Minggu, Agustus 30, 2009

MAJALAH YATIM SEPTEMBER 2009

Berkah

Siti Eva Mardiana

Instruktur Senam

Batin Jadi Tenang Dan Badan Tetap Fit Sepanjang Hari

Setelah menjadi donatur tetap bagi anak-anak yatim yang kurang mampu melalui Yatim Mandiri, ia mengaku mendapatkan banyak berkah dari Allah. Diantaranya, yakni berkah kemudahan dalam bekerja sebagai instruktur senam, kelancaran rejeki dan ketenangan batin dalam menjalani kehidupan ini.

Seperti yang dituturkan oleh wanita pemilik nama lengkap Siti Eva Mardiana, bahwa sudah sejak lama ia ingin dapat menyisihkan sebagian penghasilannya untuk digunakan membantu anak-anak yatim. “Memang sudah lama saya ingin sekali menyantuni anak-anak yatim yang kurang mampu. Tetapi keinginan saya tersebut belum terlaksana karena saya belum tahu tempat yang tepat untuk menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh saya tersebut. Selain itu, saya juga ingin sekali menyantuni langsung ke panti asuhan-panti asuhan, tapi saya belum kenal satu pun pengasuh panti asuhan di Semarang ini,” kata Siti Eva Mardiana ketika diwawancarai MAYA pada Selasa (28/7).

Lalu di kemudian hari, ada seorang temannya yang secara kebetulan telah lebih dulu menjadi donatur di Yatim Mandiri, memberikan Majalah Yatim kepadanya. “Setelah saya baca-baca isinya, termasuk program-program tentang Yatim Mandiri yang kesemuanya bertujuan untuk membantu dan memberdayakan anak-anak yatim hingga mereka mandiri, saya pun tertarik untuk ikut menjadi donaturnya,” terang wanita kelahiran Semarang pada tanggal 2 Maret 1975 ini.

Tanpa membuang waktu lagi, ia lantas berangkat menuju ke kantor Yatim Mandiri Cabang Semarang. Sesampainya disana ia pun mengutarakan niatnya untuk ikut serta menjadi donatur tetap bagi anak-anak yatim yang kurang mampu dengan melalui Yatim Mandiri. “Dan setelah diberikan penjelasan oleh petugas Yatim Mandiri, syukur alhamdulillah sejak lima bulan yang lalu, yakni bulan Februari 2009 saya pun menjadi donatur tetap di Yatim Mandiri Cabang Semarang,” ujar Siti Eva Mardiana.

Masih menurut Siti Eva Mardiana, bahwa ia mengaku tertarik untuk menjadi donatur di Yatim Mandiri dikarenakan lembaga tersebut memang benar-benar fokus untuk membantu anak-anak yatim yang kurang mampu, terutama dalam hal pendidikan anak yatim. “Dan juga Yatim Mandiri mempunyai program-program yang baik, jelas dan ada manfaatnya bagi anak-anak yatim. Selain itu, di Yatim Mandiri juga memberikan laporan keuangan di Majalah Yatim yang rutin tiap bulan diberikan kepada donaturnya. Serta saya juga merasa dipermudah dalam menyalurkan zakat, infaq dan shodaqoh dengan adanya fasilitas jemput donasi dari petugas Yatim Mandiri. Sehingga saya tidak perlu repot-repot lagi untuk menyalurkannya, karena ada petugas Yatim Mandiri yang datang mengambil donasi saya,” jelas Siti Eva Mardiana.

Meskipun baru lima bulan yang lalu Siti Eva Mardiana menjadi donatur bagi anak-anak yatim, tetapi ia merasakan telah mendapat banyak berkah dan berbagai macam kemudahan yang diterimanya dari Allah. “Diantaranya, saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberikan berkah kesehatan jasmani dan rohani kepada saya. Karena profesi saya yang sebagai instruktur senam di berbagai sanggar-sanggar senam yang ada di Semarang, maka saya dituntut harus tetap sehat setiap hari. Sebab saya biasanya mengajar senam setiap pagi dan sore hari. Untuk itu saya harus senantiasa tetap fit sepanjang hari,” ungkapnya.

Kemudian ia juga diberikan berkah ketenangan batin dalam menjalani kehidupan ini. “Yakni lebih enjoy aja, lebih menikmati kehidupan ini. Lalu Allah juga memberikan kemudahan rejeki kepada saya. Alhamdulillah ada saja rejeki yang diberikan Allah kepada saya ketika saya sedang membutuhkan. Sedangkan berkah selanjutnya, yakni diberikan kelancaran dan kemudahan dalam bekerja sebagai instruktur senam dengan semakin banyaknya undangan untuk mengajar senam diberbagai sanggar senam di kota Semarang ini,” kata Siti Eva Mardiana mengakhiri.(bam)


Konsultasi Kesehatan

Pengobatan Mata Minus

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Yth dr Rahmania. Saya ingin menjadi seorang pramugari, tetapi saya memakai kaca mata. Saya pernah mendengar tentang pengobatan mata tanpa operasi untuk menghilangkan minus.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah pengobatan tersebut bisa berhasil 100%?
2. Apakah ada cara lain selain pengobatan mata tersebut?
Saya berharap bisa mendapat jawaban yang memuaskan dari dr Rahmania. Atas perhatian dan jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalam,
Dyan, Kediri

Jawaban

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Mbak Dyan yang saya hormati.

Sebelum menjawab pertanyaan anda, saya berkonsultasi pada seorang dokter spesialis mata: dr. Hj. Ratna Muslimah, SpM (Ketua SMF Mata RSU Haji Surabaya).

Titik fokus jauh mata bervariasi pada orang normal tergantung bentuk bola mata dan kornea. Mata emetrop (mata normal) secara alami berfokus optimal bagi penglihatan jauh. Mata miopia memerlukan lensa koreksi (lensa minus) agar terfokus dengan baik untuk jarak jauh. Ini berkaitan dengan keadaan anda. Gangguan optik ini disebut kelainan refraksi.

Ada beberapa cara untuk mengoreksi kelainan refraksi tersebut, yaitu:

Menggunakan kacamata, lensa kontak (langsung dipasang pada kornea) dan dengan metode yang dikenal dengan nama LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis), juga ada metode CLE (Clear Lens Extraction) yaitu operasi penggantian lensa mata. Untuk menentukan apakah dapat dilakukan LASIK dan CLE harus berkonsultasi pada dokter spesialis mata.

Metode tanpa operasi untuk koreksi mata minus tidak dikenal secara medis (oleh dokter spesialis mata). Saya tidak tahu apakah pengobatan secara tradisional dapat dilakukan untuk mengoreksi mata minus dengan metode tanpa operasi.

Terkait dengan penjelasan tersebut diatas saya mencoba menjawab pertanyaan anda:

1. Saya tidak dapat menjelaskan bagaimana tingkat keberhasilan pengobatan tanpa operasi untuk mata minus karena tidak dikenal dalam dunia medis.

2. Cara pengobatan kelainan refraksi ada beberapa hal yaitu:

1. Menggunakan kaca mata.

2. Menggunakan lensa mata.

3. Dengan metode LASIK.

4. Dengan operasi CLE

Demikian penjelasan saya semoga Allah SWT melancarkan cita-cita anda. Amin.

dr. Rahmania A. Lawu SpPK


Kebersamaan Kediri

Permata Bank, Kediri

Rata-rata Punya Anak Asuh Lebih Dari Satu

Siapa lagi yang membantu biaya pendidikan anak yatim, kalau tidak kita semua. Sebab pendidikan mutlak diperlukan untuk bekal mereka menuju kemandirian. Atas dasar itulah, para karyawan di Permata Bank, Kediri turut serta bergabung menjadi donatur bagi anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri.

Seperti yang telah diutarakan oleh Miar Pritasari, selaku Customer Service di Permata Bank, Kediri, bahwa sekitar tahun 2006 yang lalu Yatim Mandiri mulai masuk di bank tersebut. “Saat itu petugas Yatim Mandiri menawari kepada salah seorang teman kami yang bernama Pak Jaya untuk bergabung menjadi donatur tetap bagi anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri. Kemudian oleh Pak Jaya, tawaran dari Yatim Mandiri tersebut disampaikan ke teman-teman yang lain di Permata Bank, Kediri ini, termasuk saya,” kata Miar Pritasari ketika diwawancarai MAYA pada Kamis, (30/7).

Namun, karena masih belum paham benar mengenai penjelasan rekan kerjanya tentang Yatim Mandiri tersebut, ia lantas meminta petugas dari Yatim Mandiri untuk datang langsung menjelaskan kepadanya. “Setelah mendapat penjelasan tentang Yatim Mandiri, program-programnya dan tujuannya, maka dari situlah saya bersedia untuk bergabung menjadi donatur tetapnya. Saat itu yang langsung mendaftar untuk menjadi donatur di Yatim Mandiri ada sekitar dua orang, termasuk saya,” ujar wanita yang lahir pada tanggal 27 Januari 1982 ini.

Menurut Miar Pritasari, ia tertarik menjadi donatur di Yatim Mandiri selain karena memang 2,5% dari penghasilan adalah wajib untuk di zakatkan, juga disebabkan Yatim Mandiri mempunyai program-program yang baik untuk membantu anak yatim yang kurang mampu. “Program-program tersebut mempunyai tujuan yang baik pula, yakni membantu dan mendidik anak yatim hingga mereka bisa lebih mandiri, tidak bergantung kepada keluarganya maupun orang lain. Dan di Yatim Mandiri juga diberikan alternative pilihan nilai donasi bagi donaturnya. Sehingga masyarakat dapat menyantuni anak-anak yatim sesuai dengan kemampuannya. Dari situlah, saya terkesan dan tidak ragu lagi untuk menjadi donatur tetap di Yatim Mandiri,” jelasnya.

Setelah itu, Miar Pritasari mulai tertarik mengajak rekan-rekannya yang lain di Permata Bank, Kediri untuk turut serta peduli dan menyantuni anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri. “Yakni dengan cara menawari secara langsung dan menjelaskan kepada mereka tentang perlunya kita peduli terhadap anak-anak yatim yang kurang mampu. Mulai tentang nilai donasi yang dapat dipilih sesuai dengan kemampuan hingga menjelaskan kalau ada event Ramadhan, bisa menyumbangkan pakaian bekas layak pakai ke anak yatim melalui Yatim Mandiri. Selain itu, saya juga memberikan Majalah Yatim untuk sekedar mereka baca, agar dapat benar-benar paham dan mengerti tentang Yatim Mandiri dan perlunya menyantuni anak yatim,” urainya.

Dalam perkembangannya, karyawan di Permata Bank, Kediri yang akhirnya turut mendaftarkan diri untuk menjadi donatur tetap di Yatim Mandiri pun semakin bertambah. Total hingga saat ini sekitar 7 orang karyawan Permata Bank Kediri yang menjadi donatur tetap ditambah beberapa karyawan yang ikut donatur insidentil. “Mereka semuanya selain mengikuti zakat rutin tiap, juga ikut program Orang Tua Asuh dan rata-rata mempunyai anak asuh di Yatim Mandiri lebih dari satu anak asuh,” ujarnya mengakhiri.(bam) foto: (bob)

Potret Sidoarjo

YPAY Prambon, Sidoarjo

Bantuan Al-Quran Terjemahan Membuat Anak Asuh Mudah Dan Cepat Paham Al-Quran

Setelah menjalin mitra dengan Yatim Mandiri sejak tahun 2003 yang lalu, YPAY (Yayasan Peduli Anak Yatim) Prambon, Sidoarjo merasa sangat terbantu dalam membiayai, mendidik serta memandirikan anak-anak asuhnya. Hal ini dikarenakan YPAY Prambon telah menerima berbagai bantuan dari Yatim Mandiri. Diantaranya bantuan Al-Quran terjemahan, BDP (Bantuan Dana Pendidikan) tiap semester, bantuan hewan Qurban, bantuan Guru Panti, Uang Saku Lebaran dan Uang Buka Puasa Yatim.

Seperti yang diungkapkan oleh Drs Juwari Sr, selaku Ketua YPAY Prambon, Sidoarjo, bahwa bantuan Al-Quran terjemahan yang diberikan oleh Yatim Mandiri sangat bermanfaat dan membantu anak-anak asuhnya untuk lebih cepat paham tentang Al-Quran. “Yang tadinya anak-anak asuh kami hanya mendengarkan ketika pengasuh menyampaikan materi khusus tentang Al-Quran, nah sekarang mereka bisa langsung membuka sendiri materi tersebut di Al-Quran terjemahan. Hal ini dikarenakan masing-masing anak telah mendapatkan Al-Quran terjemahan dari Yatim Mandiri. Dan ketika diadakan tes tentang Al-Quran, mereka bisa menjawabnya dengan baik dan benar,” kata Drs Juwari Sr ketika ditemui MAYA pada Kamis, (30/7) di Sekretariat YPAY Prambon, Sidoarjo.

Dari situlah anak-anak asuh YPAY Prambon, Sidoarjo ini semakin lama semakin pandai dan cepat mengerti tentang Al-Quran. “Sehingga apa yang kita sampaikan kepada anak-anak itu terkesan bukanlah suatu yang tidak ada dasarnya. Jadi anak-anak otomatis dengan adanya bantuan Al-Quran ini menambah keimanannya kepada Allah, sebab apa yang pengasuh sampaikan itu benar-benar berdasarkan Al-Quran. Dan juga, bantuan Al-Quran terjemahan tersebut juga sesuai dengan program dari YPAY Prambon ini, yaitu setiap anak asuh harus paham tentang Al-Quran. Sehingga mereka bisa dengan mudah dan cepat belajar Al-Quran,” ujar Drs Juwari Sr.

Selain itu, panti yang terletak di Desa Bendotretek Kecamatan Prambon Kabupaten Sidoarjo ini juga telah menerima bantuan guru panti dari Yatim Mandiri. Hal ini dirasakan juga besar sekali manfaatnya bagi anak-anak asuhnya. Sebab anak-anak asuh YPAY Prambon, Sidoarjo ini semakin giat dan tekun dalam belajar. “Bagi panti, adanya guru bantu ini sangat membantu, karena panti sudah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk honor guru. Dan panti pun juga bisa sekaligus bekerjasama dengan guru bantu tersebut untuk bagaimana pola pendidikan dipanti tempatnya mengajar bisa berkembang sesuai dengan bagaimana seorang guru itu memperoleh ilmu dari pembinaan yang diberikan oleh Yatim Mandiri. Apalagi adanya standarisasi guru panti dari Yatim Mandiri juga sangat baik sekali,” jelas Drs Juwari Sr.

Tak hanya itu, panti yang berdiri pada tahun 2002 dan memiliki 69 anak asuh ini, tiap tahun juga telah menerima bantuan dari Yatim Mandiri berupa hewan Qurban, Uang Saku Lebaran Yatim, Uang Buka Puasa Yatim dan BDP (Bantuan Dana Pendidikan) yang mulai diberikan sejak tahun 2004 hingga sekarang. “Dengan adanya BDP dari Yatim Mandiri, YPAY Prambon juga merasa sangat terbantu dan bermanfaat sekali. Kemarin saja, waktu sekolah tahun ajaran baru, panti telah mengeluarkan biaya daftar ulang, biaya kenaikan dari SD ke SMP dan SMP ke SMA, sampai biaya kebutuhan sekolahnya yang meliputi, tas, buku, sepatu dan lainnya. Belum lagi ditambah kita harus melunasi uang SPP anak-anak. Dan biaya itu sangat terasa besar sekali bagi panti. Dan alhamdulillah Yatim Mandiri memberikan bantuan biaya pendidikan untuk anak-anak asuh kami. Karena bantuan dari Yatim Mandiri tersebut dapat membantu meringankan beban panti ini,” katanya mengkhiri.(bam)

Kebersamaan Jakarta

Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta

Peduli Pendidikan Yatim

Atas dasar kepedulian terhadap nasib dan pendidikan anak-anak yatim yang kurang mampu, para karyawan di Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta tertarik untuk bergaung menjadi donatur di Yatim Mandiri.

Para karyawan di bank yang terletak di Gedung BII, 3 rd Jalan Jatinegara Timur No 59, Jakarta Timur ini, awalnya mendaftar menjadi donatur sekitar bulan Mei 2009 yang lalu. “Ada rekan kami di bagian security di Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta ini, kebetulan rumahnya dekat dengan kantor Yatim mandiri Jakarta dan telah menjadi donatur, menawari saya untuk bergabung menjadi donatur bagi anak-anak yatim. Selain menawari, ia juga memberikan Majalah Yatim kepada saya,” kata Deden TP Perdiansyah, selaku Team Leader Pembiayaan Consumer Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta, ketika diwawancarai MAYA pada Senin (3/8).

Setelah membaca isi dari Majalah Yatim tersebut, Deden TP Perdiansyah pun lantas tertarik untuk mengetahui lebih lengkap lagi tentang Yatim Mandiri. “Akhirnya, saya mengundang petugas dari Yatim Mandiri untuk datang langsung ke kantor kami guna menjelaskan lebih detail lagi tentang Yatim Mandiri dan anak yatim. Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, saya pun semakin mantap untuk bergabung menajdi donatur tetap bagi anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri,” ujar pria kelahiran Bandung pada tanggal 1 Desember 1967 ini.

Kehadiran Yatim Mandiri di Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta ini ternyata direspon cukup bagus oleh para karyawannya. Terbukti saat itu yang langsung ikut mendaftar menjadi donatur di Yatim Mandiri sekitar tiga orang. “Kami tertarik dengan Yatim Mandiri karena selain fokus dan tujuannya membantu dan memandirikan anak-anak yatim yang kurang mampu, juga program-program juga sangat baik dan jelas. Terutama program Orang Tua Asuh. Karena disitu orang tua asuh diberikan laporan lengkap tentang data anak asuhnya, serta laporan perkembangan pendidikan anak asuhnya secara rutin. Sehingga kami sebagai orang tua asuh dapat mengetahui perkembangan anak asuhnya. Dan alhamdulillah saya juga ikut program OTA dengan mempunyai satu anak asuh,” jelas Deden TP Perdiansyah.

Kemudian, ia mencoba untuk mengajak rekan-rekan yang belum menjadi donatur untuk turut serta membantu anak-anak yatim yang kurang mampu melalui Yatim Mandiri. “Cara mengajak rekan-rekan untuk menjadi donatur di Yatim Mandiri, yakni dengan memberikan Majalah Yatim untuk mereka baca. Karena isi Majalah Yatim sudah cukup bagus menerangkan tentang perlunya kita peduli dan menyantuni anak-anak yatim. Biasanya, dari situlah mereka langsung tertarik untuk bergabung menjadi donatur tetap bagi anak-anak yatim yang kurang mampu,” ungkapnya.

Upaya tersebut ternyata menarik minat rekan-rekannya di Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta untuk turut serta pula menjadi donatur di Yatim Mandiri. “Dan alhamdulillah terbukti saat ini sudah sekitar enam orang karyawan Bank Internasional Indonesia Syari’ah, Jakarta yang menjadi donatur di Yatim Mandiri. dan hampir semuanya juga mengikuti program OTA,” kata Deden TP Perdiansyah.

Bahkan program Kupon Infaq Buka Puasa Yatim dari Yatim Mandiri, juga mendapat simpati dan respon yang bagus dari rekan-rekannya yang lain. “Karena kepedulian rekan-rekan disini terhadap anak-anak yatim tersebut, alhamdulillah Kupon Infaq Buka Puasa Yatim yang perlembarnya seharga Rp 10.000 tersebut sudah habis sekitar 20 lembar,” ujarnya mengakhiri.(bam)

Testimony Proses Seleksi MEC

Wiji Asih

Lahir Kediri 28 Juli 1988, non panti

Jurusan Akuntansi, angkatan ke 3 tahun 2008-2009

Kerja di Unilever

Awalnya saya ikut tes wawancara, saya seperti tidak percaya diri karena saya berasal dari non panti. Namun setelah dua minggu kemudian diumumkan, alhamdulillah saya dapat lolos tes wawancara. Lalu saya ikut tes selanjutnya, yakni pemondokan di asrama MEC selama dua minggu. Dipemondokan tersebut ada beberapa tes lagi, berupa tes mengaji, tes kesehatan, tes psikologi dan tes kepribadian. Disitu seperti benar-benar digembleng apakah anak tersebut bisa bertahan atau tidak mendapatkan serangkaian tes masuk MEC tersebut. Memang sih sangat ketat sekali tes untuk bisa masuk ke MEC.

Proses seleksi di MEC, saya melihatnya sudah cukup bagus ya, karena meliputi serangkaian tes yang tidak hanya tes baca Al-Quran aja, tetapi tes secara keseluruhan mulai dari kesehatan, psikologi hingga kepribadiannya.

Dan Alhamdulillah, setelah dua minggu tersebut barulah ada pengumuman bahwa saya dinyatakan lolos tes untuk masuk menjadi mahasiswa MEC. Bahkan dirumah saya langsung mengadakan syukuran karena saya bisa masuk MEC.

Pesan saya untuk adik-adik yang ingin mengikuti seleksi di MEC, yang penting mantapkan niat, yakin dan percaya apa yang kita lakukan itu adalah yang terbaik untuk mencapai cita-cita. Dan jangan dulu memikirkan yang lain-lain.

Dian Faristania

Lahir di Gresik 9 November 1988, non panti

Jurusan Akuntansi, angkatan ke 3 tahun 2008-2009

Kerja di KJKS sebagai Administrasi Collecting

Tes seleksi masuk MEC awalnya adalah tes interview. Disitu saya alhamdulillah, bisa lolos dan berhak untuk mengikuti seleksi lanjutan berupa pemondokan di asrama MEC selama dua minggu. Disitu lantas ada serangkaian seleksi lagi yang meliputi seleksi akademik, tiap harinya kita juga dinilai mengenai mental, mengaji dan prilaku kita selama pemondokan tersebut serta ada psikotes juga. Setelah itu, syukur alhamdulillah akhirnya saya bisa lolos tes dan masuk sebagai mahasiswa di MEC.

Menurut saya proses seleksi di MEC, alhamdulillah tidak terlalu berat, karena saya sejak dari rumah sudah niat dan ikhlas mengikutinya. Dan saya melihat adanya seleksi di MEC ini sudah cukup baik. Karena proses seleksinya tidak hanya melihat dari akademiknya saja, tetapi agamanya juga dinilai, mental dan prilaku kita sehari-hari juga dinilai.

Pesan kepada adik-adik, kalau ingin menggapai cita-cita harus tekadkan semangatnya, karena semuanya itu tergantung kepada niat kita. Dan tetep semangat dan disiplin, serta jangan lupa doa dan usahanya.


Testimoni MEC

Unggul Tri Wideta

Jurusan Otomotif, Angkatan 2009-2010

Panti Asuhan Baitul Makmur, Malang

Lahir Malang 3 Maret 1991

Sewaktu saya ikut seleksi yang pertama di MEC, saya dinyatakan gagal lolos tes pemondokan dikarenakan menurut penilaian panitia MEC saya melakukan banyak pelanggaran. Dan saya sendiri merasa memang banyak melanggar, yakni sering telat masuk kelas dan sholat berjama’ah, sering ramai waktu pengajian, kurang sopan dan lainnya. Begitu tahu gagal lolos seleksi saya merasa seleksi di MEC ini memang cukup berat sekali. Karena seleksi tersebut meliputi banyak tes, yakni tes wawancara, tes tulis, tes kesehatan, tes kepribadian, tes psikologi dan keagamaan. Selain itu saat pemondokan, jadwal kegiatannya juga sangat padat sekali.

Dari situlah saya mulai bertekad untuk bisa merubah sikap saya menjadi lebih baik dan siap lagi, karena saya berniat untuk mengikuti seleksi masuk MEC di tahun berikutnya. Selain itu saya juga ingin menjadi orang yang berhasil seperti lulusan mahasiswa MEC yang telah bekerja. Serta bisa membahagiakan keluarga dan pengasuh saya di Panti Asuhan Baitul Makmur.

Dan alhamdulillah, setelah itu saya pun ikut seleksi MEC lagi ditahun berikutnya dan dinyatakan lolos tes menjadi mahasiswa MEC jurusan Otomotif angkatan 2009-2010.

Pesan saya untuk yang akan ikut seleksi MEC, yakni jangan mudah menyerah walaupun pernah gagal, karena kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan.

Narito

Pondok Pesantren Nasyatul Muta’alimin, Sumenep

Lahir Sumenep 3 Agustus 1987

Jurusan Akuntansi, Angkatan 3 tahun 2008-2009

Kerja di ORYSU Development, Bagian staff Acounting.

Kesan mengikuti seleksi MEC bagi saya, yakni bahwa di MEC itu ternyata menerapkan kedisiplinan yang tinggi dan sangat menarik bagi saya. Karena di MEC tidak mengandalkan nilai akademik yang utama, tetapi moril atau akhlak berperan penting lolos tidaknya menjadi mahasiswa MEC. Sebab di MEC itu menekankan bagaiamana mendidik siswa itu tidak keluar dari rel-rel yang tidak diinginkan oleh MEC. Sebab tesnya meliputi tes keagamaan, tes kesehatan, psikologi, wawancara, hingga tes tentang etika pergaulan.

Pesan saya kalau ingin bisa masuk di MEC, maka kita harus berubah dulu. Yang dulunya sering bolos sekolah, malas-malasan, harus mempunyai komitmen terhadap dirinya sendiri untuk berubah. Karena tidak ada kesuksesan itu kecuali dengan komitmen terhadap dirinya sendiri, dan harus berjanji kepada dirinya sendiri akan mematuhi segala peraturan yang ada di MEC. Kalau niat utamanya di MEC hanya untuk main-main atau ikut-ikutan saja, lebih baik tidak usah mendaftar di MEC. Karena di MEC harus benar-benar niat untuk belajar dan berusaha menjadi sukses.


Bicara Uang

Mendadak Janda

Suatu pagi di sebuah sungai di kabupaten Madiun tahun 80-an. Waridin tengah asyik menusuk nusukkan tombak bertangkai panjangnya ke kedalaman sungai. Ia sedang memburu kura kura sungai atau yang oleh masyarakt setempat disebut bulus. Bila tepat sasaran, bulus akan tersangkut pada mata tombak yang telah didesain khusus. Waridinpun segera menarik tombaknya. Maka, seekor buluspun siap dijual ke pasar.

Bulus adalah kehidupan Waridin. Dengan binatang yang suka menyembunyikan kepala di balik batok kerasnya inilah wahidin menafkahi keluarganya. Tentu saja jangan membayangkan sebuah fasilitas kehidupan mewah. Tetapi, untuk ukuran masyarakat desa, Waridin sudah bisa dipandang eksis dengan profesinya. Ia adalah satu satunya pemburu bulus di desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun kala itu.

Desa Kaliabu Agustus 2009. Pada musim kemarau seperti ini, sungai kering kerontang. Tidak ada aliran air yang pada tahun 80-an menjadi habitat bulus. Bulus pun telah punah. Bagaimana waridin? Tentu sudah tidak lagi berprofesi sebagai pemburu bulus. Segalanya telah berubah. Tidak ada lagi rupiah dari bulus.

♦♦♦♦

Kediri akhir juni 2009. Seorang ibu, sebut saja fulanah, menghampiri saya sesaat setelah selesai menyampaikan materi sebuah seminar. Umurnya kira kira 40-an tahun. Ia bercerita tentang suaminya yang baru meninggal dunia. Orang yang selama ini menjadi penyangga seluruh kebutuhan ekonomi dipanggil-Nya dalam usia yang relatif muda. Usia dimana semua anak anak masih butuh dana pendidikan yang tinggi.

Ditinggal suami tercinta tentulah sebuah kesedihan mendalam. Bertahun tahun terbiasa hidup saling berbagi dengan orang terkasih tiba tiba harus hidup sendiri. Menanggung sendiri suka duka kehidupan dengan beban membesarkan dan mendidik buah hati yang masih kecil kecil. Biaya pendidikan makin mahal. Sekolah berkualitas berlomba lomba menaikkan uang SPP. Tentu tidak mudah.

Beban ekonomi terasa sangat berat. Penyebabnya, selama suaminya masih ada, Fulanah sepenuhnya berkutat dengan urusan dalam. Mencuci baju, memasak, mencuci piring, dan menyapu adalah rutitinitas hidupnya. Pekerjaan domestik. Semua kebutuhan finansial diperoleh dari sang suami. Istri bertugas mengolah pendapatan suami untuk keperluan keluarga sehari hari.

Fulanah minta saran tentang bagaimana harus menghadapi kehidupan selepas kepergian suami tercinta. Membesarkan akan anak anak dan mendidiknya hingga mandiri. Berperan sebagai ibu sekaligus sebagai bapak. Mengasuh sekaligus memenuhi keburuhan nafkah untuk buah hati tercintanya.

♦♦♦♦

Pembacas yang antusias, kisah Waridin si pemburu bulus memberikan gambaran kepada kita tentang perubahan dalam kehidupan. Sesuatu yang selalu terjadi dan terjadi. Tidak ada yang abadi dalam kehidupan kecuali perubahan. Segalanya selalu bergerak. Dan….perubahan perubahan itu tidak jarang mengandung konsekuensi finansial yang besar.

Coba kembali putar memori Anda pada tahun sekitar 80-an. Ketika itu, mesin ketik adalah alat wajib bagi setiap kantor. Keahlian mengetik adalah syarat mutlak bagi seorang calon karyawan. Kini coba Anda lihat kantor kantor manapun. Masihkah Anda menemukan mesin ketik disana? Lihat pula para calon karyawan, masihkah mereka ditanya tentang keahlian mengetik?

Semuanya telah berubah. mesin ketik digantikan oleh komputer. Keahlian mengetik tidak dibutuhkan lagi. Yang dibutuhkan adalah keahlian mengoperasikan komputer. Dulu seorang karyawan mutlak harus bisa mengetik. Kini yang dibutuhkan adalah keahlian komputer. Lalu….kemana pabrik mesin ketik? Kemana larinya para pebisnis mesin ketik? Kemana perginya lembaga lembaga kursus mengetik?

Maka, kematian suami bagi Bu Fulanah sebenarnya adalah bagian dari dinamika kehidupan. Dia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapakah yang terbaik amal perbuatanya. Kandungan ayat kedua dari surat Al Mulk ini menggambarkan kehidupan dan kematian sebagai sebuah dinamika hidup. Kehidupan dan kematian diciptakan-Nya sebagai sebuah ujian.

Ada dua hal yang harus kita perhatikan terhadap perubahan. Yang pertama, mungkin kita sedang menjalani kehidupan yang masih datar. Berada dalam suasana kehidupan seperti yang diarasakan Waridin bulus pada tahun 80-an. Kehidupan normal.

Bila kita berada pada kondisi seperti ini, jangan pernah lengah. Sadarlah bahwa “sungai” Anda bisa mengering. Sadarlahh pohon demi pohon mulai ditebang. Sadarlah bahwa pipa demi pipa ditanam sebagai sumur bor untuk menguras air tanah. Suatu saat mata air akan habis. Sungai akan mengering.

Maka, pada masa seperti ini kita tidak boleh lengah. Ibarat waridin, Anda tidak boleh menghabiskan seluruh pendapatan dari berburu bulus. Sebagian harus menjadi cadangan. Dengan cadangan inilah sewaktu waktu bila perubahan benar benar terjadi, masih ada sisa kekuatan untuk beralih profesi. Uang yang ada bisa menjadi modal bagi perubahan profesi.

Andai saja Anda pengusaha mesin ketik pada tahun 80-an, Anda harus memiliki cadangan yang kemudian bisa Anda gunakan untuk membangun usaha komputer. Keahlian mesin dan modal yang dikumpulkan dari bisnis mesin ketik dimanfaatkan untuk merintis bisnis komputer sebagai peralihan. Bisnis baru.

Yang kedua, mungkin Anda telah dan sedang berada dalam kondisi peralihan. Anda mengalami seperti apa yang dialami Waridin saat sungai mengering. Anda mengalami seperti pengalaman Bu Fulanan saat tiba tiba suami pergi. Mendadak janda. Andai saja telah bersiap mental maupun finasial, Anda akan dengan mudah menghadapi perubahan. Tetapi, bagaimana kalau selama ini sama sekali belum ada persiapan?

Resepnya sederhana. Bersyukur. Dalam kondisi seperti apapun, tentu Anda masih memiliki sesuatu. Dalam kasus bu Fulanah misalnya, ia masih memiliki rumah. Ia juga masih sangat beruntung pernah bersuami. Banyak orang yang sampai seumur bu Fulanan masih belum dikaruniai rumah. Banyak juga yang belum dikaruniai rezeki berupa suami. Maka….jangan mengeluh terhadap apa yang tidak ada. Fokuslah dengan apa yang ada.

Orang yang tidak punya rumah dan sama sekali belum pernah bersuami saja bisa hidup. Bu Fulanah memiliki banyak kelebihan. Rumah bisa dimanfaatkan untuk mulai membuka usaha kecil kecilan. Relasi suami bisa menjadi pasar bagi usaha yang baru dirintis. Anak anak bisa membantu mengurusi usaha yang mulai dirintis.

Usaha apa? Cari yang paling mungkin dan paling disukai. Andai saja bu Fulanah hobi masak, ia bisa mulai usaha kue kecil kecilan. Kantor tempat suami bekerja bisa menjadi pasar yang bagus. Anak anak bisa membantu mengerjakan proses produksi.

Beratkah? Tidak ada permulaan yang ringan. Tetapi, bila dijalani degan hati senang, yang berat pun akan terasa ringan. Hari demi hari terus berjalan. Masa masa permulaan akan segera berlalu. Suatu saat segalanya akan menjadi biasa. Dengan ketekunan dan kerja keras, yang biasa akan berubah menjadi prestasi. Tetapi tentu tidak boleh lupa bahwa segalanya bisa berubah lagi. Dalam kondisi berprestasi, seseorang harus siap terhadap perubahan berikutnya. Anda bagaimana?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar