hal tersebut disampaikan kepada rekan-rekannya yang lain untuk turut serta bergabung membantu anak-anak yatim yang ada dipanti asuhan-panti asuhan di kota Kediri melalui YP3IS Cabang Kediri. “Respon awal rekan-rekan sih sempat ragu dengan YP3IS ini, apakah benar yayasan tersebut menyalurkan bantuan masyarakat untuk anak-anak yatim yang kurang mampu. Tetapi setelah mereka yakin dengan YP3IS yang telah memiliki kantor cabang di Kediri dan memiliki majalah bulanan sebagai laporan ke para donaturnya, Alhamdulillah saat itu langsung tercatat 5 orang yang menjadi donatur tetap di YP3IS Cabang Kediri,” kata karyawan yang berkantor di Jalan Matahari 1 Pare Kediri ini.

Dari situlah lambat laun jumlah donatur tetap bagi anak-anak yatim di STIKES Bhakti Mulia ini mulai bertambah, yang hingga saat ini tercatat 10 orang. Untuk memudahkan mengkordinir donasi rekan-rekannya tersebut, Afifuddin pun memohon ke bendahara STIKES Bhakti Mulia Kediri untuk menyisihkan sebagian gaji perbulan karyawan yang telah menjadi donatur tetap di YP3IS Cabang Kediri untuk membantu anak-anak yatim.

Bahkan tak hanya itu, untuk lebih menarik minat masyarakat khususnya dilingkungan STIKES Bhakti Mulia untuk peduli terhadap anak yatim, Afifuddin rencananya di bulan puasa ini ingin turut serta membantu YP3IS untuk menyebarkan kupon infaq buka puasa. Hal ini seperti yang pernah dilakukan saat bulan puasa tahun kemarin yang juga turut membantu menyebarkan kupon infaq buka puasa bagi anak yatim.

“Insya Allah karena bulan puasa nanti juga bertepatan dengan pendidikan orientasi bagi mahasiswa baru, maka kami berencana mewajibkan para mahasiswa baru tersebut untuk membeli kupon infaq buka puasa YP3IS bagi anak yatim yang kurang mampu. Karena, semakin banyak kupon infaq tersebut terjual maka semakin banyak anak-anak yatim yang kurang mampu tersebut dapat berbuka puasa,” harapnya.(bam)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar