Rabu, Desember 02, 2009

EDISI DESEMBER 2009

Rihat

Melatih Disiplin Pada Anak Jangan Dengan Paksaan

Herlita Jayadianti SIP

Koord. Divisi Media Kampanye ECCD-RC (Early Childhood Care & Development Resource Center) Yogyakarta

Sebagai orang tua, kita ingin agar anak bisa disiplin, seperti disiplin untuk belajar, beribadah dan sebagainya. Namun, tidak mudah mendidik anak untuk bisa mematuhi semua peraturan orang tuanya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam menanamkan sikap disiplin ke anak. Salah satunya yakni dengan menghindari mendidik disiplin dengan bentuk doktrin atau paksaan.

Seperti yang diungkapkan Herlita Jayadianti SIP, selaku konsultan dan pemerhati anak, bahwa yang perlu dipahami orangtua, cara-cara pengajaran disiplin dengan bentuk paksaan seperti doktrin, malah tidak akan berhasil diterapkan pada anak. “Semakin dilarang akan semakin ditolak anak, semakin dipaksa untuk dilakukan akan semakin tidak dilakukan. Karena itu sudah tipe bawaan anak usia dini,” kata Herlita Jayadianti ketika diwawancarai MAYA pada Senin (2/11).

Jadi menerapkan sikap disiplin pada anak itu seharusnya dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Seperti melalui game atau permainan, maupun contoh-contoh yang bisa dilakukan oleh orang tua. “Hal ini lebih efektif dilakukan dibanding dengan cara seperti doktrin. Dan yang penting orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu. Seperti cara sholat, membuka baju sendiri, mandi sendiri dan lainnya,” ungkap wanita kelahiran Mataram pada 27 Agustus 1977 ini.

Pengajaran disiplin pada anak tentunya bertahap, sama dengan perkembangan moral yang juga bertahap. Yaitu dimulai dari tahapan takut akan hukuman, lalu malu dengan lingkungan sekitar, barulah kemudian tumbuh sebuah kesadaran. Pada orang dewasa, kesadaran itu telah tumbuh, sehingga saat dia melakukan sesuatu, dia menyadari bahwa manfaat kedisiplinan itu akan kembali ke dirinya lagi. “Nah, pada anak usia dini, perkembangan moralnya belum sampai di tahapan itu. Orang tua masih perlu menetapkan batasan nilai, karena pada usia dini batasan perilaku yang dimiliki anak adalah kelakuan baik, kelakuan buruk, reward atau penghargaan dan punishment atau hukuman. Jadi belum atas dasar kesadaran,” jelas wanita yang saat ini bekerja sebagai Koord. Divisi Media Kampanye ECCD-RC (Early Childhood Care & Development Resource Center) Yogyakarta, yakni sebuah lembaga non profit yang bergerak di bidang informasi dan pelayanan anak usia dini.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan orang tua dalam mengajari anak untuk disiplin diantaranya, yang pertama yakni latih dan latih sehingga menjadi kebiasaan. Artinya disiplin pada anak tentu beda dengan orang dewasa. Disiplin pada anak usia dini lebih untuk pengenalan masalah, seperti boleh-tidak, baik-buruk atau jelek-bagus suatu perilaku. Disiplin juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan baik sehingga anak punya keteraturan waktu akan suatu kegiatan. Seperti makan, tidur, istirahat dan lainnya, dengan keteraturan anak jadi mudah memahami dan mendapatkan rasa aman. “Pembentukan disiplin pada anak usia dini tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan dari rutinitas harian yang terpelihara semenjak bayi dan terbawa ke usia selanjutnya. Pada masa bayi, rutinitas bisa terbentuk dengan sendirinya. Sejalan dengan bertambahnya usia, disiplin terbentuk melalui proses belajar atau proses pembiasaan yang diulang-ulang. Misalnya bangun pagi, merapikan tempat tidur, mandi, sarapan dan lainnya. Yakin deh, kalau hal ini diluang-ulang, lama-lama bisa jadi kebiasaan, ada atau tidak ada orangtua anak sudah tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Duta Komisi Penyiaran dan Informasi Daerah DIY tahun 2009 ini.
Langkah yang kedua yaitu konsisten. Artinya selama orang tua menerapkan secara konsisten, maka dengan siapapun anak berhadapan, ia akan berperilaku sama dalam menyikapi suatu aturan. Misalnya, kalau dirumah dibiasakan cuci tangan dan dilakukan dengan konsisten, maka dimanapun dia berada anak akan melakukan hal yang sama. “Nah yang juga penting, agar penegakan disiplin berjalan sesuai harapan sebaiknya kedua orang tua sama-sama konsisten dan sepaham saat menjalankan kesepakatan. Jika anak merengek meminta kelonggaran, hadapi saja dengan sikap yang tegas, karena sekali orang tua luluh menghadapi rengekan anak, bisa jadi besok anak akan mengulang hal sama demi memenuhi keinginannya. Jangan juga ayah lalu membolehkan, tapi ibu tetap pada aturan karena jika ini terjadi anak cenderung akan lebih dekat dengan salah satu orangtuanya. tentunya ini bukan hal yang baik bagi perkembangan anak,” papar alumni
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Jurusan Hubungan Internasional.

Lalu langkah ketiga yaitu mengemas dengan “fun” atau menyenangkan. Menurut Herlita Jayadianti, buang jauh-jauh disiplin dengan memberikan doktrin-doktrin. Cara ini tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan. “Memang sih, anak menjadi nurut, tapi nurutnya karena takut dengan hukuman bukan karena tahu perbuatan yang dilakukan baik. Dan biasanya juga tidak tahan lama, nurutnya jika ada orang tua. Nah giliran orangtuanya lengah, anak mulai deh cari kesempatan untuk melanggar aturan. Daripada keras-kerasan dan sama-sama capek, ada baiknya ganti dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan buat anak,” kata wanita yang menjadi Tim siaran radio Talkshow Pengetahuan seputar ananda kerjasama ECCD-RC jogja dan Radio Anak Jogja sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Bisa juga dengan menggunakan reward atau penghargaan. Pemberian reward tidak harus berupa barang atau uang, tapi dengan memberikan pujian setiap kali anak melakukan kegiatan yang baik. “Anak yang mengikuti latihan disiplin dalam suasana relaks dan merasa senang, akan menganggap bahwa kedisiplinan adalah sebuah kebutuhan dan hidupnya akan nyaman karena segala sesuatunya berjalan dengan teratur,” jelas peraih juara III lomba kreativitas guru tingkat nasional tahun 2008 ini.

Langkah yang keempat yakni jadilah contoh dan teladan bagi anak. Ingat, anak usia dini belajar dari mengamati dan mencontoh. Dan contoh utama untuk ditiru adalah orang tuanya. Anak usia dini lebih mudah membaca apa yang dilakukan orang tua dari pada apa yang diminta orang tua. “Jadi daripada capek-capek menyuruh anak gosok gigi sehabis makan, lebih baik orangtua memberi contoh langsung dengan menyikat gigi sehabis makan. Pasti dech anak akan ikut melakukannya tanpa disuruh,” terang wanita yang aktif menulis artikel tentang pengasuhan dan pendidikan anak di halaman balita Harian Jogja.

Dan langkah yang terakhir adalah menghadapi dan mengajari anak dengan penuh kesabaran. “Hindari ancaman atau hukuman fisik, tapi lebih baik hadapi dengan sabar. Jika anak melanggar aturan yang dibuat bersama, ingatkan dengan baik dan beri pemahaman pada anak,” katanya.(bam)

Konsultasi Kesehatan

Tersiksa Ketika “Datang Bulan”

Assalamu’alikum Wr. Wb.

Bu dr Rahmania yang terhormat. Saya gadis berusia 22 tahun. Sejak awal saya mengalami masalah ketika sedang “datang bulan” atau menstruasi. Biasanya 1 sampai 2 hari sebelum “datang bulan” punggung saya di bagian bawah akan terasa sakit sekali. Bahkan, pernah sampai pingsan karena tidak kuatnya saya menahan rasa sakit tersebut. Dan, ketika tiba hari ketiga keluar gumpalan besar yang disertai sakit pada bagian perut saya. Yang ingin saya tanyakan kepada Bu dr Rahmania:

1. Apakah kondisi demikian itu termasuk normal bagi gadis yang sedang “datang bulan”, mengingat teman-teman saya tidak ada yang mengalami kondisi yang sama dengan saya?

2. Bagaimanakah cara untuk mengatasi dan menghilangkan rasa sakit tersebut?

Tolong saya, Bu dr Rahmania, agar saya tidak tersiksa setiap “datang bulan”. Demikian, atas perhatian dan jawaban Bu dr Rahmania, saya ucapkan terima kasih.

Wassalam,

Wida, Jombang.-

Jawaban

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Mbak Wida yang saya hormati,

Setelah membaca surat yang ditujukan kepada saya melalui MAYA, akan saya jelaskan beberapa hal yang terkait dengan kondisi Mbak Wida.

Dalam istilah medis, kondisi tersebut disebut DYSMENORRHOEA atau juga diistilahkan sebagai nyeri haid. Dysmenorrhoea dibagi menjadi dysmenorrhoea primer dan dysmenorrhoea sekunder. Dysmenorrhoea primer yaitu nyeri haid tanpa disertai kelainan patologis pada rahim atau organ reproduksi. Hal ini dapat terjadi pada wanita sehat. Dysmenorrhoea sekunder yaitu nyeri haid disertai adanya kelainan patologis di dalam atau di luar rahim (misalnya peradangan, tumor, endometriosis, dll). Penyebab paling sering dysmenorrhoea sekunder adalah endometriosis yaitu penyakit yang disebabkan karena ada pertumbuhan jaringan endometrium diluar rongga rahim (endometrium adalah jaringan di dalam rongga rahim).

Adapun yang menentukan penyebab dari dysmenorrhoea adalah dokter kandungan melalui beberapa pemeriksaan, misalnya pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam, pemeriksaan laboraturium, USG, dll.

Penanganan dysmenorrhoea ada beberapa cara, tergantung dari penyebabnya. Pada dysmenorrhoea primer, mineral dan vitamin tertentu dapat mengurangi gejala, seperti vitamin B1, vitamin E, magnesium, dan zinc. Penghilang nyeri yang lazim digunakan pada dysmenorrhoea adalah golongan paracetamol, antalgin, COX – 2 inhibitor, dll. Obat-obat hormonal juga kadang-kadang digunakan setelah berkonsultasi pada dokter kandungan.

Dengan penjelasan tersebut diatas, maka saya akan menjawab pertanyaan anda.

1. Menurut saya kondisi anda kemungkinan tidak normal mengingat hebatnya nyeri yang anda derita dan terjadi setiap bulan, untuk hal tersebut saya anjurkan anda segera bekonsultasi pada dokter kandungan agar penyebabnya dapat segera ditentukan. Bila ternyata dysmenorrhoea primer, saya harapkan anda dapat berlega hati.

2. Penanganan kondisi tersebut, bila ternyata adalah dysmenorrhoea primer, dapat mengkonsumsi vitamin dan mineral tersebut di atas serta minum obat penghilang sakit. Untuk yang sekunder harus ditangani oleh dokter kandungan.

Demikian penjelasan dari saya Mbak Wida, semoga Allah SWT memberi anda kesehatan yang prima.

Subhanallah

Berang-berang, Sang Arsitek Bendungan

Berang-berang adalah hewan yang bisa hidup di dua tempat, yakni di air dan di darat. Meski begitu, hewan yang habitatnya ada di Amerika Utara dan Eropa Utara ini layak dijuluki sang arsitek karena kemampuannya membangun sarang dengan cara membendung aliran sungai. Selain itu, bendungan tersebut juga berfungsi sebagai perlindungan terhadap hewan predator, seperti Coyotes, Serigala dan Beruang.

Dalam membuat sarang, Berang-berang pertama kali harus menghalangi aliran sungai terlebih dahulu, yakni dengan membangun bendungan, seperti yang dilakukan manusia selama ratusan tahun. Sehingga terbentuklah sebuah kolam diam yang cocok untuk tempat membuat sarang. Bendungan tersebut terbuat dari balok kayu dan cabang-cabang pohon yang diperoleh dari areal hutan disekitar sungai. Peralatan yang dipergunakan hewan mamalia ini pun hanyalah cakar dan giginya. Pertama-tama mereka harus menebang pohon dengan cara menggerogotinya lalu mendorong hingga roboh kearah sungai. Setelah itu, memotong pohon tersebut pada bagian cabangnya dan meletakkan didepan kayu besar yang telah dirobohkan sebelumnya. Kemampuan hewan ini dalam menebang pohon dengan giginya rata-rata bisa mencapai 400 pohon pertahun.

Karena selalu menggunakan gigi depannya untuk menggerogoti batang pohon, maka giginya bisa menjadi tumpul atau rusak. Namun, rahang Berang-berang dibuat dengan memperhitungkan semua hal tersebut. Yakni gigi depannya yang tajam selalu tumbuh memanjang, seperti kuku manusia. Demikianlah Allah Yang Maha Besar menciptakan Berang-berang serta giginya yang sesuai untuk kebutuhannya. Begitu pula dengan tubuh berang-berang yang diciptakan agar mudah berenang dan menyelam dalam air, serta kakinya yang berselaput sehingga mudah mengayuh air. Ekornya pun berbentuk seperti dayung raksasa memudahkan berenang dengan nyaman dalam air.

Hewan menyusui ini juga begitu ahli dalam menyusun batang pohon dan cabang-cabangnya, serta memperluas bendungan sedikit-demi sedikit setiap hari. Lama-lama bendungan pun menjadi semakin besar hingga permukaan air yang terbendung di bagian depan semakin tinggi. Kedalamannya bisa mencapai 3 hingga 4 meter. Bendungan itupun bentuknya sama persis dengan buatan manusia. Karena danau bertambah besar, pekerjaan hewan yang bisa menyelam dia air selama 45 menit ini, tidak berhenti sampai disitu. Ia harus melakukan tugas berat dengan penuh kesabaran untuk memperkokoh bendungan tersebut dan memperbaikinya jika ada kerusakan. Bentuk bendungannya pun yang terbaik, yakni cekung sehingga mampu menahan tekanan air. Bentuknya menyerupai bendungan pembangkit listrik tenaga air modern saat ini.

Setelah bendungan besar sudah berdiri, maka terciptalah danau dengan air yang tenang, dan Berang-berang pun siap untuk membuat sarangnya. Sarang tersebut terletak di salah satu sisi danau yang dekat dengan tepian. Dilihat dari atas, sarang tersebut seperti sebuah gundukan kayu yang ditata dengan sangat rapi. Jalan masuk ke sarang pun hanya dibuat satu, yakni dibawah permukaan air. Hewan ini juga membuat terowongan tersembunyi untuk bisa mencapai jalan tersebut. Terowongan ini bermuara pada suatu bilik tersembunyi diatas permukaan air. Disitulah keluarga Berang-berang tinggal di bilik yang kering dan aman itu

Bahkan sejumlah Berang-berang membuat sarangnya hingga dua lantai. Layaknya tempat tinggal manusia, lantai pertama sarang Berang-berang digunakan untuk jalan masuk dan ruang tamu. Lantai dua difungsikan sebagai ruang makan dan ruang tidur. Serta dilengkapi dengan dua jalan masuk bawah air dan satu lubang angin yang terletak dibagian paling atas. Selain nyaman, desain sarang yang luar biasa tersebut juga terlindung dari bahaya hewan predator, seperti Serigala dan Beruang yang merupakan musuh utamanya.

Berang-berang mampu membangun bendungan hebat yang kebanyakkan manusia tidak akan mampu melakukannya tanpa menempuh pendidikan dan pelatihan khusus. Suatu makhluk hidup tidak mungkin memperoleh kemampuan membangun bendungan secara kebetulan. Ia juga tidak dapat menemukan desain bendungan yang akan memiliki daya tahan terkuat dalam menahan tekanan air secara kebetulan. Jelas bahwa ada kekuasaan luar biasa yang memungkinkan Berang-berang melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat baik. Adalah Allah Yang Maha Besar, yang menciptakan semua makhluk hidup dan mengilhami perilaku Berang-berang, juga mengilhaminya untuk membuat bendungan dan sarang yang sempurna. Allah menyatakan Kekuasaan-Nya atas semua makhluk hidup dalam sebuah ayat Alquran: Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada dilangit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar-Ruum, 30:26).(bam dari berbagai sumber)

Kebersamaan Pasuruan

PT Jatim Autocomp Indonesia

Ingin Mencontoh Rasulullah

Jika bersedekah kepada anak-anak yatim yang tidak mampu, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya. Selain itu, juga ingin mencontoh Rasulullah dalam menyayangi anak yatim. Hal inilah yang membuat para karyawan di PT Jatim Autocomp Indonesia yang terletak di Jalan Wonoayu 26A Gempol, Pasuruan, tertarik untuk bergabung menjadi donatur tetap di Yatim Mandiri.

Seperti yang diungkapkan Mohammad Dewo Sulistyo, selaku Supervisor di PT Jatim Autocomp Indonesia, bahwa awalnya sekitar tahun 2008 ia diajak istrinya untuk bersedia membantu anak-anak yatim dengan menjadi donatur di Yatim Mandiri. Karena sang istri telah terlebih dahulu menjadi donatur tetap di Yatim Mandiri.

“Kebetulan juga saat itu saya sedang mencari-cari suatu lembaga yang bisa mengelola ZIS secara amanah dan professional. Kemudian saya membaca Majalah Yatim yang diberikan oleh istri saya, dan ternyata isinya sangat menarik. Selain informasi lengkap mengenai profil dari Yatim Mandiri dan kegiatannya, juga program-programnya juga sangat bagus sekali untuk membantu dan memandirikan anak-anak yatim,” terang Mohammad Dewo Sulistyo ketika diwawancarai MAYA pada Jumat (30/10).

Karena lembaga ini dirasa tepat untuk mengelola ZIS-nya, lantas ia pun mendaftar menjadi donatur di Yatim Mandiri Cabang Sidoarjo karena Yatim Mandiri waktu itu belum buka cabang di Pasuruan. Dari situ, pria kelahiran Lampung pada tanggal 26 Maret 1979 ini mencoba untuk mengajak rekan-rekannya di PT Jatim Autocomp Indonesia untuk ikut pula peduli dan mau membantu anak-anak yatim. “Dan syukur Alhamdulillah, ternyata rekan-rekan meresponnya dengan baik adanya Yatim Mandiri. Terbukti saat itu sudah ada sekitar 10 karyawan PT Jatim Autocomp Indonesia yang langsung mempercayakan penyaluran zakatnya untuk anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri,” kata Mohammad Dewo Sulistyo.

Lantas tak berapa lama kemudian, Yatim Mandiri membuka kantor cabangnya di kota Pasuruan. Dan mulai saat itulah, donasi karyawan di PT Jatim Autocomp Indonesia dialihkan ke Yatim Mandiri Cabang Pasuruan. Lambat laun jumlah donatur Yatim Mandiri diperusahaan tersebut semakin bertambah banyak. Tercatat hingga saat ini sebanyak 54 karyawan di PT Jatim Autocomp Indonesia ini yang terdaftar menjadi donatur tetap. “Cara kami mengajak rekan-rekan di PT Jatim Autocomp Indonesia ini dengan mengirim email tentang profil dan program-program Yatim Mandiri ke teman-teman. Setelah itu, kemudian saya follow up langsung secara lisan ke mereka. Alhamdulillah, biasanya mereka langsung bersedia untuk menjadi donatur bagi anak-anak yatim yang kurang mampu melalui Yatim Mandiri,” jelas pria yang telah bekerja sejak tahun 2003 di PT Jatim Autocomp Indonesia ini.

Selain itu juga dengan hanya memberikan Majalah Yatim untuk sekedar dibaca ke rekan-rekannya yang belum menjadi donatur. Insyaallah mereka akan langsung tertarik menjadi donatur di Yatim Mandiri. “Karena promosi yang ditampilkan di Majalah Yatim itu sangat mengena dan membuat orang menjadi tertarik. Untuk itu peran Majalah Yatim juga sangat besar dalam mengajak orang untuk peduli dan mau membantu anak-anak yatim. Setelah mereka mendaftar ke Yatim Mandiri, biasanya mereka akan mengajak teman-temannya yang lain lagi, jadi istilahnya secara “getok tular”. Makanya jumlah donatur di PT Jatim Autocomp Indonesia ini bisa cepat bertamba,” ujar Mohammad Dewo Sulistyo.

“Alasan mereka tertarik menyantuni anak-anak yatim selain karena pahalanya dilipatgandakan oleh Allah, juga ingin mencontoh sikap Rasulullah. Karena Rasulullah sendiri khan sayang dengan anak yatim, seperti dua tangan yang berdekatan. Jadi kami ingin meneladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Dan lagi, jika kita bersedekah kepada anak-anak yatim maka pahalnya akan berlipat ganda,” katanya. Apalagi Yatim Mandiri adalah lembaga yang benar-benar fokus membantu dan memandirikan anak-anak yatim serta amanah dan professional, maka cocok sudah dengan pilihan rekan-rekannya di PT Jatim Autocomp Indonesia untuk menyalurkan ZIS ke Yatim Mandiri.(bam)


Potret Kediri

Panti Asuhan ‘Aisyiyah, Nganjuk

Tidak Khawatir Putus Sekolah Setelah Dapat BDP

Bantuan Dana Pendidikan Yatim sangat besar manfaatnya bagi anak-anak asuh yang ada dipanti asuhan ‘Aisyiyah, Nganjuk. Mereka menjadi lebih fokus lagi dalam belajar dan tidak perlu lagi merasa khawatir akan putus sekolah karena tidak mempunyai biaya. Sebab bantuan dari Yatim Mandiri Cabang Kediri tersebut, mereka gunakan untuk biaya sekolah dan membeli peralatan sekolah.

Menurut Masbuchin, selaku pengasuh, bahwa panti asuhan ‘Aisyiyah Nganjuk yang beralamat di Jalan RA Kartini No 69 Nganjuk ini, berdiri pada 1 Mei 2008. Awalnya panti ini menampung sekitar 12 anak asuh yang berasal dari daerah Bareng Ngajuk, Lengkong Kertosono, Jombang dan Prambon. “Kemudian lambat laun jumlah anak asuh kami pun semakin bertambah menjadi 25 anak yang di asrama. Sedangkan anak asuh yang non asrama jumlahnya sekitar 75 anak asuh yang rutin mendapat santunan dari panti asuhan Aisyiyah,” kata Masbuchin ketika diwawancarai MAYA pada Kamis (5/11).

Untuk biaya operasional panti asuhan ‘Aisyiyah Nganjuk ini dalam sebulan menghabiskan anggaran sekitar lebih dari Rp 3 Juta. Biaya tersebut sudah termasuk kebutuhan sehari-hari anak asuh dan biaya keperluan operasional panti. “Dana tersebut kami dapatkan dari para donatur panti asuhan Aisyiyah. Donatur tersebut dibagi dua, yakni ada yang donatur tetap dan ada yang donatur tidak tetap. Donatur tidak tetap kami ada yang berasal dari para alumni yang sekarang tinggal di Jakarta, jumlahnya sekitar 23 orang. Syukur Alhamdulillah bantuan tersebut sangat bermanfaat bagi panti asuhan Aisyiyah ini,” jelas pria kelahiran Jombang pada tanggal 25 Juli 1970 ini.

Setelah menjadi mitra Yatim Mandiri Cabang Kediri, panti asuhan ‘Aisyiyah mendapat bantuan guru panti dan Bantuan Dana Pendidikan Yatim Periode ke-XVIII yang diterima pada pertengahan 2009 lalu. Anak yatim yang mendapatkan Bantuan Dana Pendidikan tersebut berjumlah 28 anak yatim tidak mampu yang mayoritas non panti, mereka berasal dari daerah pelosok-pelosok. Dan bantuan dana pendidikan yang telah diterima panti asuhan ‘Aisyiyah Nganjuk ini besarnya lebih dari Rp 6 Juta. “Dana bantuan pendidikan yatim tersebut langsung kami salurkan ke anak-anak untuk digunakan sebagai biaya kebutuhan sekolah, baik itu SPP maupun biaya membeli peralatan sekolah,” terang Masbuchin.

Masih menurut Masbuchin, prestasi belajar anak asuhnya masih belum banyak terlihat disebabkan mereka masih ada rasa kurang tenang dalam belajar. “Hal ini dikarenakan sebelum mendapat bantuan pendidikan dari Yatim Mandiri, anak-anak masih merasa khawatir memikirkan biaya keperluan sekolah. Sebab jika tidak ada biaya maka mereka bisa putus sekolah. Bahkan saya pernah melihat ada anak yang berasal dari daerah pelosok yang harus rela putus sekolah akibat tidak bisa membayar sekolah, sehingga anak tersebut biasanya memutuskan untuk bekerja menjadi kuli. Inikan sungguh kasihan sekali, padahal pendidikan bagi mereka sangat besar sekali artinya untuk bekal masa depan mereka,” kata Masbuchin.

Meskipun bantuan tersebut tidak bisa memenuhi semua kebutuhan sekolah anak-anak asuhnya, tapi sedikit banyak bisa memberikan rasa tenang dan semangat bagi mereka untuk lebih fokus dalam belajar. “Kalau sekarang ya Alhamdulillah, karena sudah ada penunjangnya yakni bantuan dana pendidikan yatim tersebut, jadi insyaallah anak-anak lebih bisa fokus dan tenang lagi untuk belajar tanpa harus khawatir memikirkan biaya kebutuhan sekolah. Dan harapan kedepannya nanti prestasi belajarnya bisa lebih meningkat. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama dan bantuan dari Yatim Mandiri Cabang Kediri, semoga hal ini bisa berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. Dan kalau bisa nilai bantuan tersebut bisa ditambah lagi agar anak asuh kami yang dapat bisa lebih merata,” ujarnya.(bam)

Kisah

Niko Efriadi

Juara I Pencak Silat Tingkat SMP Se-Jabodetabek

Ingin Jadi Atlet Silat Kebanggaan Indonesia

Usianya baru menginjak angka 13 tahun dan telah berstatus yatim, tapi prestasinya sudah terbilang lumayan. Juara I lomba pencak silat tingkat SMP se-Jabodetabek berhasil ia raih. Padahal ia mengaku baru pertama kali mengikuti lomba tersebut. Berikut kisah perjalanan Niko Efriadi yang sejak sekolah dasar membantu ibunya berjualan sayuran hingga memutuskan tinggal di panti asuhan dan kemudian berhasil menjuarai lomba pencak silat.

Anak keenam dari enam bersaudara ini sejak sekolah dasar hidup di Jakarta bersama sang ibu yang bernama Nuriyah. Sedangkan bapaknya, almarhum Tahroni tinggal di suatu kota di Jawa Tengah. Sang bapak hanya sesekali saja menjenguk mereka di Jakarta. Namun, secara tiba-tiba ada kabar duka, bapaknya telah meninggal dunia karena sakit. “Waktu itu perasaan saya sangat sedih sekali, merasakan harus kehilangan bapak dan menjadi anak yatim. Seluruh keluarga kami juga merasa sangat sedih sekali,” kata Niko Efriadi ketika diwawancarai MAYA pada Jumat (6/11).

Praktis, ibunya pun harus banting tulang untuk dapat menuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolahnya. Yakni dengan berjualan sayuran di Pasar Johor Baru, Jakarta Pusat. “Sebagai seorang anak laki-laki saya pun berusaha untuk membantu ibu berjualan di pasar, karena saya kasihan melihatnya harus kerja keras dari dini hari hingga sore berjualan sayuran di pasar. Setelah pulang sekolah biasanya saya langsung membantu ibu di pasar untuk berjualan. Saya ingin membalas ibu yang telah melahirkan saya dan merawat saya hingga saat ini. Meskipun saat itu saya hanya bisa membantunya berjualan sayuran,” kenang pemuda kelahiran Jakarta, 18 April 1996 ini.

Lantas setelah lulus sekolah dasar, Niko Efriadi mempunyai keinginan untuk belajar dan memperdalam agama. “Daripada saya tinggal dirumah dengan lingkungan yang bisa menjerumuskan ke hal-hal yang negative, maka jalan satu-satunya saya harus memperdalam agama. Dengan memperdalam agama, insyaallah saya bisa terhindar dari pergaulan yang negative, dan menjadi orang yang berguna bagi orang tua, masyarakat dan negara,” tekad Niko Efriadi yang sekarang telah duduk dibangku sekolah kelas III MTs Al-Fathiyyah, Jakarta.

Untuk dapat memperdalam pelajaran agama, ia kemudian memutuskan untuk tinggal dipanti asuhan Da’wah Islamiyah yang berlamat di Jalan Pucung No 14 Kelurahan Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. “Maka saya pun minta izin ke ibu untuk bisa tinggal dipanti tersebut. Syukur Alhamdulillah, ibu pun menyetujui dan mendukung keinginan saya tersebut,” ujarnya.

Saat pertama kali tinggal dipanti asuhan, Niko Efriadi mengaku sangat sedih karena harus rela berpisah dengan ibunya. “Meskipun kami tinggal di kota yang sama, tapi saya tidak bisa sering-sering pulang ke rumah. Sebab aturan dipanti ini, memang harus benar-benar konsentrasi di panti. Kalau ingin pulang pun harus mendapat izin terlebih dahulu dari pengasuhnya, itupun juga pada hari-hari tertentu saja dapat izin,” jelas Niko Efriadi.

Namun lambat laun kesedihan tersebut bisa diatasinya dengan berusaha lebih giat lagi dalam belajar agama dan sekolah. Ia bertekad untuk tidak mengecewakan sang ibu yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk tinggal dipanti asuhan. Selama tinggal dipanti asuhan Da’wah Islamiyah, kegiatannya meliputi belajar mengaji, sekolah, bahasa Inggris, bahasa arab, pidato, pramuka, pencak silat dan lainnya. “Untuk mengisi waktu luang dipanti, saya pun berlatih pencak silat bersama para pengasuh di panti. Dan lama-kelamaan saya menjadi tertarik untuk belajar pencak silat lebih serius lagi. Hampir tiap hari saya selalu sempatkan untuk belajar pencak silat,” katanya.

Kemudian saat duduk dikelas I MTs Al-Fathiyyah, ia diberitahu akan ada lomba pencak silat tingkat SMP se-Jabodetabek. “Dalam hati saya ingin mencoba ikut lomba tersebut tapi saya masih ragu dengan kemampuan pencak silat saya. Tapi setelah diyakinkan dan didukung oleh pengasuh di Panti Asuhan Da’wah Islamiyah ini, saya pun akhirnya mantap untuk ikut lomba tersebut. Hampir seminggu sebelum lomba saya mempersiapkan dengan serius belajar pencak silat dibawah bimbingan pengasuh panti. Berbagai tehknik pencak silat saya pelajari dengan tekun dan penuh konsentrasi,” terang Niko Efriadi.

Tapi begitu tiba waktunya lomba, Niko Efriadi malah diliputi rasa grogi karena ia merasa baru pertama kali ini ikut sebuah lomba pencak silat. Apalagi postur tubuh lawan-lawannya terlihat lebih besar dibandingkan dengannya. “Tapi saya mencoba untuk tetap konsentrasi dan berdoa kepada Allah, agar saya bisa mengatasi semua lawan tanding saya,” ujarnya

Ternyata doanya dikabulkan oleh Allah. Niko Efriadi pun bisa mengalahkan lawannya satu-persatu, hingga akhirnya berhak dinobatkan sebagai juara I. “Syukur Alhamdulillah, berkat belajar dengan keras dan berdoa kepada Allah saya bisa meraih juara I. Saya merasa sangat bangga sekali, karena tidak menyangka bisa meraih juara I mengingat ini adalah lomba saya yang pertama. Menjadi juara I saya pun berhak mendapatkan medali, piagam dan piala,” katanya. Kedepannya nanti, pemuda yang mengaku ingin kerja kantoran ini, selain belajar agama ia berniat untuk bisa menjadi atlet pencak silat kebanggaan Indonesia.(bam)

Kebersamaan Jakarta

Trans TV

Terbantu Dengan Adanya Jemput Donasi

Banyak kemudahan yang didapat jika menjadi donatur di Yatim Mandiri. Salah satunya, yakni adanya fasilitas jemput donasi bagi donaturnya. Hal ini dirasa oleh para karyawan di Trans TV yang beralamat di Jalan Kapten Tendean Kavling 12-14 A Mampang Prapatan, Jakarta, sangat membantu mereka ditengah-tengah kesibukkan aktifitas sehari-hari. Untuk itulah mereka pun akhirnya bersedia bergabung menjadi donatur bagi anak-anak yatim melalui Yatim Mandiri.

Seperti yang diungkapkan Dwiyana Meidarini, selaku Staff Sekretariat Produksi Trans TV, bahwa awalnya ia mengenal tentang Yatim Mandiri yakni setelah diberitahu oleh salah satu temannya yang kebetulan telah menjadi donatur. “Teman saya itu memberitahu dan mengajak untuk ikut serta menjadi donatur bagia anak-anak yatim yang kurang mampu melalui Yatim Mandiri,” kata Dwiyana Meidarini ketika diwawancarai MAYA pada Senin (9/11).

Tak hanya itu, Dwiyana Meidarini juga diberi Majalah Yatim oleh temannya tersebut untuk sekedar dibaca. “Setelah saya baca-baca, isinya menurut saya sangat menarik, saya bisa tahu semua informasi dan program-program Yatim Mandiri melalui Majalah Yatim,” ujar wanita kelahiran Jakarta pada tanggal 3 Mei 1979 ini.

Kemudian Dwiyana Meidarini pun mencoba untuk menghubungi Yatim Mandiri Cabang Jakarta, guna memberikan penjelasan yang lebih lengkap lagi tentang profil lembaga ini. “Dan tak lama kemudian, keinginan saya tersebut direspon cepat oleh petugas ZIS Consultant Yatim Mandiri, yang mendatangi kantor saya. Disitu saya diberi penjelasan yang sangat detail mengenai lembaga yang fokus membantu dan memandirikan anak-anak yatim yang kurang mampu tersebut. Dari sinilah saya tertarik untuk turut serta mendaftar menjadi donatur tetap di Yatim mandiri mulai bulan Juni 2009 yang lalu,” terang Dwiyana Meidarini.

Selain itu, ia juga mengaku lebih memilih ke Yatim Mandiri disebabkan karena sudah sejak lama ingin menyalurkan zakat, infaq dan shodaqohnya ke sebuah lembaga yang benar-benar amanah dan professional. “Karena selama ini, biasanya saya hanya menyalurkan ZIS langsung ke masjid. Tapi karena menyalurkan ZIS melalui Yatim Mandiri banyak diberikan kemudahan, yakni adanya fasilitas jemput donasi dan lainnya, maka saya pun bersedia menjadi donatur tetapnya. Selain itu, kebetulan yang datang ke saya pertama kali adalah Yatim Mandiri, sehingga saya pun mempercayakan penyaluran ZIS saya melalui Yatim Mandiri,” ungkapnya.

Bagi Dwiyana Meidarini, fasilitas jemput donasi bagi para donatur Yatim Mandiri juga turut andil membuat ia mendaftar menjadi donatur tetapnya. Karena fasilitas jemput donasi ini sangat memudahkan donatur dalam menyalurkan ZIS, ditengah-tengah kesibukan aktifitas sehari-hari. Kemudian ia pun mencoba untuk mengenalkan dan mengajak rekan-rekannya di Trans TV untuk ikut peduli dan membantu anak-anak yatim dengan menyalurkan sebagian penghasilannya melalui Yatim Mandiri. “Alhamdulillah, ternyata rekan-rekan di Trans TV ini merespon baik adanya Yatim Mandiri. Dan Alhamdulillah meskipun baru dua orang, termasuk saya, yang bersedia mendaftar sebagai donatur tetap di yatim mandiri, tapi saya optimis kedepannya nanti jumlah donatur Yatim mandiri di Trans TV ini akan semakin bertambah banyak,” ujarnya.

Dalam mengajak rekan-rekannya di Trans TV untuk menjadi donatur, Dwiyana Meidarini melakukannya dengan cara memberitahukan secara langsung mengenai Yatim Mandiri ataupun dengan memberikan Majalah Yatim yang tiap bulan rutin diperolehnya. “Kemudian saya juga coba mengajak keluarga saya dirumah untuk ikut menjadi donatur tetap. Dan Alhamdulillah mereka merespon dengan baik ajakan saya tersebut, terutama ayah dan ibu saya. Karena memang ini bertujuan mulia bagi siapa saja yang peduli dan mau membantu anak-anak yatim. sehingga waktu itu selain saya, juga ayah dan ibu saya tercatat menjadi donatur di Yatim Mandiri,” kata Dwiyana Meidarini.(bam)


Bicara Uang

“Terpaksa” Waralaba

Jam sebelas lebih sekian Air Asia sudah mendarat di Ngurah Rai. Terbang dari Bangkok dengan jadual tepat waktu. Karena mau pulang ke Surabaya, saya harus menunggu pesawat lanjutan. Masih cukup lama. Check in belum dibuka. Maka…saya pun mencari cari tempat yang paling pas untuk menunggu.

Setelah mengamati kondisi sekitar…segeralah saya menemukan tempat yang kelihatanya menarik. Sebuah gerai ayam goreng populer dimana mana. Kentucky Fried Chiken alias KFC. Saya pun segera mengambil tempat duduk dan menyalakan lap top. Dengan lap top yang hidup, saya bisa bertahan duduk berjam jam tanpa jenuh sedikitpun. Cocok untuk menunggu pesawat lanjutan yang belum tentu tepat waktu.

Karena saat itu hari pertama ramadhan dan saya sedang berpuasa, sebenarnya saya tidak butuh makanan atau minuman apapun. Saya sudah makan sahur cukup kenyang di bandara Swarnabhumi di Bangkok sesaat sebelum chek in. Masih cukup energi untuk bertahan sampai buka puasa sore harinya. Tetapi saya sungkan. Masak duduk di KFC berjam jam sama sekali tidak membeli sesuatu. Akhirnya saya pun antri di counter untuk memesan dua potong ayam goreng dengan satu botol air minum dalam kemasan. Sekotak ayam goreng dan sebotol air minum saya taruh begitu saja di meja dekat lap top sampai ceck in buka. Saat berada di taksi dari juanda menuju rumah…adzan magrip pun tiba….saatnya menikmati ayam goreng dari ngurah rai.

♦♦♦♦

San Bernardino, California, akhir 1940-an. Dick and Mac McDonald sedang mencari cara untuk mengembangkan restorannya yang tiap tahun telah menghasilkan USD 200 ribu. Dalam pencariannya, ia menemukan sebuah konsep yang sama sekali baru. Konsep yang berbasis kecepatan layanan, volume besar dan harga murah. Jika orang lain pada umumnhya menjual burger dengan harga 30 sen, McDonald menjual dengan harga separohnya saja. Hanya 15 sen.

Strategi baru McDonald tepat. Restonya menjadi makin ramai. Ketika itu, tidak aneh bila 150 an orang antri mendapatkan layanan restoran yang kemudian juga dikenal dengan sebutan McD ini. Kisah tentang keberhasilan ini menyebar ke seantero negeri. Dengan dimuatnya kisah keberhasilan McD pada artikel utama majalah American Restaurant tahun 1952, ada sekitar 300 permintaan waralaba dari seluruh negeri. Neil Fox adalah yang beruntung terpilih sebagai terwaralaba (franchisee) pertama McD. Waralaba pertama ini kemudian menjadi model bagi pengembangan waralaba selanjutnya.

Perkembangan McD pesat sejak Ray Krok, seorang salesman berusia 52 tahun mendirikan McDonald’s System, Inc. Perusahaan besutan Krok ini adalah pemegang ekslusif hak franchisee McD. Sebuah perusahaan dengan motor seorang sales yang tidak pernah berhenti mencari produk unggulan. Bahkan ketika sudah berada pada usia yang kebanyakan orang sudah lebih suka untuk pensiun dan bersantai di rumah.

Menurut laporan keuangan tahunan terakhirnya, McD memiliki 31 967 outlet yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Dari jumlah itu, 6 502 outlet dimiliki sendiri, sedangkan 31 25 465 outlet dioperasikan orang lain dalam bentuk waralaba. Dengan kata lain, dari 6 outlet McD yang diambil secara acak, 5 diantaranya adalah milik orang lain melelui skema waralaba. Satu banding lima.

Bagaimana hasil duitnya? Total omset outlet waralaba adalah sebesar USD 54 Milyar alias sekitar Rp 540 Trilyun. Dari omset yang kira kira seperti seluruh pajak yang diterima pemerintah RI dalam setahun ini, berapa yang mengalir ke kantong McD sebagai pemilik merek? Laporan keuangan 2008 menyebut angka USD 6,9 Milyar alias sekitar Rp 69 Trilyun. Jadi, itulah pendapatan yang diterima McD dari 25 ribu lebih outlet waralabanya di seluruh penjuru dunia.

Mungkin Anda membayangkan betapa enaknya McD. Tidak usah investasi, tidak usah repor repot mengoperasikan. Cukup “tempel merek” dan Rp 69 Trilyun mengalir tiap tahun. Benarkah demikian? Tentu tidak semudah itu. McD harus tetap menjaga agar kualitas dan standar layanan di seluruh outlet itu sama. Tentu ini membutuhkan biaya. Bahkan ketika yang dilakukan hanya sekedar berkunjung saja ke outlet outlet, itupun sudah membutuhkan biaya besar.

Tapi, apa memang waralaba benar benar enak? Coba kita bandingkan dengan outlet yang dimiliki dan dikelolanya sendiri. Dari 6 ribu lebih outlet yang dimiliknya, McD memperoleh pendapatan USD 16,5 Milyar alias Rp 165 Trilyun. Jadi, walaupun outlet sendiri hanya berjumlah 1/5 outlet waralaba, tetapi pendapatannya lebih dari 2 kali lipat pendapatan outlet waralaba. Atau dengan kata lain, pendapatan warlaba adalah sekitar 1/3 dari pendapatan total McD.

♦♦♦♦

Pembaca yang antusias, mungkin Anda kemudian bertanya. Kalau memagn ternyata pendapatan waralaba relatif kecil dibanding pendapatan dari outlet sendiri, mengapa McD tetap mengembangkan outlet waralabanya? Bahkan bukan hanya McD. KFC tempat saya duduk santai menunggu pesawat di Ngurah Rai juga merupakan outlet waralaba. Pemilik mereknya adalah Yum! Brand yang bermarkas di Amerika. Terwaralabanya adalah PT Fast Food Indonesia yang bermarkas di Jakarta.

Tentu ada juga nilai lebihnya. Banyaknya outlet yang menyebar ke seluruh penjuru dunia akan menjadi promosi tersendiri. Semua orang dari berbagai penjuru dunia mengenalnya. Ketika perut lapar di Hougang Plaza Singapura dan mencari tempat makan misalnya, saya tidak mengenal restoran apapun kecuali KFC. Maka, tanpa ragu saya langsung menuju KFC dan memesan ayam goreng. Inilah efek marketing yang saya rasakan dan dikehendaki oleh para pemilik merek restoran waralaba global.

Jadi, di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. Segala sesuatu pasti punya kekurangan dan kelebihan. Kita sebagai manusia begitu. Perusahaan juga begitu. Waralaba sebagai sebagai sebuah metode bisnis pun begitu. Ada kekurangan dan kelebihan.

Pertanyaannya, kapan sebuah sebuah merek bisnis mesti diwaralabakan? Ada beberapa catatan penting. Waralaba pertama hanya boleh dibuka saat Anda sudah pernah membuka beberapa outlet dan tingkat kegagalanya masih bisa ditolerir. Misal saja Anda sudah membuka 10 outlet. Dari outlet tersebut 3 diataranya sepi dan kemudian ditutup. Maka berarti ada risiko kegagalan 30%. Artinya, dari sebuah outlet baru yang Anda dirikan, peluang keberhaslannya adalah 70%. Angka ini harus Anda beritahukan kepada calon terwaralaba agar dia bisa menghitung tentang untung ruginya membuka outlet waralaba merek Anda. Jika menurutnya angka kegagalan 30% ini masih bisa ditolelir, maka transaksi bisa dilanjutkan.

Bagaimana untuk outlet outlet waralaba selanjutnya? Ada baiknya Anda belajar dari Starbucks, raja waralaba warung kopi yang juga dari Amerika. Prinsipnya, Starbucks hanya membuka outlet waralaba bila “terpaksa”. Artinya, jika perusahaan masih punya modal atau bisa pinjam bank dan tidak ada kendala teknis, maka membuka outlet sendiri menjadi prioritas utama. Yang dimaksud kendala teknis ini misalnya adalah aturan undang undang di sebuah negara yang tidak memperbolehkan dibukanya restoran oleh perusahaan asing. Jika demikian, solusinya adalah mencari partner lokal yang bisa membuka outlet dengan sistem sewa merek alias waralaba.

Kendala teknis misalnya juga bisa berasal dari otoritas bandara. Terkadang, otoritas bandara tidak mengijinkan pihak lain membuka restoran di wilayahnya. Jika demikian kondisinya, maka Starbucks akan mempersilakan pihak bandara membuka sendiri gerai kopinya. Starbucks cukup menyewakan mereknya melalui skema waralaba. Waralaba menjadi sarana untuk tetap berkembang dalam kondisi apapun. Majuuuu!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar